Keterangan foto youtube

SURABAYA | duta.co – Sekjen Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) Jatim, Ustaz H Muhammad Yunus, mengapresiasi kerja aparat, baik polisi mau pun TNI yang sigap melawan merebaknya paham komunis. Penyitaan 108 buah buku PKI dari dua toko buku di Pare, Kediri, Jawa Timur, membuktikan paham komunis terus bergerak, dan kini mereka mendapat angin segar.

“Saya mengucapkan terima kasih atas kesigapan aparat dalam merespon laporan masyarakat terkait adanya gejala kebangkitan ajaran komunis yang bermetamorfosis dalam bentuk bentuk baru,” demikian disampaikan Ustaz HM Yunus kepada duta.co, Senin (31/12/2018).

Menurutnya, komunisme, marxisme dan leninisme adalah ideologi terlarang di Indonesia. Komunisme adalah bahaya laten, kalau tidak segera disikapi akan muncul kembali ke permukaan. “Potensi kebangkitan itu sangat nyata dinegeri ini. Oleh karena itu, kesigapan aparat dalam merespon ancaman bahaya ideologi tersebut harus dikuatkan, termasuk kepedulian masyarakat. Terima kasih kepada polisi dan TNI,” tegasnya.

Hal yang sama disampaikan H Agus Solachul A’am Wahib, cucu pendiri NU, KH Wahab Chasbullah. Menurut Gus A’am, PKI saat ini sudah sangat percaya diri, mampu menguasai pos-pos penting di pemerintahan.

Bahkan, kini, kader PKI merasa berhasil menarik NU, musuh bebuyutannya dalam ring pertarungan kekuasaan di capres nomer satu. “Sekarang, lihat, yang kerja keras di arus bawah adalah pengurus NU. Saat petahana menang, NU bisa saja dihabisi, NU bisa dibunuh karakter keislamannya, sehingga dijauhi umat, kiai bisa dibenci warga muslim sendiri, gegara ikutan politik,” tegasnya.

Ketua Barisan Kiai dan Santri Nahdliyin (BKSN), H Agus Solachul A’am Wahib

Gus A’am pun mengapresiasi aparat polisi maupun TNI yang masih peduli dengan pembasmian komunisme. Sejumlah personil TNI dari Komando Distrik Militer 0809 Kediri bergerak masuk ke toko buku Q Ageng di Jalan Brawijaya Nomor 67, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.

Buku-buku PKI Diwaspadai

Setelah basa-basi diantara mereka menginterograsi Iin Nurohmah, sang petugas toko. “Saya tidak tahu,” ucap Iin kepada petugas soal asal usul buku-buku yang dijual di tokonya, Rabu (26/12) seperti diberitakan rmol.co.

Tak puas, petugas lantas mencari tahu siapa pemilik toko. Iin menjelaskan tokoh yang dijaganya milik Yudi. Yudi yang tinggal di Surabaya hanya malam minggu saja datang ke toko. Saat personil TNI mendatangi toko, Yudi sedang berada di Jambi.

“Buku-buku itu datang sekitar satu minggu yang lalu,” ucap wanita yang menurut data di KTP-nya tinggal di Kecamatan Badas itu.

Iin tidak kaget. Sebab sebelumnya, diceritakan dia, tiga petugas dari Polres Kediri juga datang mengecek koleksi-koleksi buku yang dijual di toko. Polisi yang datang meminta agar buku-buku yang mengulas soal PKI dan komunisme ditarik dari rak. “Mereka minta tidak dijual. Waktu itu dibawa dua buah buku untuk dijadikan bukti,” kata Iin lagi.

Informasi lainnya diperoleh dari Rosita, istri Yudi. Petugas menginterograsinya lewat telepon. “Buku-buku itu dibeli suami saya dari obral pameran Gramedia di Jakarta,” ucap Rosita di ujung telepon.

Keterangan foto rmol.co

Yudi punya dua toko buku di Jalan Brawijaya. Namanya juga sama: Q Agen. Jaraknya tidak terlalu jauh. Toko yang satu menempati nomor 67, satunya lagi nomor 24. Buku-buku soal PKI dijajakan di dua toko itu.

Selang 45 menit kemudian, petugas Kodim 0809 Kediri melakukan koordinasi dengan anggota Intelkam Polres Kediri, Situ Hadi. Dia menyarankan buku-buku di dua toko ditarik untuk sementara. Total ada 108 buku yang disita.

Di toko Q Ageng 67 ada 33 buah buku yang disita. Masing-masing: enam buah buku karya filsafat dengan empat judul berbeda; enam buku berjudul Menempuh Jalan Rakyat karya DN Aidi; lima buku berjudul Manifesto Partai Komunis; tujuh buku berjudul Orang-Orang Di Persimpangan Kiri Jalan; enam buku Benturan NU PKI 1948 -1965; dan lima buku berjudul Gerakan 30 Sept 1965 Kesaksian Letkol PNB Heru Atmojo.

Adapun di Toko Q Ageng 24, buku yang disita sebanyak 75. Terdiri dari tujuh buku karya filsafat dengan empat judul berbeda; buku berjudul Orang-Orang Di Persimpangan Kiri Jalan sebanyak enam buah, tujuh buku berjudul “Nasionalisme, Islamisme, Marxisme, lima buku berjudul Oposisi Rakyat, satu buku berjudul Gerakan 30 September 1965, Catatan Perjuangan 1946-1948 sebanyak 10 buku, Kontradiksi Mao Tse Sung 17 buku, Negara Madiun delapan buku, Menempuh Jalan Rakyat tujuh buku, Islam Sontoloyo tujuh buku, Sukarno Orang Kiri Revolusi & G 30 S 1965 satu buku, Maestro Partai Komunis empat buku. Terakhir, dua buku berjudul Komunisme Ala Aidit.

Penyitaan buku dihadiri antara lain Pasi Intel Kodim 0809/Kediri Lettu Chb. Tomi Wibisono, Danunit Intel Letda Chb Bibit beserta dua anggotanya, Staf KaBakesbangpolinmas Kabupaten Kediri Iwan beserta seorang anggota, Danpos Badas Peltu Sugeng beserta Babinsa, anggota Intelkam Polres Kediri Aiptu Hadi bersama tiga anggota, dan anggota Sub Denpom Kediri Sertu Daduk.

Pengecekan buku dilakukan Kodim atas laporan masyarakat. Sebagian buku yang disita dibawa ke Polres Kediri, adapun sisanya dibawa ke markas Kodim 0809 Kediri dan Bakesbang Linmas Pemerintah Kabupaten Kediri.

Komandan Kodim 0809 Letnan Kolonel Kav. Dwi Agung Sutrisno menjelaskan dirinya memerintahkan pengamanan buku-buku itu demi menghindari potensi kerawanan di masyarakat. Sebab keberadaan buku-buku itu disinyalir telah memicu keresahan warga.

“Kami amankan buku-buku itu untuk menghindari kerawanan,” ucap Agung.(mky,rmol)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.