Prof. Dr. Drs. Ec. Slamet Riyadi, MP, MM memberikan orasi ilmiah saat pengukuhannya sebagai guru besar ke-19 Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya, Kamis (23/6/2022). DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabay, Slamet Riyadi dinobatkan sebagai guru besar ke-19 kampus di kawasan Semolowaru itu. Pengukuhan dilakukan Rektor Unitomo, Dr Siti Marwiyah, Kamis (23/6/2022).

Pengukuhan ini adalah target yang diimpikan pria kelahiran 1 Maret 1958 ini selama tiga tahun terakhir. Waktu yang menurutnya bukan singkat tapi penuh lika-liku bahkan hampir membuatnya frustasi.

“Alhamdulillah semua bisa dilewati. Bersyukur saya ini sabar jadi ya menunggu tiga tahun juga sabar,” kata pria yang hobi memancing di laut lepas ini.

Dosen Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (L2Dikti) yang ditempatkan di Unitomo sejak 1987 ini mengaku menjadi guru besar di saat-saat usianya mendekati pensiun. “Saya pensiun tahun depan di usia 65 tahun, sekarang masih 64 tahun. Dengan guru besar ini, saya bisa mengabdi sebagai dosen jadi lebih panjang, hingga enam tahun ke depan,” jelasnya.

Dalam orasi ilmiahnya di depan sivitas akademika Unitomo, Slamet menyampaikan pemikiran tentang Model dan Strategi Meningkatkan Keunggulan Daya Saing Industri Batik Tulis Menuju Go Internasional.

Menurutnya, kontribusi industri batik terhadap perekonomian nasional sejauh ini belum optimal. Nilai ekspor industri fashion Indonesia sebelum pandemi global melanda beberapa tahun lalu sudah mencapai hampir 20 milyar US Dollar per tahun, atau senilai hampir 4% PDB Indonesia.

“Dari jumlah itu, nilai ekspor industri batik sebagai salah satu bahan baku produk pakaian jadi masih di bawah 100 juta US Dollar per tahun, tidak sampai 1% dari total nilai ekspor industri fashion. Padahal Indonesia memiliki ratusan sentra industri batik, dengan hampir 40 ribu unit usaha yang menyerap hingga 200.000 tenaga kerja,” ujar Slamet.

Di antara sentra-sentra batik yang ada di Indonesia, meski didominasi industri kecil dan menengah (IKM), menurut Slamet, cukup banyak yang sebenarnya punya prospek menembus pasar internasional.

“Di daerah Tanjung Bumi, Bangkalan misalnya, yang pernah saya teliti. Dari hasil analisa SWOT diketahui, positioning pelaku industri batik tulis di wilayah ini berada di kuadran 1, yang artinya mereka sebenarnya punya kekuatan lebih besar dibanding kelemahannya, sedang peluangnya pun lebih besar dibanding ancaman yang dihadapi,” papar mantan wakil rektor 2 Unitomo periode 2013-2017 dan 2017-2021 ini.

Karena itu, saran Slamet, cukup tepat jika pelaku industri batik tulis di wilayah ini melakukan strategi yang lebih bersifat agresif melalui berbagai inovasi produk, inovasi pewarnaan, inovasi standarisasi, inovasi pemasaran, inovasi teknologi dan inovasi kerjasama.

“Pemerintah, termasuk kalangan perguruan tinggi dan stakeholder lain, bisa mengambil peran dalam upaya peningkatan daya saing ini melalui berbagai program pelatihan, bantuan permodalan, kerjasama dan sebagainya.

Namun, untuk lebih menjamin kesesuaian berbagai program itu dengan harapan dan kebutuhan mereka, maka pelaksanaannya harus dengan menggunakan pendekatan yang lebih partisipatif, bukan top down dari atas ke bawah, tapi bottom up dari bawah ke atas,” sarannya. ril/end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry