Reizano Amri Rasyid, ST., MMT – Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis

Pertumbuhan media sosial yang beraneka ragam menghasilkan tokoh-tokoh popular pula, diantaranya adalah vlogger dan selebgram, sebutan bagi mereka para artis sosmed yang eksis di youtube maupun di instagram.

Setiap platform media sosial akan mempunyai selebritas masing-masing dengan berbagai konten menarik pula. Semakin popular seseorang di media sosial, maka semakin kuat pula impactnya di dunia maya. Bahkan sekarang tidak sedikit selebritas yang mulai “redup” menggunakan sosial media ini sebagai bentuk ke eksistensian mereka.

Maka tak heran, kehadiran sosial media juga turut menjadi wadah lahirnya influencer-influencer baru yang semakin memperkaya referensi orang-orang biasa yang sukses.

Media sosial yang diperuntukkan secara cuma-cuma untuk seluruh umat manusia yang sanggup menggunakannya tanpa disadari banyak memunculkan sosok-sosok popular yang diikuti dan disukai banyak penggunanya.

Sehingga tak pelak banyak anggapan bahwa media sosial sekarang dianggap cara instant untuk mempromosikan diri demi mencapai impian menjadi public figure ataupun just becoming a temporary artist tanpa harus melewati sebuah proses.

Motto media sosial, “famous with your own way” menjadikan siapapun bisa menjadi terkenal.

Tanpa ada aturan, standard, pakem, hingga arahan tertentu untuk melalui proses kesuksesan, jadi prinsipnya semua orang bisa berhasil di sosial media.

Tergantung semenarik atau sesensasional konten yang dibagikan, atau salah satunya dengan cara social climber.

Apa social climber itu?

Pada tahun 1954, Leon Festinger memperkenalkan teori perbandingan sosial. Dalam teori itu kita sering membandingkan diri kita sendiri dengan orang lain yang lebih baik dari kita. Satu sisi mampu memotivasi kita menjadi lebih baik disebut dengan upword comparison.

Namun tak jarang malah jadi bumerang bagi diri kita sendiri andai tak terwujud seperti yang diidolakan.

Akan muncul perasaan negatif dari dalam benak yang disebut dengan downword comparison. Akibatnya banyak orang yang mengambil jalan pintas seperti kaum panjat sosial.

Istilah panjat sosial atau social climber diberikan kepada mereka yang bagaikan benalu ingin menumpang ketenaran seorang public figure.

Termasuk mereka yang ingin memiliki gaya hidup orang terkenal. Gaya hidup mewah namun tak sesuai dengan kantong. Menerapkan gaya hidup orang kaya bagaikan selebritis yang lagi naik daun.

Young Lex adalah satu dari beberapa contoh orang yang dianggap berhasil dengan cara ini (social climber).

Rapper yang awalnya sempat bekerja sebagai Staff Gudang dan Office Boy dikenal bukan karena karyanya di dunia musik, tetapi karena beberapa kontroversi yang dibuatnya di sosial media.

Young Lex memulai karir di kancah rap Indonesia dengan lirik lagu yang dianggap kurang pantas, lalu sempat berduet dan menjalin hubungan dengan selebgram kontroversi Awkarin,hingga perang dingin dengan rapper kawakan dan senior Indonesia Iwa. K.

Dalam sebuah wawancara di sebuah media digital, Young Lex memberikan statement yang mengundang perhatian.

Young Lex menyatakan bahwa Iwa K menjadi legend bukan karena kemampuan rapnya, tapi karena memang saat itu tren hip hop sedang muncul di Indonesia.

Pihak Young Lex mengklarifikasi kepada Iwa K tentang statement tersebut dan menyebut statement Young Lex “dipelintir” oleh pihak media.

Namun Iwa K merasa Young Lex berbohong karena bukti sudah jelas. Iwa K akhirnya tak ingin terlalu mempermasalahkan kasus tersebut.

Hal inilah yang kemudian mulai mengatrol nama Young Lex di kancah musik rap Indonesia.

Atau kasus yang baru – baru ini sangat ramai diperbincangkan di sosial media dan infotainment adalah hubungan artis dangdut Dewi Perssik dan salah satu keponakannya bernama Rosa Meldianti yang kini tengah menjadi sorotan.

Berawal dari saling sindir di sosial media yang berujung pada pelaporan Dewi Perssik ke polisi atas fitnah dan nama baik terhadap dirinya.

Hingga Pengacara kontroversi Farhad Abbas yang bersedia menjadi kuasa hukum Rosa seakan menjadi sebuah cerita sinetron yang sangat menarik untuk ditunggu akhirnya.

 Alhasil? Rosa Meldianti yang notabene keponakan kandung Depe tersebut bukan malah menjadi terpuruk, melainkan sebaliknya. Kini Rosa bak artis baru yang sedang popular dan semakin “laris”.

 Wajahnya kerap kali muncul menghiasi televisi dan diundang di beberapa konten program gosip .

Tidak berhenti hanya disitu, berita tentang dirinya di instagram yang mulai banyak dicari karena banyak menjadi objek bully para haters dan gunjingan dari para nitizen maha benar di salah satu akun gosip instagram yang sedang hits (lambe turah).

Get rich or die tryin

Membaca dari contoh kasus yang terjadi, mungkin banyak dari kita kurang setuju atau bahkan membenci cara yang telah dilakukan oleh Young Lex maupun Rosa Meldianti demi mencapai sebuah tujuan.

Tapi apabila kira berbicara dari sudut pandang yang lain (marketing), cara seperti ini sah – sah saja dilakukan. Kontroversi yang muncul merupakan tujuan utama mereka dalam “berpromosi”, dengan begitu para nitizen akan sibuk dan berlomba – lomba memberikan komentar.

Tanpa disadari perhatian dan komentar seperti inilah yang dibutuhkan sebagai wadah promosi gratis hingga akhirnya menjadikan mereka seperti sekarang ini.

Menyadur dari prinsip ekonomi yang kita kenal yaitu pengorbanan tertentu untuk memperoleh hasil semaksimal mungkin, mungkin cara ini dianggap sepadan dengan segala resiko dan akibat yang didapatkan.

Karena banyak cara menuju Roma dan langit adalah batasnya, maka yakinlah usaha tidak akan mengkhianati sebuah hasil. Apakah anda sependapat? *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.