JAKARTA | duta.co – Beda pandangan di tubuh pemerintahan soal adanya gerakan rencana makar dan plot membunuh 4 pejabat, terus berlanjut. Beda pandangan itu antara lain terjadi antara Menhan Ryamizard Ryacudu dan Menko Polhukam Wiranto.
Begitu pula di kalangan purnawirawan TNI. Mantan Kepala Badan Intelijen ABRI Mayjen TNI (Purn) Zacky Anwar Makarim misalnya turut hadir menyampaikan pembelaan untuk mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus, Mayor Jenderal TNI (Purn) Soenarko yang dituduh mengincar empat pejabat.
Dia  mengaku khawatir dengan keamanan Indonesia ke depan pasca-penangkapan mantan Komandan Panglima Daerah Militer Iskandar Muda itu. Terlebih, sebelumnya ia mendapat kunjungan dari para purnawirawan Kopassus.
“Ratusan jumlahnya, apakah itu dari Serang, Batujajar, apakah itu dari Kandang Menjagan Solo, mereka mendesak datang menyampaikan kerisauan yang ada. Ingat ada ribuan pensiunan Kopassus,” tutur Zacky dalam konferensi pers bersama tim kuasa hukum Soenarko dan sejumlah purnawirawaan di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta, Jumat (31/5/2019).
Ia melihat situasi ini tidak bagus untuk perkembangan situasi keamanan nasional ke depan nantinya. “Kami menghargai jalur hukum yang ada,” imbuhnya.
Zacky mengingatkan, Soenarko punya jasa sangat besar dan mendapat pujian dari dunia internasional. Ia prihatin, kini Soenarko justru dituduh ingin makar.
“Jangan sampai kita mengalami perang saudara karena persoalan ini. Sekarang Pak Sunarko yang merupakan seorang patriot dituduh makar,” katanya.
Mantan Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen (Purn) Johannes Suryo Prabowo juga tidak terima mantan Danjen Kopassus, Mayjen TNI (Purn) Soenarko dituduh makar.
Bagi purnawirawan, tuduhan makar itu tak ubahnya hinaan. “Jangan hina kami para purnawirawan dengan makar. Kami punya apa? Saat ini persis menjelang 1965. Para ulama ditangkapi, dibunuh, dan muncul Dewan Jenderal yang ujungnya para jenderal Angkatan Darat dibunuh dan dibuang di lubang buaya,” ujar Suryo Prabowo dalam konferensi pers yang digelar Advokat Senopati-08 di Hotel Century, Senayan, Jakarta, Jumat (31/5).

Dia meminta media jangan mudah menuduh dengan mengutip pernyataan orang.

“Saya sakit hati dengan pemberitaan soal penangkapan Pak Sunarko,” tegasnya.

Menurut dia, tidak ada jenderal yang pengalaman tempurnya menyamai Soenarko. Sekalipun itu Menkopolhukam, Wiranto.

“Mungkin kakinya (Menkopolhukam) belum pernah berlumpur,” cetusnya.

Suryo Prabowo membantah kabar Soenarko ditangkap di bandara, apalagi menggunakan senjata rakitan.

“Boleh Pak Narko dibilang bersalah tetapi jangan dibilang makar. Jangan mudah menggunakan kata makar. Jangan sekali sekali,” ucapnya.

Pemberitaan mengenai kasus Soenarko jelas dinilainya bukan hanya menyakiti hati keluarga bersangkutan, tapi juga korps baret merah.

“Kalian keji! Supaya anda tahu, Soenarko punya anak tiga, belum sekali pun ia tunggui kelahirannya,” kata Suryo Prabowo.

Soenarko terus bergelut membela negara hingga tak punya waktu untuk keluarganya sendiri.

“Saya kira dengan Menkopolhukam pun lebih banyak jam terbangnya Soenarko berjuang membela negara di medan tempur,” katanya lagi.

Soenarko kini ditahan di Rutan Guntur bersama Praka BP yang juga ditangkap atas kasus serupa.

Soenarko diduga melanggar UU 1/1946 Pasal 110 jo 108 KUHP, dan UU 1/1946 Pasal 163 bis Jo 416 mengenai keamanan negara atau makar. (rmol/wis)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.