SIDOARJO | duta.co – Forkopimda Sidoarjo menggelar rapat penerapan kembali Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Pendopo Delta Wibawa, Kamis (1/7/21). Hadir juga Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo, Sekretaris Daerah, Asisten Tata Pemerintahan dan Kesra, Kabag Kesra, FKUB, MUI dan pemuka agama.

Hasilnya? Siap menjalankan PPKM Darurat, mendukung penuh kebijakan pusat. Hanya soal penutupan sementara tempat ibadah, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) meminta jalan tengah. Kebijakan yang disampaikan FKUB: Ikhtiar dhohir jangan sampai mengalahkan ikhtiar batin.

“Intronya pertama, kami tidak meninggalkan Tuhan Yang Maha Esa, dalam kesepakatan ini. Kedua tidak berhadapan atau melawan instruksi dari pusat. Kami cari jalan tengah yang bagus bagaimana untuk Kabupaten Sidoarjo,” demikian disampaikan Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor.

Sidoarjo memang tidak boleh lengah. Ia menjadi salah satu daerah di Jatim yang akan menerapkan PPKM Darurat. Bahkan Sidoarjo masuk level 4, di mana kasus COVID-19 masih tinggi. “Implikasi dari daerah yang masuk level empat, perkantoran 100 persen WFH, kerja dari rumah untuk nonesensial sektor. Kegiatan belajar mengajar wajib daring, sudah kami eksekusikan,” jelas Muhdlor dalam rilisnya.

Untuk sektor esensial, masuk 50 persen dengan prokes. Misalnya di tempat penjualan yang berkenaan dengan kebutuhan primer seperti pasar, toko sembako dan lain sebagainya. Sektor kritikal tetap masuk 100 persen dengan prokes ketat seperti rumah sakit. Kemudian pusat perbelanjaan atau mal kapasitasnya 25 persen dengan batas buka sampai pukul 17.00 WIB

“Restoran kapasitas 25 persen sampai pukul 17.00 WIB, kemudian sampai pukul 20.00 WIB dengan take away. Untuk sektor konstruksi 100 persen buka dengan prokes,” jelas Muhdlor sebagaimana dikutip detik.com.

Selanjutnya, kegiatan seni budaya tutup semua, transportasi maksimal 70 persen, resepsi pernikahan tetap boleh tetapi dengan maksimal kapasitas 50 orang. Terkait tempat ibadah yang diusulkan 100 persen untuk ditutup selama PPKM Darurat, mendapat penolakan. Beberapa pihak tetap meminta dibuka dengan mengedepankan kearifan lokal.

Pimpinan MUI, Muhammadiyah, LDII, Gereja meminta tetap menjalankan ibadah dengan komitmen kuat dan prokes. Dari pihak gereja sudah seminggu yang lalu ibadah dilakukan secara streaming. Di gereja hanya ada lima orang saja termasuk pendeta dan liturgy. Gus Muhdlor pun sepakat dengan hal itu.

Masih menurut putra KH Agoes Ali Masyhuri itu, tempat ibadah, usulan dari Kementerian Koordinasi Maritim dan Investasi dan Investasi ada usulan agar 100% tempat ibadah sementara diliburkan. “Para tokoh agama punya pandangan lain, tetapi kita harus mencari jalan keluar, untuk menghasilkan maklumat sebagai komitmen bersama,” tegasnya.

Dari FKUB Kabupaten Sidoarjo, tanpa mengurangi nilai dari keputusan pemerintah pusat mengusulkan jalan tengah. “Kebijakan yang diambil oleh FKUB, ikhtiar dhohir jangan mengalahkan ikhtiar batin,” ucap H Kirom dari FKUB.

Harapannya, lanjut Kirom, instruksi tetap jalan, cuma ada kebijakan terkait kearifan lokal, Sidoarjo itu terbaik dari tiga daerah yang ditunjuk tahun lalu menjadi salah satu project melihat seberapa besar covid yang ada di 3 daerah.

Maka kesimpulan yang sangat diharapkan, jangan menutup masjid, ini sudah luar biasa, tetap kondisional, bagaimanapun sikap masyarakat Sidoarjo tidak bisa dipisahkan dengan fasilitas ibadah. “Ibadah tetap dijalankan dengan komitmen seperti tahun lalu,” terangnya. (net)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry