
SURABAYA | duta.co – Stablecoin selama ini identik dengan aktivitas jual beli aset crypto. Ketika pasar bergerak volatil, trader dapat memindahkan asetnya ke stablecoin seperti USDT atau USDC tanpa harus langsung keluar ke mata uang fiat.
Nilainya yang dirancang relatif stabil membuat stablecoin memiliki fungsi yang berbeda dibandingkan aset crypto seperti Bitcoin atau Ethereum.
Namun, fungsi tersebut mulai berkembang. Stablecoin perlahan tidak hanya digunakan sebagai tempat menyimpan nilai sementara atau pasangan perdagangan di exchange, tetapi juga mulai masuk ke sistem pembayaran dan penyelesaian transaksi lintas negara.
Perubahan ini terlihat semakin jelas di Asia. Singapura, Hong Kong, dan Jepang mulai membangun kerangka regulasi yang memberikan jalur lebih jelas bagi perusahaan untuk mengembangkan layanan pembayaran dan transfer berbasis stablecoin. Pada saat bersamaan, transaksi stablecoin di kawasan Asia sudah bergerak dalam skala besar.
Kondisi tersebut memperlihatkan perubahan penting dalam penggunaan stablecoin. Aset yang sebelumnya sangat dekat dengan aktivitas trading mulai diuji sebagai bagian dari infrastruktur pembayaran digital. Lantas, bagaimana perubahan ini terjadi dan apa dampaknya bagi ekosistem crypto?
Apa Itu Stablecoin?
Stablecoin adalah aset crypto yang dirancang untuk mempertahankan nilai relatif stabil dengan mengacu pada aset tertentu. Aset acuannya dapat berupa mata uang fiat seperti dolar Amerika Serikat, komoditas, atau mekanisme lain yang digunakan untuk menjaga kestabilan harga.
USDT dan USDC menjadi dua contoh stablecoin berbasis dolar AS yang banyak digunakan dalam ekosistem crypto. Secara sederhana, stablecoin seperti ini berusaha mempertahankan nilai satu token mendekati satu dolar AS.
Karakteristik tersebut membedakan stablecoin dari aset seperti bitcoin, yang harganya bergerak mengikuti permintaan dan penawaran pasar. Bitcoin memiliki mekanisme pasokan sendiri dan tidak dirancang untuk mempertahankan harga pada nilai mata uang tertentu.
Stabilitas inilah yang membuat stablecoin memiliki fungsi penting dalam ekosistem crypto. Pengguna dapat memindahkan nilai melalui blockchain tanpa harus menghadapi volatilitas sebesar yang terjadi pada sebagian aset crypto lainnya.
Stablecoin juga menjadi penghubung antara sistem keuangan konvensional dan blockchain. Nilainya dapat merepresentasikan mata uang fiat, sementara perpindahan tokennya berlangsung melalui jaringan blockchain.
Kombinasi tersebut kemudian membuka penggunaan yang lebih luas. Jika stablecoin dapat memindahkan nilai secara digital dengan cepat dan tetap mempertahankan nilai relatif stabil, teknologi yang sama dapat digunakan bukan hanya untuk perdagangan aset, tetapi juga pembayaran dan settlement.
Dari Aset Trading ke Infrastruktur Pembayaran
Sebelum penggunaan stablecoin berkembang seperti sekarang, salah satu fungsi terbesarnya berada di pasar crypto.
Trader menggunakan stablecoin sebagai pasangan perdagangan dan tempat memindahkan nilai ketika ingin mengurangi eksposur terhadap volatilitas aset tertentu.
Karena itu, stablecoin menjadi bagian penting dalam aktivitas cryptocurrency trading, terutama ketika pengguna ingin tetap berada dalam ekosistem aset digital tanpa langsung mengonversi dana ke mata uang fiat.
Bayangkan seorang trader menjual aset crypto ketika volatilitas meningkat. Alih-alih menarik dana ke rekening bank, trader dapat menukarnya menjadi stablecoin. Dana tersebut kemudian tetap berada dalam ekosistem crypto dan dapat digunakan kembali ketika dibutuhkan.
Namun, karakteristik yang membuat stablecoin berguna bagi trader ternyata juga menarik untuk kebutuhan pembayaran.
Nilainya relatif stabil, dapat dikirim melalui jaringan blockchain, dan dapat digunakan lintas negara selama infrastruktur pendukung tersedia. Hal ini membuat stablecoin berpotensi digunakan sebagai jalur pemindahan nilai antara individu maupun perusahaan.
