MEMBUAT SUSHI : Nani Cahyaningrum (kiri) salah seorang wali murid sangat antusias ikut memasak di acara edukasi makanan halal di Smamda, Jumat (8/6). DUTA/endang

Harus Berani Bertanya Ketika Tak Menempelkan Label Halal di Restoran

SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda) memiliki cara tersendiri untuk mengisi Ramadan kali ini. Di antara banyak kegiatan, ada satu kegiatan yang cukup menarik yakni edukasi makanan dan minuman halal.

Dalam acara ini, Smamda mengundang banyak pakar, salah satunya seorang chef yang tergabung dalam Chef Halal Indonesia, R.Muhammad Suherman yang dikenal dengan chef Herman Kemang.

—–

Allah SWT, Tuhan Semesta mengatur segala hal untuk hamba-Nya,mulai dari bangun tidur sampai kembali tidur.

Di antara keduanya pun Allah dan agama yang diridhoinya ini  mengatur yang namanya hukum memakan makanan mulai dari yang dinamakan halal (diperbolehkan) atau haram (dilrang) sehingga sebagai muslim dituntut agar jangan asal makan.

Menyikapi hal ini, SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda) bersama dengan Chef Halal Indonesia mengadakan even sosialisasi dan demo masak halal.

Astajab, S.Pd, MM  kepala Smamda mengatakan Smamda sangat mendukung kegiatan ini, agar masyarakat pada umumnya serta seluruh warga Smamda pada khususnya lebih teredukasi tentang halal dan haram.

“Yang mana masalah ini masih dianggap hal remeh, padahal makanan yang terlihat halal belum tentu baik (thoyyib) dan makanan yang terlihat halal juga ternyata belum tentu halal karena pencampuran bahan-bahan di dalamnya,” ujar Astajab di sela acara, Jumat (8/6) di halaman sekolah.

Ada dua sesi dalam event ini yakni sesi sosialisasi akan disampaikan langsung Dr. rer. nat. Fredy Kurniawan, M.Si. selaku ketua Pusat Kajian Halal ITS dan demo masak Japanese Food oleh chef R.Muhammad Suherman yang dikenal dengan chef Herman Kemang.

Selama ini Chef Herman dikenal sebagai Konsultan Industri Kuliner Halal, Ketua Chef Halal Indonesia, penulis, content manager di www.dapurhalal.com.

Chef Herman mengakui bahwa ketika makan terkadang orang tidak peduli kehalalan apa yang dimakannya. Seorang juru masak atau chef memegang peranan yang sangat penting apakah sajian yang diberikan itu sudah halal atau tidak.

“Chef itu bagaikan raja di dapur. Chef menentukan halal dan haram makanan yang dikeluarkannya untuk para tamu,” ujarnya.

“Karenanya, seorang chef juga harus dibekali tentang ilmu halal haram sehingga makanan yang keluar dari dapurnya benar-benar dijamin kehalalannya,” tambahChef Herman.

Edukasi profesi chef sudah mulai banyak dilakukan. Chef memang dituntut harus ekstra hati-hati terutama dalam menggunakan bahan-bahan makanan. Harus diteliti kandungan yang ada dalam bahan-bahan makanan itu.

“Karena ada sedikit bahan tidak halal tercampur, maka makanan atau minuman itu menjadi tidak halal,” tuturnya.

Tapi yang lebih penting adalah konsumen. Diakui Chef Herman, konsumen harus lebih cerdas dalam memilih atau mengkonsumsi makanan dan minuman.

Chef Muhammad Suherman (dua dari kanan) memberikan edukasi bagaimana menentukan makanan halal atau tidak melalui praktik memasak sushi. DUTA/endang

Ketika datang ke sebuah restoran dan tidak melihat sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) tertempel di dinding restoran, maka konsumen berhak menanyakan kehalalan makanan yang dijual di restoran itu.

“Beranilah bertanya apakah makanan dan minuman itu halal atau tidak. Kalau memang pihak restoran mengatakan halal boleh dilanjutkan, tapi kalau pihak restoran tidak menjawab lebih baik pindah ke restoran lain,” tutur Chef Herman.

Dalam kegiatan ini Chef Herman pun mengajari yang hadir di acara itu cara membuat sushi. Makanan Jepang itu memang dibuat dari bahan-bahan yang secara kasat mata halal karena hanya terdiri dari ikan dan nasi.

Namun, ternyata ada bahan-bahan campuran yang terkadang tidak halal. “Baca dulu bahan-bahan campuran untuk membuat makanan apapun, sehingga kita tidak salah pilih,” katanya.

Salah seorang peserta dari Komite Selolah, Nani Cahyaningrum terlihat sangat antusias mengikuti acara. Dia tidak hanya mendengarkan pemaparan dari pakar tapi juga ikut serta membuat sushi.

Nani pun mengaku senang bisa ikut hadir dalam acara ini. Karena dia akhirnya paham bagaimana menentukan halal dan haram makanan yang dikonsumsinya sehari-hari.

“Saya dapat ilmu bermanfaat. Ternyata kita harus waspada, apa yang kita makan tidak semuanya halal. Sehingga kita tidak boleh asal makan,” tandasnya. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.