INOVASI : Kajari Subroto diantara Danrem 082 Kol (Inf) Kolonel ARM Budi Suwanto dan Dandim 0809 Letkol (Kav) Dwi Agung Sutrisno (duta.co/Nanang Priyo)

KEDIRI | duta.co -Melihat sosok Subroto .SH .MH, apalagi dengan jabatan yang disandang sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Kediri, tentunya menjadi ciut nyali bagi masyarakat apalagi yang buta hukum. Keberaniannya menghadapi beragam tekanan bahkan isu miring sekalipun, justru menjadikan lelaki kelahiran Semarang Jawa Tengah semakin merendahkan diri.

“Saya itu justru merasa bahagia berdiskusi dengan masyarakat di pedesaan yang terujung atau terjauh sekalipun dari pusat kota. Hal ini juga saya lakukan saat menjabat di Kapuas. Tentunya kami berusaha mendengarkan keluhan mereka dan sebaliknya memberikan wawasan terkait hukum,” terang Subroto, sebelumnya menjabat Kajari Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah.

Salah satu bentuk mendukung bisa berinteraksi dengan masyarakat, melalui bersepeda. Setiap waktu senggang atau pun mengajak para staf dan karyawan, berkeliling ke sejumlah tempat dengan istilah Sambang Desa.

“Seperti yang saya lakukan di tempat kerja sebelumnya, saat pertama kali menjabat di sini dan hingga sekarang. Bila tidak ada tugas luar kota, setiap Jumat pagi, kami gowes bersama – sama,” terangnya.

Bukan hanya dengan kalangan Korps Adhyaksa, namun bersama sejumlah pejabat pemerintah kabupaten, Polri dan TNI. Kemudian ada satu lagi keahlian yang dimiliknya untuk menunjang tugas dan tanggung jawab sebagai pelayanan masyarakat di bidang penegakkan hukum.

“Bila ada pengaduan masyarakat, kemudian didukung data komplit. Saya tinggal datang, ambil drone terus saya cek dari atas. Kemudian data – data garapan dari kontraktor saya cek di lokasi. Pasti kan semua terlihat, tidak harus urusan diselesaikan di kantor. Bila memang ada kerugian, seperti ada proyek pembangunan di salah satu desa, saya beri pilihan kelebihan dana dikembalikan atau harus diproses hukum,” jelas Kajari Kabupaten Kediri.

Rupanya cara – cara dilakukan Subroto ini terbilang ampuh, bahkan banyak kepala desa yang memohon untuk dijadikan desanya sebagai tempat tujuan gowes. Dengan harapan dijadikan program Sambang Desa, untuk menambah wawasan bagi seluruh perangkat desa dan warganya terkait hukum.

“Saya tidak suka kegaduhan, pernah ada sejumlah LSM datang ke ruang kerja saya dan nyaris membuat saya lepas kontrol. Bila masalah bisa dibicarakan dengan baik kemudian dicarikan solusi. Tidak harus menyampaikan dengan kata – kata kasar dan seakan menekan, dengan meninggalkan etika sopan santun,” tutur Subroto selalu memboyong keluarganya ke tempat dinas.

“Biar dekat sama keluarga, terasa bahagia bisa selalu bertemu, kadang bila sudah berkumpul terpaksa saya tinggalkan handphone demi mereka,” jelas Kajari sambil melempar senyum. (nng)