Perubahan fungsi inilah yang mulai terlihat di Asia. Stablecoin perlahan bergerak dari instrumen yang sangat dekat dengan exchange menuju teknologi yang mulai diuji sebagai bagian dari sistem pembayaran digital.
Asia Mulai Menjadi Tempat Uji Pembayaran Stablecoin
Perkembangan tersebut terlihat dari langkah regulator di beberapa pusat keuangan Asia. Singapura telah memiliki kerangka regulasi stablecoin sejak 2023.
Monetary Authority of Singapore atau MAS menetapkan ketentuan untuk stablecoin tertentu, termasuk persyaratan terkait cadangan, modal, penebusan, dan keterbukaan informasi.
Kerangka seperti ini penting karena penggunaan stablecoin dalam skala pembayaran membutuhkan kejelasan mengenai aset yang menopang token tersebut.
Pengguna perlu mengetahui apakah token benar-benar dapat ditebus dan apakah penerbit memiliki cadangan yang memadai.
Hong Kong mengambil pendekatan serupa melalui Stablecoins Ordinance yang mulai berlaku pada 1 Agustus 2025. Regulasi tersebut membentuk sistem lisensi bagi penerbit stablecoin berbasis fiat.
Perubahan ini menunjukkan pergeseran dari tahap diskusi menuju penerapan regulasi yang lebih konkret. Perusahaan yang ingin menerbitkan stablecoin dalam lingkup aturan tersebut harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan regulator.
Jepang juga memperkuat pengawasan transaksi aset digital. Financial Services Agency memperbarui ketentuan terkait travel rule yang mengharuskan penyedia layanan menyertakan informasi tertentu mengenai pengirim dan penerima dalam transfer yang termasuk cakupan aturan.
Meski pendekatan setiap negara berbeda, arah besarnya terlihat serupa. Regulator mulai membangun batas hukum agar inovasi stablecoin dapat berkembang tanpa melepaskan aspek pengawasan transaksi dan perlindungan pengguna.
Mengapa Asia Menarik untuk Penggunaan Stablecoin?
Asia memiliki karakteristik yang membuat penggunaan stablecoin untuk pembayaran lintas negara menarik untuk diuji.
Aktivitas perdagangan internasional di kawasan ini sangat besar dan melibatkan banyak mata uang. Perusahaan dapat memiliki pemasok di satu negara, pelanggan di negara lain, dan rekening operasional di beberapa yurisdiksi sekaligus.
Sistem seperti itu membuat pembayaran lintas negara menjadi kebutuhan sehari-hari bagi banyak bisnis.
Dalam sistem pembayaran tradisional, transaksi internasional dapat melibatkan sejumlah perantara. Proses settlement juga tidak selalu berlangsung pada waktu yang sama dengan pengiriman instruksi pembayaran.
Stablecoin menawarkan pendekatan berbeda karena nilai dapat dipindahkan melalui blockchain. Jaringan blockchain dapat beroperasi tanpa mengikuti jam operasional bank konvensional dan memungkinkan perpindahan aset digital secara langsung antardompet.
Bagi perusahaan, potensi utamanya bukan sekadar dapat “membayar dengan crypto”. Nilai yang lebih besar justru berada pada kemungkinan membuat proses settlement lebih cepat, lebih mudah diprogram, dan terintegrasi dengan sistem digital lainnya.
Karena itu, pembicaraan mengenai stablecoin di Asia mulai bergeser. Fokusnya bukan lagi hanya mengenai aset crypto, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan untuk memindahkan uang secara lebih efisien.
Transaksi Stablecoin di Asia Sudah Bergerak dalam Skala Besar
Perkembangan regulasi terjadi ketika aktivitas stablecoin sendiri sudah menunjukkan skala yang besar. Dalam laporan yang menjadi dasar perkembangan terbaru ini, Reap, perusahaan asal Hong Kong yang menyediakan layanan kartu berbasis stablecoin, disebut memproses sekitar US$6 miliar per tahun.
Riset business-to-business perusahaan tersebut juga menunjukkan pertumbuhan transaksi stablecoin yang cukup tajam. Arus stablecoin B2B disebut meningkat dari kurang dari US$100 juta per bulan pada awal 2023 menjadi lebih dari US$`3 miliar pada 2025.
Angka tersebut menunjukkan bahwa penggunaan stablecoin tidak hanya berkaitan dengan investor individual.
Bisnis mulai melihat aset ini sebagai salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk memindahkan nilai, khususnya ketika transaksi harus melewati batas negara dan mata uang yang berbeda.
