Platform digital Smartambak untuk mengatasi risiko penyakit udang yang dibuat oleh tim Unpad dan UNSW. DUTA/ist

BANDUNG | duta.co — Sektor perikanan Indonesia menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar, meski kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) baru mencapai 2,56 persen pada 2025.

Salah satu komoditas ekspor unggulan yang menjadi penopang utama adalah udang. Namun, pengembangan budi daya udang kerap terhambat oleh ancaman penyebaran penyakit yang berisiko menurunkan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) udang serta memicu kerugian ekonomi bagi para petambak.

Guna mengatasi tantangan tersebut, tim peneliti dari Universitas Padjadjaran (Unpad) bekerja sama dengan The University of New South Wales (UNSW) Australia, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), PT Adhi Inti Nusantara Segar (AIN-SEA), serta Genics Pty Ltd merancang inovasi bertajuk Smartambak.

Riset ini didukung oleh Koneksi, program kemitraan pengetahuan dan inovasi antara Pemerintah Australia dan Indonesia, melalui penelitian berjudul “Designing disease reporting and monitoring systems (DRMS): A gender-inclusive action design research to prevent disease outbreaks in shrimp farming in Indonesia.”

Smartambak dirancang sebagai platform digital yang membantu petambak mengenali indikasi penyakit lebih awal, memetakan lokasi sebaran penyakit, mengakses data log harian kondisi tambak, hingga memperoleh panduan pengelolaan melalui fitur Tambakpedia.

Peneliti Unpad, Hamzah Ritchi, menjelaskan bahwa penyakit seperti myonecrosis (MIO),white spot syndrome virus (WSSV), dan black spot masih menjadi ancaman utama di tambak udang.

Melalui integrasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), aplikasi Smartambak mampu memberikan diagnosis awal secara cepat.

“Tim peneliti telah mengumpulkan dan memvalidasi 3.299 citra udang untuk mendukung pengembangan model AI. Melalui data tersebut, petambak bisa mendapatkan diagnosis awal langsung di platform,” ujar Hamzah.

First Secretary Kedutaan Besar Australia di Indonesia, Reiko Take, menyampaikan dukungannya terhadap adopsi inovasi ini, terutama bagi petambak skala kecil yang memiliki keterbatasan sumber daya dan akses ke laboratorium.

Produksi udang Indonesia tercatat mengalami peningkatan signifikan, dari sekitar 941 ribu ton pada 2023 menjadi 1,13 juta ton pada 2024.

Staf Ahli Menteri Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut KKP, Hendra Yusran Siry, menyebut udang sebagai pilar penting dalam ekonomi biru nasional dengan potensi nilai produksi mencapai sekitar Rp4 triliun per tahun (52.000 ton per tahun).

Hendra menambahkan bahwa aplikasi seperti Smartambak berpotensi diintegrasikan dengan platform digital KKP ke depan.

Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Kelautan dan Perikanan Kementerian PPN/Bappenas, Mohamad Rahmat Mulianda, menekankan pentingnya pemantauan digital untuk tambak semi-intensif yang rentan terhadap penyakit dan isu lingkungan.

Pemanfaatan digitalisasi ini juga mendukung Blue Food Assessment yang diterbitkan Bappenas untuk menunjang target kemandirian pangan dalam RPJMN 2025–2029.

Manfaat Smartambak dirasakan langsung  pelaku usaha di lapangan. Sakiro, seorang petambak muda asal Cirebon, menuturkan bahwa petambak tradisional umumnya hanya mengandalkan pengamatan visual berbasis kebiasaan karena keterbatasan akses informasi.

“Setelah ada aplikasi ini, hanya perlu memasukkan data dan foto untuk mendapat dugaan penyakit. Ini sangat membantu petambak tradisional yang rata-rata sudah tua untuk mendapatkan konklusi sementara secara cepat,” ungkap Sakiro.

Kehadiran platform digital Smartambak diharapkan mampu meningkatkan produktivitas tambak udang nasional secara berkelanjutan melalui deteksi dini yang presisi, efisien, dan inklusif. lis

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry