MPLS : Kepala SD Khadijah Wonorejo, Mohammad Iqbal mengenalkan berbagai jenis sayuran kepada siswa barunya di Khadijah Urban Farming, Rabu (17/7). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) dilakukan berbeda di SD Khadijah Wonorejo Surabaya. Siswa kelas satu diajak untuk panen sayur mayur organik di Khadijah Urban Farming yang ada di lingkungan sekolah, Rabu (17/7).

Zaika Moza, bersama 83 teman-temannya terlihat antusias memasuki kebun sayur hidroponik seluas 8×11 meter itu. Didampingi para guru, mereka belajar langsung tentang tanaman bukan hanya tahu sayur mayur ketika sudah ada di pasar.

Kepala  SD Khadijah Wonorejo, Mohammad Iqbal memandu ‘tour the Khadijah  Urban Farming’ itu. Mantan kepala SD Khadijah Pandegiling ini menjelaskan satu persatu sayur mayur yang ada.

“Ini apa? Ini sawi daging. Sawi yang kecil-kecil ini baru berumur satu minggu. Dan yang besar sudah tiga minggu, siap panen,” jelas Iqbal sambil menunjukkan pot sawi daging yang masih kecil dan yang sudah tumbuh subur.

Sesudah menjelaskan satu persatu sayur, Iqbal menanyakan kembali kepada siswa-siswinya. “Umur berapa  sawi daging bisa dipanen?” tanya Iqbal. Dengan suara lantang, mereka pun menjawab dengan benar. “Tiga minggu…,” jawab puluhan siswa-siswi serentak.

Setelah mengenalkan satu persatu jenis tanaman yang ada, Iqbal pun mengajak anak didiknya untuk memanen kangkung.

Karena kangkung yang sudah siap untuk dipanen, satu persatu siswa mengambil pot kecil dari tempatnya. Lalu ditarik agar akarnya terlepas.

“Kalau sudah diambil, kita timbang sama-sama ya. Berapa hasil panen kangkung hari ini. Kita jual ya harganya Rp 25 ribu per kilogram,” ujar Iqbal.

 Zaika Moza mengaku senang, bisa diajak melihat tanaman sayur di sekolahnya. “Tidak ditanam di tanah. Baru tahu ini. Saya senang,” ujarnya.

Ketua II Yayasan Khadijah, Soewito mengatakan Khadijah Urban Farming ini bisa menjadi sebuah laboratorium bagi siswa agar bisa mengenal jenis tanaman terutama buah dan sayur mayur.

Sehingga mereka mengetahui bagaimana itu semua dihasilkan. Mulai dari proses menanam hingga memanennya.

“Di kota-kota besar sudah jarang sekali ada hal semacam ini. Nah di tengah padatnya kota, kita masih bisa melakukannya untuk anak didik,” ungkap Soewito.

Sayuran berbagai jenis ditanam di Khadijah Urban Farming ini. DUTA/endang

Khadijah Urban Farming ini terletak di lahan seluas 8×11 meter. Dibuat dari rangka besi dan dikelilingi kasa besi agar tanaman yang ada tidak diganggu hama. Semua yang ditanam tanpa menggunakan pupuk kimia.

Di lahan yang ada itu, justru bisa menampung 5 ribu pot yang bisa menampung sayur mayur yang sangat segar. “Kebun kita ini ada yang ngurusi. Untuk mengecek kondisi aliran airnya dan sebagainya,” ungkap Iqbal.

Bukan sekadar sebagai hiasan, namun Khadijah Urban Farming ini menjadi salah satu andalan sekolah tersebut. “Dalam rangka program one pesantren one product. Inilah salah satu unggulan kita,” tukasnya.

Kehadiran Khadijah Urban Farming ini benar-benar untuk tempat belajar bagi seluruh penghuni sekolah.

“Karena untuk menjaga keberlangsungan kebun itu, memang harus ada sesuatu yang menarik. Makanya, hasil dari kebun kita itu terus kita jual, baik ke sesama guru, ke wali murid, teman-teman dan sebagainya. Sehingga ada semangat kita untuk menanam kembali,” ungkap Iqbal. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.