
Arsitektur adalah kesukaan Indira. Karena, dia suka sekali melihat bangunan hingga merancang rumah sederhana di gim,
Menembus Negara Beruang Putih, diketahuinya dari informasi sederhana. Seorang kenalan ayahnya memberi tahu adanya pendaftaran beasiswa ke Rusia. Meski awalnya bukan tujuan utama, Indira mencobanya. Baginya, peluang seperti itu tidak datang dua kali. “Walaupun bukan negara yang awalnya aku incar, aku tetap ambil karena kesempatan tidak datang dua kali,” ujar Indira.
Keputusan itu menjadi titik awal perjalanan panjangnya menembus Russian Government Scholarship, program beasiswa pemerintah Rusia yang dikenal kompetitif. Indira memilih jurusan arsitektur, bidang yang sudah ia minati sejak lama. Ketertarikannya muncul dari kebiasaan sederhana: mengamati bangunan dan membuat desain rumah di gim dengan bantuan tutorial di YouTube.
“Aku memang dari dulu suka lihat gedung dan rumah, bahkan sempat bikin desain sendiri di gim,” tuturnya.
Namun, proses seleksi jauh dari kata mudah. Tahap pertama menjadi tantangan terbesar. Ia harus mengunggah banyak dokumen administratif, ditambah persyaratan visa yang rumit karena Rusia berada di luar kawasan ASEAN. “Prosesnya benar-benar tidak gampang. Dokumennya banyak sekali, dan semuanya harus detail,” kata perempuan kelahiran 2008 itu.
Persaingan juga sangat ketat. Dari lebih dari 4.000 pendaftar, hanya sekitar 300 calon mahasiswa yang diterima. “Artinya dari puluhan pendaftar, hanya sedikit yang lolos,” jelasnya.
Setelah lolos tahap awal, Indira mengikuti wawancara daring. Di tahap ini, ia sempat merasa peluangnya hilang. Ia tidak bisa menjawab salah satu pertanyaan dengan maksimal dan langsung merasa gagal. “Aku sempat berpikir sudah selesai sampai di situ. Setiap hari kepikiran, kalau saja aku bisa jawab lebih baik,” ujarnya.
Ia bahkan tidak langsung mendapat kabar kelulusan tahap berikutnya. Namun, sekitar sebulan kemudian, sebuah kabar mengejutkan datang. Indira dihubungi dan dinyatakan masuk kuota utama penerima beasiswa. “Waktu itu rasanya lega sekali. Aku merasa dihargai dan dianggap layak,” ungkap anak kedua dari dua bersaudara itu.
Proses belum berhenti di situ. Ia masih harus menerjemahkan dokumen ke penerjemah tersumpah hingga menunggu Letter of Acceptance (LoA) dari universitas. Meski rumit, Indira mengaku terbantu dengan adanya webinar dan pendampingan dari pihak penyelenggara.
Menariknya, Rusia bukan satu-satunya tujuan yang ia incar. Indira juga mendaftar ke program internasional (IUP) di universitas ternama di Indonesia serta mencoba peluang di Singapura. Ia bahkan sempat diterima di salah satu IUP. Namun, ketertarikannya pada budaya dan arsitektur Rusia membuatnya mantap memilih jalur tersebut. “Terlepas dari stereotip, Rusia punya kultur dan bangunan yang menarik. Itu yang bikin aku semakin yakin,” katanya.
Di balik pencapaian itu, Indira sudah mempersiapkan diri sejak kelas 10. Ia mengikuti les privat untuk mendukung pemahaman materi, tetapi tetap mengandalkan belajar mandiri. Ia juga aktif mengikuti olimpiade dan kompetisi, termasuk tingkat internasional. “Aku tidak hanya bergantung pada les, tapi juga belajar sendiri dan cari pengalaman lewat kompetisi,” jelasnya.
Dukungan keluarga dan lingkungan menjadi faktor penting dalam menjaga semangatnya. “Sekecil apa pun dukungan itu sangat berarti sebagai motivasi,” ujar murid yang hobi menulis itu.
Ke depan, Indira memiliki rencana jelas. Sesuai ketentuan beasiswa, ia akan kembali ke Indonesia setelah lulus. Ia ingin berkontribusi dalam bidang arsitektur berkelanjutan atau sustainability. “Masih banyak yang belum sadar pentingnya sustainability. Aku ingin ikut membantu Indonesia berkembang lewat itu,” ucapnya.
Bagi Indira, pencapaian ini melampaui ekspektasinya sendiri. “Dulu aku tidak pernah berpikir bisa sampai di sini. Ternyata aku bisa lebih dari yang aku bayangkan,” katanya.
Ia pun berpesan kepada pelajar lain untuk berani mengambil peluang. “Jangan menunggu kesempatan datang. Kita juga harus aktif mencarinya,” tuturnya. ril/lis




