Asia juga disebut sebagai kawasan terbesar dalam arus stablecoin pada 2025, dengan nilai yang dilaporkan mencapai US`$12,5 triliun. Koridor Singapura-China termasuk yang paling aktif.
Besarnya aktivitas tersebut membantu menjelaskan mengapa regulator mulai memberikan perhatian lebih serius. Ketika volume transaksi meningkat, kebutuhan terhadap aturan mengenai penerbit, cadangan, identitas pengguna, dan pengawasan transaksi ikut meningkat.
Stablecoin Tidak Hanya Digunakan untuk Transfer Uang
Melihat volume transaksi stablecoin hanya sebagai jumlah uang yang berpindah dari satu wallet ke wallet lain ternyata dapat memberikan gambaran yang kurang lengkap.
Working paper Bank for International Settlements yang diterbitkan pada Juni 2026 menganalisis 593 juta catatan peristiwa dari sekitar 141 juta transaksi Ethereum sepanjang 2025 yang melibatkan USDT, USDC, dan PYUSD.
Temuannya menunjukkan bahwa sebagian transaksi stablecoin memiliki struktur yang jauh lebih kompleks daripada transfer sederhana.
Sekitar sepertiga transaksi stablecoin yang dianalisis melibatkan beberapa tahapan aktivitas, seperti trading, borrowing, dan settlement. Sekitar 60 persen transfer event dalam penelitian tersebut terjadi melalui operasi bertahap seperti ini.
Temuan tersebut penting karena satu aktivitas ekonomi dapat menghasilkan beberapa perpindahan token di blockchain.
Misalnya, stablecoin dapat berpindah dari wallet menuju smart contract, diteruskan ke protokol lain, kemudian digunakan dalam proses settlement. Jika seluruh perpindahan itu dihitung sebagai transaksi ekonomi yang terpisah, skala penggunaan stablecoin dapat terlihat berbeda dari aktivitas ekonomi sebenarnya.
Karakteristik programmable seperti ini juga menjadi alasan stablecoin menarik sebagai infrastruktur pembayaran. Token tidak hanya dapat dikirim, tetapi juga dapat berinteraksi dengan smart contract dan berbagai aplikasi blockchain lainnya.
Bagaimana Stablecoin Digunakan untuk Pembayaran?
Untuk memahami potensinya sebagai sistem pembayaran, stablecoin dapat dibayangkan sebagai representasi digital dari nilai tertentu yang bergerak melalui blockchain.
Pada stablecoin berbasis fiat, penerbit biasanya mengelola aset cadangan yang digunakan untuk menopang token yang beredar. Ketika token diterbitkan, stablecoin tersebut kemudian dapat dikirim dan diterima melalui jaringan blockchain yang didukung.
Pengguna tidak harus menunggu uang fisik berpindah. Yang berpindah adalah token digital yang merepresentasikan nilai.
Untuk transaksi lintas negara, mekanisme tersebut dapat memberikan jalur alternatif dibandingkan sistem yang membutuhkan beberapa bank koresponden.
Sebuah perusahaan, misalnya, dapat mengirim stablecoin kepada mitra bisnis di negara lain. Penerima kemudian dapat menyimpan stablecoin tersebut, menggunakannya untuk transaksi lain, atau menukarnya kembali ke mata uang lokal melalui penyedia layanan yang mendukung.
Namun, kemudahan teknis tidak otomatis membuat stablecoin dapat digunakan bebas sebagai alat pembayaran di setiap negara.
Penggunaannya tetap bergantung pada regulasi lokal, lisensi penyedia layanan, aturan mengenai penerbit stablecoin, serta ketentuan mengenai aset digital di masing-masing yurisdiksi.
Karena itu, perkembangan stablecoin sebagai pembayaran tidak hanya ditentukan teknologi blockchain. Regulasi menjadi faktor yang sama pentingnya.
Apakah Stablecoin Bisa Menggantikan Sistem Pembayaran Tradisional?
Pertumbuhan stablecoin sering memunculkan pertanyaan apakah teknologi ini pada akhirnya akan menggantikan bank atau sistem pembayaran tradisional. Kemungkinannya tidak sesederhana mengganti satu sistem dengan sistem lainnya.
Infrastruktur pembayaran konvensional telah memiliki jaringan luas, regulasi matang, mekanisme perlindungan konsumen, serta hubungan langsung dengan mata uang resmi.
Stablecoin masih harus berhadapan dengan berbagai persoalan seperti kualitas cadangan, risiko penerbit, keamanan blockchain, kepatuhan, hingga proses konversi kembali ke mata uang fiat.
