MEMBATIK : Siswa-siswi baru SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda) mengikuti praktik membatik dengan malam kondisi dingin di sela Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Senin (15/7). DUTA/ridhoi

SURABAYA | duta.co – SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda) memiliki cara tersendiri untuk mengisi masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) atau forum taaruf dan orientasi siswa (Fortasi), Senin (15/7). Salah satunya dengan mengajak siswa – siswi baru belajar membatik.

Seperti diketahui, membatik adalah salah satu ekstra kurikuler unggulan Smamda. Banyak karya siswa-siswi yang dihasilkan. Dan membatik di Smamda itu sudah mulai menggunakan aplikasi dan teknologi.

Itu pula yang diperkenalkan Smamda kepada siswa-siswi barunya. Bertema Unity in Creativity, 448 siswa-siswi baru yang mengikuti acara ini membatik dengan menggunakan teknik malam dingin.

Jika pada umumnya, membatik menggunakan lilin panas, kali ini  Smamda mengenalkan kepada siswa-siswi baru proses membatik dengan menggunakan media lilin malam dingin dengan menggunakan warna colet atau kuas.

Kelebihan dari penggunaan lilin dingin ini yaitu praktis, mudah, dan tidak berbahaya bagi siswa.

Pemilihan lilin malam dingin ini karena umum masih jarang digunakan dalam proses pembatikan. Pemilihan malam dingin ini untuk mempublikasikan media baru dalam proses membatik.

Acara membatik ini dikerjakan secara kelompok yang tiap kelompoknya terdiri dari 15-17 orang.  Jika ditotal akan menghasilkan 30 karya dengan panjang seluruhnya 100 meter.  Hasil karya tersebut akan ditampilkan saat inaugurasi 20 Juli 2019.

Salah satu desain batiknya adalah gambar Walikota Surabaya Tri Rismaharini. DUTA/ridhoi

Hilmy Yavi, seksi acara Fortasi mengatakan, Smamda mencoba menerapkan teknologi 4.0 dengan membuat aplikasi khusus untuk kegiatan ini.

“Kami menggunakan aplikasi berbasis android untuk mencatat kehadiran peserta selama lima hari Fortasi. Memudahkan kerja panitia dan lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

Tak hanya mengandalkan kreativitas siswa, dikatakan Esa Febrianto selaku Ketua IPM Smamda, ada semangat paperless dan plasticless atau kegiatan ramah lingkungan dengan meminimalisir penggunaan kertas dan plastik dalam Fortasi ini.

Misalnya ke kantin dengan membawa kotak makan kosong menggantikan penggunaan plastik bungkus. Dan tiap panitia menggunakan mengenakan tanda pengenal LED.

Dengan daya rendah, id card panitia tersebut jadi terlihat menarik dan futuristik karena dapat menampilkan nama sekaligus jabatan dalam kepanitiaan pada satu benda berukuran limabelas kali dua sentimeter tersebut.

Kemudian dalam penugasanpun peserta diminta untuk menulis jurnal kegiatan mereka selama Fortasi dalam personal blog masing-masing yang bisa diakses seluruh peserta dan panitia. dho/end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry