
By Isfandiari MD
….Kerusakan lingkungan terjadi karena kerusakan moral manusia. Dan, pengobatan kerusakan moral itu , tidak bisa tidak harus melibatkan agama….
ANAK muda, santri- non santri komentar tentangnya,”Kiai Aing!” Maaf berkata kasar dalam Sunda, tapi ‘roh’-nya positif, ungkapan pujian dan rasa hormat, role models yang diidamkan banyak orang. Musababnya jelas, pimpinan Pesantren Luhur Al-wasilah Tarogong Garut yang juga Rais Syuriah Pimpinan cabang NU Garut ini tak suka retorika kosong. Lahiran 1958, ia antijargon, persuasif tanpa aksi atau sekadar pemuas spiritual tanpa eksekusi. Baginya, Kyai wajib wajib jadi centre of interest banyak orang. Lelakunya x-tra ordinary, apa yang diistilahkannya sholawat lingkungan, misalnya dipraktikan nyata terasa: berdakwah dengan cangkul, olah tanah, tanam bibit. Ia jadi integrasi dzikir dan konservasi, spiritualitas dan penghijauan, pesantren dan lestari bumi. “Tanam pohon bukan melulu kerja sosial-peduli alam atau proyek ekonomi. Lebih dalam lagi itu dzikir ekologis.” Inti olah pikirnya urgent: keseimbangan alam tentukan kelangsungan hidup, hutan hijau, umat sejahtera. Hutan rusak, imanpun goyah.”Jaga alam bagian dari tanggung jawab iman,” tegas Kyai Garut yang biasa disapa Ajengan Totok ini. Jadi wajar, ia dianggap garda terdepan atas giat reboisasi berbasis pesantren-program pelatihan Pembangunan Desa Mandiri Berbasis Kesalehan Sosial. Gebrakannya mulai 2002, menyasar 14 titik di Garut. Bareng santri dan masyarakat lakukan penanaman hutan gundul seputar Garut. Bukan cuma perintah dan kordinasi, tapi turun langsung, ikut mencakul berkotor tangan dan peluh, aktif jadi motor penggerak. Di pesantren ia menginternalisasikan kecintaan alam dalam kurikulum santri. Cinta alam sepadan dengan cinta kitab kuning, “Jika kitab kuning dibaca dengan mata dan akal, bumi dibaca dengan hati dan tindakan!” demikian tegas alumnus jurusan Tafsir Universitas Ummum Qurra, Mekah ini.
Putra ke sembilan, Kyai Besar tatar Sunda, KH. Anwar Musaddad-Nyai Rd. Atikah binti Kyai Qurthubi terbilang dekat dengan semua kalangan. Tampilannya santai khas Kyai tatar Pasundan dengan ‘bonus’ selaksa ilmu mumpuni. Era sekolah dasar, dua zona dirasakannya, awal di Jogja dan akhir studi di Bandung. Kelar, ia lantas ngaji di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponorogo, perdalam bahasa Inggris dan Arab. Lanjut perdalam hafalan Al-Qur’an di Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan Solo. 1978 hengkang ke Mekkah dalami Tafsir Al-Qur’an di perguruan tinggi Ummul Qurra dan lanjut S2 di tempat itu. Tabiatnya murni kutu buku. Semua cabang ilmu dilahapnya, hobi pelesir ke toko buku, gandrung ikut pameran buku seputaran Mekkah-Jeddah-Riyad. 1993 pulang dari Mekkah lengkap dengan oleh-oleh 4 ton buku yang kini tersimpan rapi sebagai harta berharga di rumahnya kawasan Cileduq Garut dan perpustakaan Pesantren Al-Wasilah. Sebagaian ada disimpan di Sekolah Agama Islam Al-Musaddadiyah.
Jalan panjang keilmuan dan kiprah nyata dilapangan membuatnya jadi tokoh terhormat. Geliatnya disokong pemerintah. Ia didaulat jadi ketua delegasi Indonesia dalam Konfrensi Internasional tentang Lingkungan Hidup karsa World Bank dan WWF di Khatmandu-Nepal, 14-17 November 2000. Santri dan awam pasti penasaran ingin kenal lebih jauh dengan ajengan Totok. Syukurlah tak berapa lama lagi lahir buku Islam Jalan Peradaban, Pemikiran KH. Thonthowi Djauhari Musaddad, disusun sahabat Janur M. Bagus, editor Khusnul Khatima, M.Pd. terbitan Goresan Pena. Alhamdulillah…(*)





































