Mayjen (Purn) TNI Kivlan Zen (kiri) dan Gus Hasib. FT/IST

SURABAYA | duta.co – KH Hasib Wahab sepakat dengan Mayor Jenderal TNI (Purn) Kivlan Zen, yang menegaskan bahwa, ada skenario adu domba terhadap umat Islam, dan itu terus dilakukan sekecil apa pun kesempatannya. Ia memberi contoh ada buku ajar (sekolah) menulis NU sebagai organisasi radikal, disejajarkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), ini sangat tidak benar.

“Ya! Saya sepakat bahwa pencantuman NU sebagai organisasi Radikal di buku tematik terpadu kurikulum 2013 itu, bisa jadi ada unsur politis. Bentuk adu domba, karena menterinya Muhammadiyah diharapkan warga NU marah, ini berbahaya,” jelas KH Hasib Wahab putra pendiri NU almaghfurlah KH Wahab Chasbullah kepada duta.co usai Sarasehan Kebangsaan ‘Mengendus Komunisme Gaya Baru’ di tahun politik yang digelar Koran Duta, Jumat (15/2/2019).

Menurut Mayor Jenderal TNI (Purn) Kivlan Zen, penyebutan itu bisa jadi bukan sekedar kekeliruhan atau kecerobohan. Karenanya mestinya diusut sampai tuntas. Jangan-jangan mereka sengaja menulis demikian untuk memancing perpecahan.

“Siapa pun tahu, NU dan Muhammadiyah adalah ormas Islam yang berada di garis depan melawan penjajah. Kok tiba-tiba NU disebut radikal, sementara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dari unsur Muhammadiyah. Ini kalau diusut tuntas bisa kelihatan, siapa yang bekerja. Jangan-jangan kelompok kiri yang berharap kita pecah,” demikian mantan Kepala Staf Kostrad ini.

Seperti diberitakan, Pengurus Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU PBNU, geram. Mereka menggelar rapat dengan jajaran Kemendikbud. LP Ma’arif protes keras terbitnya buku ajar yang mencatumkan NU termasuk organisasi radikal.

Tiga tuntutan LP Ma’arif. Pertama, buku tersebut harus ditarik dari peredaran dan dihentikan pencetakannya baik buku untuk murid maupun guru. Kedua, materi buku tersebut harus direvisi. Ketiga, dilakukan mitigasi untuk mencegah penulisan buku yang tak sesuai fakta dan mendiskreditkan NU.

Buku 226 halaman itu juga diprotes sejumlah wali murid. Pasalnya di dalam buku tersebut terdapat tulisan yang menyamakan organisasi NU dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang tergolong sebagai organisasi radikal.

Dalam buku tersebut, di halaman 45 dijelaskan ‘Masa Awal Radikal’. Lalu tertulis: Perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah pada abad ke-20 disebut masa radikal karena pergerakan-pergerakan nasional pada masa ini bersifat radikal/keras terhadap pemerintah Hindia Belanda. Organisasi-organisasi yang bersifat radikal ada Perhimpunan Indonesia (PI), Partai Komunis Indonesia (PKI), Nahdlatul Ulama (NU), Partai Nasional Indonesia (PNI).

Kemendikbud langsung menarik dan merevisi buku tersebut. Masalahnya siapa yang bertanggungjawab? Apa motivnya? Ini belum terendus sampai sekarang. (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.