Namun, stablecoin tidak harus menggantikan seluruh sistem tersebut untuk memberikan dampak.
Teknologi ini dapat berfungsi sebagai jalur settlement tambahan, terutama untuk kebutuhan tertentu seperti pembayaran lintas negara, transaksi antarperusahaan, atau layanan digital yang membutuhkan perpindahan nilai secara cepat.
Skenario seperti inilah yang membuat perkembangan regulasi di Asia menarik untuk diperhatikan. Regulator tidak sekadar mempertanyakan apakah stablecoin harus diperbolehkan, tetapi mulai menentukan bagaimana teknologi tersebut dapat beroperasi di dalam sistem keuangan yang sudah ada.
Jika model ini berhasil, masa depan pembayaran kemungkinan bukan pertarungan antara blockchain dan bank. Keduanya justru dapat semakin terhubung melalui infrastruktur baru yang menggabungkan aset digital, penyedia pembayaran, dan sistem keuangan konvensional.
Regulasi Stablecoin di Asia Belum Bergerak dengan Kecepatan yang Sama
Walaupun Singapura, Hong Kong, dan Jepang menunjukkan perkembangan regulasi, tidak semua negara Asia bergerak pada tahap yang sama.
Korea Selatan menjadi salah satu contohnya. Hingga pertengahan 2026, pembentukan kerangka stablecoin masih menghadapi pembahasan mengenai pihak yang seharusnya memiliki kewenangan menerbitkan stablecoin, termasuk peran bank dan perusahaan fintech.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa adopsi stablecoin di Asia tidak berlangsung melalui satu model yang seragam.
Setiap negara memiliki struktur perbankan, kebijakan moneter, aturan aset digital, dan prioritas pengawasan yang berbeda. Regulasi yang berhasil di satu yurisdiksi belum tentu dapat diterapkan secara identik di negara lainnya.
Persoalan yang dihadapi regulator juga cukup besar. Mereka harus memberikan ruang bagi inovasi sekaligus memastikan stablecoin benar-benar memiliki cadangan yang memadai, dapat ditebus, tidak digunakan untuk aktivitas ilegal, dan tidak menciptakan risiko baru bagi sistem keuangan.
Karena itu, perkembangan stablecoin sebagai infrastruktur pembayaran kemungkinan berlangsung bertahap. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya token yang beredar, tetapi oleh kemampuan teknologi tersebut masuk ke aktivitas ekonomi nyata dengan aturan yang jelas.
Apa Dampaknya bagi Ekosistem Crypto?
Perubahan fungsi stablecoin dari aset trading menuju infrastruktur pembayaran dapat memperluas hubungan antara crypto dan aktivitas ekonomi sehari-hari.
Selama ini, sebagian besar pengguna mengenal crypto melalui investasi dan perdagangan.
Stablecoin membuka use case yang berbeda karena fokusnya bukan pada kenaikan harga token, melainkan pada perpindahan nilai.
Semakin banyak stablecoin digunakan untuk settlement, pembayaran bisnis, dan transaksi lintas negara, semakin besar pula kebutuhan terhadap blockchain yang mampu menangani transaksi tersebut.
Hal ini dapat mendorong perkembangan berbagai lapisan ekosistem, mulai dari wallet, exchange, payment gateway, blockchain, hingga perusahaan yang menyediakan layanan konversi antara stablecoin dan mata uang fiat.
Namun, meningkatnya penggunaan juga membawa risiko baru. Stablecoin tetap memiliki risiko penerbit, depegging, keamanan smart contract, kehilangan akses wallet, hingga perubahan regulasi.
Pengguna karena itu perlu memahami bahwa kata “stable” tidak berarti aset tersebut bebas risiko. Stabilitas harga hanyalah salah satu karakteristik stablecoin, bukan jaminan terhadap seluruh risiko yang melekat pada teknologi dan penerbitnya.
Perkembangan di Asia akhirnya akan menjadi salah satu ujian penting. Jika stablecoin berhasil digunakan dalam aktivitas pembayaran nyata dengan skala besar dan regulasi yang berjalan efektif, posisinya dalam ekosistem crypto dapat berubah jauh melampaui fungsi awalnya sebagai pasangan trading.
Kesimpulan
Stablecoin berkembang dari salah satu instrumen penting dalam perdagangan crypto menjadi teknologi yang mulai diuji untuk memindahkan nilai dalam aktivitas ekonomi nyata.
