
SURABAYA | duta.co – Nahdlatul Ulama (NU), insyaAllah tidak akan larut dalam konflik kepentingan. “Hari ini, kabar yang kita baca (tentang PBNU red) mungkin menyesakkan dada. Tetapi, yakinlah, bahwa NU memiliki tradisi kuat untuk tidak rebutan jabatan,” demikian disampaikan Gus Ali Azhar, SE, dzurriyah (anak cucu) keluarga besar Ponpes Al-Hamdaniyah, Siwalanpanji, Sidoarjo, kepada duta.co, Sabtu (22/11/25).

Menurut Gus Ali, tidak lazim di NU itu ada pecat-memecat. Sampai detik ini, katanya, sebagai nahdliyin munculnya kabar Risalah Rais Am PBNU (KH Miftachul Akhyar) yang isinya pemecatan — kalau tidak mau mundur sampai 3×24 jam (Ahad 23 November 25) besok — adalah kabar sumir. “Saya belum yakin. Apalagi katanya rapatnya di Hotel Aston City, Jakarta. Budaya NU itu rapat di pesantren atau Kantor PBNU,” tegasnya.
Ditanya soal kabar digelarnya rapat lanjutan, Gus Ali mengaku mendengar itu. “Saya juga mendengar, bahwa hari ini atau besok (Ahad) akan ada pernyataan resmi soal isu pemakzulan itu. Sebagai nahdliyin, tentu berharap agar masalah ini bisa selesai dengan tabayun, itu budaya kebanggan kita. Kami yakin selama ini tidak ada tabayun, sehingga menjadi runyam,” tegasnya.

Pengusaha porperti ini juga yakin NU akan menemukan solusi jitunya. “Ambil hikmahnya. Masih ada jalan ampuh untuk menuntaskan konflik ini. Apa itu? Kembalikan NU kepada dzurriyah, saya yakin akan selesai. Ada Kiai Haji Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, Ketua PWNU Jatim. Beliau figur pemersatu,” pungkasnya. (mky)





































