Sonia siap menjadi mahasiswa PPDS Obgin di FK Unusa. DUTA/ist
SURABAYA | duta.co – Dokter Sonia Elfira Salim, penganut Kristen Protestan. Namun, dia tercatat sebagai mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Obstetri dan Ginekologi (Obgin), Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa)
Bersama sembilan mahasiswa lainnya,  dr Sonia dikukuhkan sebagai mahasiswa baru PPDS, Selasa (7/7/2026) di Kafe Fastron lantai 3, Kampus B, Jemursari Surabaya.

Sebagai penganut Nasrani, Sonia memang terlihat berbeda dari yang lain. Kehadiran Sonia menjadi bukti bahwa Unusa adalah kampus inklusif, terbuka bagi siapa saja tanpa memandang ras, suku dan agama.

“Jadilah Sonia yang apa adanya saat ini, tanpa harus mengubah identitas,” kata Dekan FK, Prof Dr dr Budi Santoso.

Sonia sendiri memilih Unusa karena alasan tersebut. Sonia juga mengaku, Unusa lebih dekat dengan keluarganya di Surabaya. Apalagi, kampusnya juga sudah memiliki dua rumah sakit besar di Surabaya.

“Saya kan sebelumnya kerja di Kalimantan Barat, di sebuah rumah sakit kabupaten. Dengan diterima kuliah di Unusa, jadi bisa dekat keluarga lagi,” katanya.

Perempuan kelahiran 1998 itu  sudah mencari referensi sebelum kuliah di Unusa tentang perkuliahan dan para pengampunya. “Dosennya semua mumpuni, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak kuliah di Unusa,” tegasnya.

Entas Stunting dan Masalah Ibu Hamil

Sonia bercerita, jika memang harus menempuh pendidikan spesialis, dia ingin di bidang obgin. Alasannya sederhana. Pengalaman menjadi dokter di puskesmas di Kalbar membuat tekad itu semakin besar.

“Di sana masih ada anak-anak stunting, kasus kematian ibu hamil. Gizi buruk juga masih ada. Saya ingin mengabdi,” tukasnya.

Semua keputusan Sonia didukung sepenuhnya oleh keluarga. “Memilih prodi hingga memilih kampus, keluarga mendukung. Dan ternyata saya tidak salah pilih,” ungkap Sonia.

Terima 10 Mahasiswa PPDS

Unusa sendiri  menerima 10 mahasiswa angkatan pertama Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) yang terdiri atas Program Studi Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru) serta Obgin.

Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono, menegaskan penyelenggaraan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) bukan hanya merupakan komitmen Unusa dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia kesehatan.

Namun juga amanah yang diberikan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama Kementerian Kesehatan, kepada perguruan tinggi yang memiliki kapasitas dan mutu pendidikan yang telah diakui secara nasional.

Rektor Unusa Prof Tri Yogi Yuwono dan Dekan FK Prof Dr dr Budi Santoso berfoto bersama mahasiswa PPDS usai pelantikan, Selasa (7/7/2026). DUTA/ist
“Kepercayaan untuk menyelenggarakan PPDS merupakan amanah yang harus kami jalankan dengan penuh tanggung jawab. Fakultas Kedokteran Unusa telah meraih akreditasi Unggul, sehingga kami berkewajiban menghadirkan pendidikan dokter spesialis yang berkualitas sekaligus berkontribusi menjawab kebutuhan nasional akan dokter spesialis,” ujar Prof. Tri Yogi Yuwono.

Menurutnya, pembukaan PPDS Paru dan PPDS Obstetri dan Ginekologi merupakan bagian dari upaya mendukung program pemerintah dalam mempercepat pemenuhan dan pemerataan dokter spesialis di Indonesia, terutama di daerah-daerah yang masih mengalami kekurangan tenaga medis.

Karena itu, Unusa tidak hanya berfokus pada kualitas pendidikan, tetapi juga memastikan lulusannya memiliki komitmen untuk kembali mengabdi di daerah asal.

Komitmen tersebut tercermin dari seluruh mahasiswa angkatan pertama yang telah menandatangani surat pernyataan untuk kembali bertugas di instansi atau daerah asal setelah menyelesaikan pendidikan spesialis.

Dengan demikian, penyelenggaraan PPDS di Unusa diharapkan memberikan dampak nyata terhadap pemerataan layanan kesehatan, khususnya di Jawa Timur dan Indonesia secara lebih luas.

Selain itu, Prof. Tri Yogi turut menegaskan bahwa Unusa menolak keras budaya perploncoan atau segala tindak kekerasan dalam dunia pendidikan terutama di lingkungan Unusa.

Mengingat maraknya kasus perploncoan dalam PPDS. Sehingga sebagai angkatan pertama, para mahasiswa PPDS UNUSA memiliki tanggung jawab dalam membangun budaya yang baik.

“Saya tidak akan mentoleransi segala tindakan kekerasan yang terjadi dalam lingkungan UNUSA. Serta sekarang kita juga sudah punya satuan tugas (satgas) PPKPT (Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi, red) yang siaga,” tegasnya.

Dekan Fakultas Kedokteran Unusa, Prof. Budi Santoso, menjelaskan bahwa mahasiswa angkatan pertama berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur, bahkan dari wilayah kepulauan yang selama ini menghadapi tantangan dalam pemenuhan tenaga dokter spesialis.

“Latar belakang mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah menunjukkan bahwa kebutuhan dokter spesialis memang sangat besar. Kami berharap setelah menyelesaikan pendidikan, mereka kembali membawa kompetensi terbaik untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di daerah masing-masing,” ujarnya.

Keberadaan peserta dari Masalembu, salah satu wilayah kepulauan di Jawa Timur, menjadi gambaran bahwa akses terhadap dokter spesialis masih menjadi tantangan di sejumlah daerah. Dengan adanya komitmen untuk kembali bertugas di tempat asal, pendidikan PPDS di UNUSA diharapkan menjadi salah satu solusi nyata dalam pemerataan layanan kesehatan.

Program PPDS Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi serta PPDS Obstetri dan Ginekologi diselenggarakan dengan dukungan rumah sakit pendidikan, dosen, dan dokter pendidik klinis yang berpengalaman. Kurikulum dirancang untuk menghasilkan dokter spesialis yang unggul dalam kompetensi klinis, penelitian, pendidikan, serta memiliki kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat.

Penerimaan angkatan pertama ini menjadi tonggak penting perjalanan Fakultas Kedokteran Unusa dalam mengembangkan pendidikan dokter spesialis. Lebih dari sekadar membuka program pendidikan baru, Unusa menegaskan komitmennya untuk berkontribusi dalam mencetak dokter spesialis yang tidak hanya profesional dan berintegritas, tetapi juga siap kembali mengabdi di daerah, sehingga manfaat pendidikan tinggi dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat Indonesia.

Pembukaan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Unusa juga sejalan dengan agenda nasional percepatan pemenuhan dokter spesialis. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Indonesia saat ini baru mampu menghasilkan sekitar 2.700 dokter spesialis setiap tahun, sementara kebutuhan ideal mencapai sekitar 32.000 dokter spesialis per tahun.

Kondisi tersebut menyebabkan pemerintah memberikan kepercayaan kepada fakultas kedokteran yang memiliki kapasitas dan mutu pendidikan yang baik, termasuk Fakultas Kedokteran Unusa yang telah terakreditasi Unggul, untuk ikut memperluas akses pendidikan dokter spesialis sekaligus mendukung pemerataan layanan kesehatan di Indonesia. ril/lis

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry