Dr Teguh Herlambang – Dosen Sistem Informasi, Fakultas Teknik

Gempa bumi berkekuatan 7,4 magnitudo yang bertitik di Kabupaten Donggala mengguncang Sulawesi Tengah pada 28 September 2018, Gempa yang menghancurkan bangunan dan infrastruktur itu juga menimbulkan gelombang tsunami yang menerjang kawasan bibir pantai kota Palu.

Selain itu Tsunami baru saja terjadi pada akhir desember 2018 di selat sunda yang berasal dari letuasan gunung Anak Kratakatau. Sistem pendeteksi tsunami di Indonesia menjadi isu menarik setelah peristiwa destruktif ini.

 Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah memberitahukan bahwa gempa yang terjadi di Donggala itu berpotensi tsunami, tapi kenyataannya masih banyak warga tidak bergegas untuk pergi ke tempat aman setelah peringatan tersebut.

Tsunami, memang bencana alam yang mematikan. Pada 2004 setidaknya ada 100 ribu orang Indonesia meregang nyawa karena tsunami di Aceh. Mengingat dampak besar tsunami baik materi maupun non-materi, antisipasi tsunami dengan peringatan dini tsunami tidak hanya  penting tetapi mendesak untuk dilakukan.

Secara sederhana, sistem pendeteksian tsunami di Indonesia tidak memakai perangkat khusus. Sistem pendeteksian yang dilakukan merupakan kelanjutan sistem pendeteksian gempa yang dimiliki BMKG.

Salah satu sistem khusus pendeteksi tsunami yang ditempatkan di lautan adalahThe Ocean-Based Tsunami Detection System atau akrab disapa Deep-Ocean Assessment and Reporting of Tsunami (DART)

Sistem ini menempatkan perangkat pelampung khusus atau DARTdi tengah lautan. Perangkat khusus tersebut bertugas untuk mendeteksi perubahan level permukaan air laut. Sehingga water level estimator sangatlah diperlukan untuk mengestimasi permukaan air pada beberapa waktu berikutnya.

Perangkat DART atau sistem Buoy memiliki dua komponen utama. Sensor tekanan yang ditempatkan di dasar laut dan perangkat yang mengapung di lautan. Sensor tekanan, mendeteksi segala perubahan yang terdeteksi dan mentransfer ke perangkat yang mengapung dengan memanfaatkan telemetri akustik.

Perangkat yang mengapung itu kemudian mentransmisikan data melalui satelit pada pusat peringatan tsunami yang dimiliki masing-masing negara.

Sistem pendeteksi tsunami dalam satu kesatuan dari berbagai perangkat. Yaitu,surface buoy yang mengapung di permukaan air, tsunameter yang ada kedalaman tertentu di bawah laut, Tsunami Warning Center yang berada di daratan yang bertugas untuk mengidentifikasi dan menginformasikan Tsunami pada masyrakat dan satelit digunakan untuk melakukan citra jarak jauh dari tempat terdeteksi tsunami dan yang memnginformasikan ke beberapa negara sekitar alat DART tersebut.

Perkembangan ke depan, alat  ini seharusnya juga dilengkapi dengan sensor-sensor tambahan Automatic Weather Station, Sea Surface Temperature and Salinity, pengukur gelombang dan sensor-sensor oseanografi lainnya. Data-data ini nantinya akan bermanfaat untuk prediksi cuaca ekstrem dan perubahan iklim.

Penelitian terkait pendeteksi tsunami ini seharusnya banyak dikembangkan karena mengingat di negara kita ini rawan terjadi gempa bumi yang tidak menutup kemungkinan akan terjadi Tsunami.

Banyak sekali komponen yang bisa dikembangkan, mulai dari perangkat lunak untuk pendukung sistem DART, alat dari sistem DART yang dapat bertahan dalam kondisi apapun dan integrasi dari surface buoy, Tsunami Warning Center, tsunameter dan satelit untuk menghasilkan data yang akurat dan cepat.

Namun, apapun kecanggihan alat buatan manusia ini, kita harus tetap waspada dalam kondisi apapun jikalau terjadi gempa bumi. Pelatihan tanggap darurat terhadap gempa bumi dan tsunami hendaknya segera diadakan di beberapa daerah yang diprediksi akan terjadi gempa bumi.

Secanggih apapun alat DART ini juga pasti ada kelemahan, setidaknya keberadaannya akan membantu daripada tak ada sama sekali. Manusia memang tak bisa meramal dengan persis sebuah bencana kapan dan di mana terjadi termasuk gempa bumi dan tsunami yang mematikan. *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.