Oleh Bey Arifin*

DI tengah derasnya arus digitalisasi, manusia modern justru menghadapi paradoks besar. Teknologi berkembang pesat, informasi melimpah tanpa batas, tetapi ketenangan batin semakin langka. Manusia makin terkoneksi secara virtual, namun pada saat yang sama mengalami keterasingan spiritual. Fenomena stres, kecemasan, krisis makna hidup, hingga kehampaan eksistensial menjadi wajah lain dari peradaban modern.

Dalam situasi seperti itu, keberadaan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) menemukan relevansinya. JATMAN bukan sekadar organisasi pengamal thariqah yang identik dengan dzikir dan ritual spiritual semata, melainkan benteng ruhani yang menjaga keseimbangan manusia antara dunia lahir dan dunia batin.

Modernitas sering kali melahirkan manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara spiritual. Ukuran kesuksesan direduksi menjadi materi, popularitas, dan pencapaian duniawi. Akibatnya, banyak manusia kehilangan orientasi hidup. Mereka memiliki akses terhadap segala hal, tetapi tidak mengenal dirinya sendiri. Dalam bahasa tasawuf, manusia modern mengalami keterputusan ruhani dari Allah SWT.

Di sinilah tasawuf memainkan peran penting. Spiritualitas yang diajarkan dalam tradisi thariqah bukan pelarian dari realitas sosial, melainkan proses penjernihan hati agar manusia mampu menjalani kehidupan dengan kesadaran ketuhanan. Dzikir, muraqabah, muhasabah, dan latihan pengendalian nafsu bukan sekadar ritual formal, tetapi metode membangun ketenangan jiwa di tengah kebisingan zaman.

Tradisi spiritual JATMAN memiliki akar kuat dalam khazanah pesantren dan warisan ulama Nusantara. Para ulama terdahulu tidak memisahkan antara spiritualitas dan perjuangan sosial. Mereka mendalami tasawuf, tetapi tetap aktif mengajar, berdakwah, membangun pendidikan, bahkan memimpin perjuangan kebangsaan. Tasawuf ala ulama Nusantara bukan tasawuf yang menjauh dari kehidupan, melainkan tasawuf yang melahirkan akhlak sosial dan tanggung jawab peradaban.

Karena itu, eksistensi JATMAN sesungguhnya tidak boleh dipahami secara sempit sebagai forum ritual kaum tua atau komunitas eksklusif pengamal wirid tertentu. JATMAN memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan wajah spiritual Islam yang ramah, teduh, dan relevan bagi masyarakat modern, khususnya generasi muda.

Generasi Z hari ini tumbuh di tengah banjir informasi dan budaya instan. Mereka akrab dengan media sosial, kecerdasan buatan, dan ruang digital yang bergerak sangat cepat. Namun pada saat yang sama, banyak dari mereka mengalami krisis identitas, kehilangan arah hidup, dan kegelisahan psikologis. Mereka mencari ketenangan, tetapi sering terjebak pada spiritualitas instan yang miskin sanad dan miskin kedalaman.

Dalam konteks itu, JATMAN menghadapi tantangan sekaligus peluang besar. Tasawuf harus mampu diterjemahkan ke dalam bahasa zaman tanpa kehilangan substansi. Dakwah spiritual tidak cukup hanya berlangsung di majelis-majelis konvensional, tetapi juga harus hadir di ruang digital dengan pendekatan yang lebih komunikatif, edukatif, dan menyentuh problem generasi muda.

JATMAN perlu mengambil peran strategis sebagai pusat literasi spiritual masyarakat. Bukan hanya menjaga tradisi dzikir dan sanad thariqah, tetapi juga membangun kesadaran bahwa manusia tidak cukup hanya unggul secara teknologi. Peradaban tanpa spiritualitas hanya akan melahirkan kekosongan dan krisis kemanusiaan.

Pada akhirnya, manusia modern membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan buatan. Mereka membutuhkan hati yang hidup, jiwa yang tenang, dan makna hidup yang membimbing arah peradaban. Di titik inilah spiritualitas JATMAN menemukan urgensinya: menjaga manusia agar tetap menjadi manusia di tengah dunia yang semakin kehilangan ruhnya.

Semoga mencerahkan!

*Bey Arifin adalah Pengurus IKAPETE Jombang
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry