MACET :  Suasana kemacetan di jalan utama Kota Malang. (insert) Kabid Lalu Lintas Dishub kota Malang, Agus Mulyadi saat mempresentasikan beberapa alternatif solusi kemacetan yang melanda kota pendidikan ini (duta.co/dedik ahmad)

MALANG  | duta.co – Mengurai kemacetan di kota Malang sewajarnya tidak bisa dibebankan pada Dinas Perhubungan (Dishub) saja. Lantaran persoalan sangat komplek, maka perlu mengurai permasalahan kota metropolitan hingga ada solusi jitu untuk segera diterapkan.

Dan  Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Malang Raya menggelar diskusi publik, mencari solusi kemacetan kota Malang yang dirasa semakin parah.

Menurut Ketua PWI Malang Raya, Ariful Huda menuturkan digagasnya acara ini sebagai salah satu bentuk kepedulian PWI Malang Raya terhadap lingkungan sekitar.

“Hangat dibicarakan saat ini, persoalan tidak hanya kemacetan yang semakin mendera kota tercinta ini, namun banyak jalan berlubang yang dapat pula sebagai sumber kemacetan,” ungkapnya  dalam acara diskusi publik membedah kemacetan di kota Malang, Selasa (19/03/2019) di ruang serbaguna Tekhnik Kimia kampus Institut Tekhnologi Nasional (ITN) Malang. Ia.

Ariful Huda melanjutkan, acara ini juga sebagai wujud sinergitas antara wartawan, kaum milenial yakni mahasiswa, pihak Pemerintah kota Malang, serta akademisi. “Saya harapkan, kedepan tidak ada lagi berita mengenai Malang kota macet,” tambahnya.

Rektor ITN kota Malang, Dr Ir Kustamar MT menyampaikan bahwa hasil diskusi hari ini diharapkan dapat diaplikasikan dalam sebuah solusi terutama bagi dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Dishub.

“Perlu antipasi langkah berimbasnya lancarnya tol baru, namun dikhawatirkan justru kendaraan menumpuk di tengah kota, hingga menjadi kemacetan parah.”

Senada yang disampaikan diatas, Oong Ngadiono Kepala Bidang Angkutan Dishub kota Malang, mengatakan, hampir tiap hari terdapat kurang lebih 150 kendaraan baru roda dua beredar di kota Malang, dan 25 mobil baru mengaspal. Terlebih dengan adanya 57 perguruan tinggi negeri maupun swasta yang hampir 90 % letaknya tertumpuk hanya di satu kawasan. Kapasitas jalan tetap namun volume kendaraan yang melonjak fantastis.

“Hal tersebut diperparah lagi karena karakteristik segmentasi masyarakat kota Malang yang lebih nyaman memilih roda dua sebagai transportasi utama, karena jalan di kota ini termasuk jalur pendek.”

Dekan Tekhnik Sipil dan Perencanaan ITN Malang,  Ir Nusa Sebahyang MT, yang juga merupakan pakar transportasi nasional memaparkan, solusi dari permasalahan ini salah satunya titik persimpangan yang perlu penataan ulang, namun jika sudah  mentok, pemecahan masalahnya dengan membangun beberapa fly over atau underpass.

Nusa Sebayang juga memberikan alternatif solusi yang lain, berupa merubah prilaku masyarakat yang gemar naik motor beralih ke moda transportasi kendaraan umum yang terintegrasi semua. “Batasan tempat parkir juga dapat dijadikan solusi, salah satunya dengan menaikan harga parkir yang sengaja dibuat mahal. Ini sebagai upaya menggiring masyarakat ke moda transportasi massal.” urainya.

Lontaran solusi juga dikemukakan Agus Mulyadi selaku Kabid Lalin, Dishub kota Malang yang melakukan penelitian bahwa seharusnya jalan nasional tidak membelah di tengah kota.

“Solusinya, perlu adanya jalan lingkar Timur dan lingkar Barat. Dimana semua kendaraan yang tidak berkepentingan dan terlebih kendaraan berat tidak diperkenankan masuk kota Malang.” tutupnya. dah

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.