Singapura, Hong Kong, dan Jepang memperlihatkan bagaimana regulator mulai membangun kerangka yang memungkinkan inovasi tersebut berjalan dengan pengawasan.
Pada saat bersamaan, tingginya arus stablecoin di Asia menunjukkan bahwa penggunaan teknologi ini sudah bergerak lebih cepat daripada sekadar eksperimen kecil.
Perubahan terpentingnya bukan terletak pada pertanyaan apakah orang nantinya akan membayar segala sesuatu menggunakan USDT atau USDC. Hal yang lebih besar justru terjadi di belakang layar, ketika blockchain mulai diuji sebagai jalur settlement bagi bisnis dan layanan pembayaran.
Stablecoin dapat menjadi salah satu penghubung antara dua sistem yang selama ini sering dianggap terpisah: aset digital dan keuangan konvensional.
Keberhasilannya akan sangat bergantung pada kualitas regulasi, keamanan teknologi, transparansi cadangan, serta kemampuan layanan tersebut menyelesaikan kebutuhan pembayaran nyata.
Jika eksperimen di Asia terus berkembang, stablecoin mungkin tidak lagi dikenal terutama sebagai tempat trader memindahkan dana ketika pasar volatil. Fungsinya dapat berkembang menjadi bagian dari infrastruktur yang digunakan untuk mengirim dan menyelesaikan pembayaran lintas negara.
FAQ
1. Apa itu stablecoin dan bagaimana cara kerjanya?
Stablecoin adalah aset crypto yang dirancang untuk mempertahankan nilai relatif stabil dengan mengacu pada aset tertentu, seperti dolar AS. Stablecoin berbasis fiat umumnya menggunakan cadangan aset untuk mendukung token yang diterbitkan sehingga pengguna dapat mengirim representasi nilai tersebut melalui blockchain.
Mekanisme setiap stablecoin dapat berbeda. Karena itu, pengguna perlu memahami penerbit, aset cadangan, jaringan blockchain, serta mekanisme penebusan stablecoin yang digunakan.
2. Apakah stablecoin bisa digunakan sebagai alat pembayaran?
Secara teknologi, stablecoin dapat digunakan untuk memindahkan nilai dan melakukan pembayaran melalui blockchain. Namun, status penggunaannya sebagai alat pembayaran bergantung pada regulasi masing-masing negara.
Beberapa yurisdiksi mulai membuat kerangka khusus untuk stablecoin dan layanan pembayaran berbasis aset digital. Artinya, kemampuan teknis untuk mengirim stablecoin tidak otomatis berarti penggunaannya sebagai alat pembayaran diperbolehkan di semua negara.
3. Mengapa stablecoin banyak digunakan untuk transaksi lintas negara?
Stablecoin dapat dipindahkan melalui blockchain tanpa harus mengikuti seluruh mekanisme transfer bank internasional tradisional. Karakteristik ini membuat stablecoin menarik untuk settlement dan transaksi lintas negara yang membutuhkan perpindahan nilai secara digital.
Meski demikian, biaya, kecepatan, dan efisiensinya tetap bergantung pada blockchain yang digunakan, penyedia layanan, proses konversi fiat, serta regulasi di negara pengirim dan penerima.
4. Apa perbedaan stablecoin dengan Bitcoin?
Perbedaan utamanya terdapat pada tujuan desain dan mekanisme nilai. Stablecoin dirancang agar nilainya relatif stabil terhadap aset acuan tertentu, sedangkan harga Bitcoin terbentuk berdasarkan permintaan dan penawaran di pasar.
Karena karakter tersebut, Bitcoin dan stablecoin dapat memiliki fungsi berbeda. Bitcoin dapat digunakan sebagai aset crypto dengan pasokan terbatas, sementara stablecoin banyak digunakan untuk transfer nilai, pasangan perdagangan, settlement, dan berbagai aktivitas berbasis blockchain.
5. Apakah stablecoin aman digunakan?
Stablecoin tetap memiliki risiko meskipun harganya dirancang stabil. Risiko tersebut dapat berasal dari kualitas cadangan penerbit, kegagalan mempertahankan nilai terhadap aset acuan, keamanan smart contract, jaringan blockchain, penyedia layanan, hingga perubahan regulasi.
Karena itu, keamanan stablecoin tidak cukup dinilai hanya dari kestabilan harganya. Transparansi penerbit, struktur cadangan, mekanisme penebusan, serta keamanan tempat penyimpanan aset juga perlu menjadi pertimbangan. *




































