Oleh: Abdul Wahid*

PRESIDEN Joko Widodo sangat sering mengajak seluruh bangsa Indonesia ini untuk bersatu menghadapi Covid-19. Yang diingatkan Presiden adalah bersatu dalam langkah, bukan secara parsial. Tanpa kesatuan ini, tidak akan mungkin tercapai dalam membebaskan (mengalahkan) Covid-19.

Ajakan Presiden itu logis seiring dengan tingkat perkembangan Covid-19 yang masih mengkhawatirkan dimana jumlah penderita atau yang terkena virus ini masih tergolong “stabil”. Keprihatinan ini mengindikasikan kalau dalam diri masyarakat kita masih terdapat banyak “virus” yang mengakibatkan Covid-19 bisa lebih leluasa mencari tempat di tengah masyarakat.

Bukan Covid-19 ini yang mengganggu dan merusak keberlangsungan konstruksi kehidupan dan peradaban manusia, tetapi manusialah yang memang “berdosa serius” memberikan kelonggaran virusnya berkembang, atau manusia gagal menunjukkan kesatuannya dalam menjaga dan menyelamatkan peradabannya.

Memang masih ada kebiasaan kita yang salah dimana saat ada kejahatan atau virus sosial dan ekologis, yang kita tuntut dan evaluasi adalah virusnya, dan bukan sepak terjang kita yang memang seringkali atau masih membuka kran terbukanya virus berkembang dan massif.

Ajakan Presiden untuk bersatu melawan atau mennaggulangi Covid-19 identik memperkuat “siskamling” dalam menghadapi teroris atau kejahatn-kejahatan serius lainnya yang jelas-jelas berpola menghancurkan keharmonisan atau kedamaian masyarakat. Dalam “siskamling” ini, semua komponen bangsa tidak boleh tidak bersatu untuk memberikan yang terbaik pada negeri, yakni membebaskannya dari Covid-19.

Fakta tidak sedikit diantaranya kita yang terhegemoni oleh mental individualis yang antara lain dibuktikan dengan kesibukan memburu kepentingan pribadi, keluarga, dan kroni dengan cara-caar permisif seperti ilegalitas dan materialistis daripada memikirkan kepentingan  bangsa dan negara ini.

Akibat sibuk berburu kepentingan  eksklusif itu, hak-hak rakyat terabaikan. Istilah terabaikan ini bisa bermakna sengaja dilupakan, dibiarkan telantar, dikorbankan, disalahalamatkan atau disimpangi peruntukannya, sehingga otomatis gagal dinikmati oleh pemegang hak yang sebenarnya.

Manusia yang seperti itu berarti gagal menunjukkan semangat dan komitmen kesatuannya dalam mengutamakan kepentingan bangsa (rakyat). Mereka ini layak disebut sebagai individu-individu monologis, pasalnya dirinya hadir di tengah masyarakat dan negara, namun gagal jadi humanis atau negarawan.

Kalau seperti itu rakyat bermakna kehilangan penyangga yang seharusnya dapat diharapkan menjadi kekuatan pembebas atau pemerdeka dirinya dari kesulitan. Pilar strategis bangsa yang idealnya hidup dan berjuang di barisannya, ternyata sedang kehilangan “sense of crisis”-nya, dan tergiring dalam ambisi membangun dan menikmati  kepentingan eksklusivitasnya.

Ada pesan istimewa dari William Arthur yang menyatakan dalam kalimatnya “Rayulah aku, dan aku mungkin tak mempercayaimu. Kritiklah aku, dan mungkin aku tak menyukaimu. Acuhkan aku, dan aku mungkin tak memaafkanmu. Semangatilah aku, dan aku mungkin takkan melupakanmu.”

Konstatasi William Arthur itu diantara titik tekannya tentang permintaan “Semangatilah aku, dan aku mungkin takkan melupakanmu” yang sebenarnya seperti Presiden Jokowi yang kalimatnya ini sebagai ajakan atau spirit bahwa dalam hidup ini tidak boleh ada kata putus asa, menyerah, apalagi merasa kalah. Segala potensi bangsa harus dikerahkan demi komitmen menjaga konstruksi keberlanjutna hidupnya.

Dengan pesan Arthur itu,  secara tidak langsung mengedukasikan hidup ini harus ada semangat untuk terus menyalakan jiwa progresivitas dalam kebersatuan atau unifikasi dalam kemajuan di seluruh bidang kehidupan.

Jiwa yang terus menyala dan disatukan oleh semua elemen bangsa adalah kunci yang menentukan keberlanjutan dan kemajuan, termasuk dalam menggapai terwujudnya orde keemasan (golden era) di negeri ini, sehingga logis jika semua elemen bangsa dituntut atau ditantang mewujudkan kesatuan tekadnya dalam memberikan yang terbaik untuk negeri dengan memacu jiwa loyalitas dan inovatifnya.

Berpijak dari sisi realitas manusia Indonesia yang menyandang prediket sebagai manusia-manusia beragama, khususnya umat Islam Indonesia, yang bergelar mentereng masyarakat muslim terbesar di muka bumi, maka setiap subyek bangsa negeri ini wajib menunjukkan dirinya kalau hidup di dunia ini optimisme tidak boleh terkikis, apalagi sampai terdegradasi.

Sebagai bangsa, jelas manusi tidaklah hidup sendiri, melainkan ditopang  oleh lainnya, sehingga jiwa dan aksi kesatuan harus diwujudkan. Mewujudkan ini adalah identik sebagai kekuatan istimewa yang dapat menciptakan banyak perubahan atau menghadirkan era baru apapun sesuai dengan yang ”dikreasikannya”.

Nabi Muhammad SAW merupan sosok Nabi yang selalu mengajak bersatu dengan siapapun, meskipun budaya dan agamanya berlainan, pasalnya  kalau setaip manusia yang mau bersatu akan menjadi kuat. Beliau misalnya mengingatkan: ”mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, tetapi di tiap-tiap (seorang mukmin) itu ada kebaikan, optimistislah kepada apa-apa yang memberi manfaat.” (HR Bukhari)

Doktrin kenabian tentang gelar ”manusia (mukmin) kuat” tersebut sebenarnya mengedukasikan kita, bahwa dalam kondisi apapun, termasuk saat diuji oleh  perbedaan kepentingan  dan kesulitan apapun di beberapa sektor akibat Covid-19 misalnya, kita wajib tetap semangat, tidak boleh menyerah dan putus asa alam kesendian dan kelompok, pasalnya kita hidup dalam kesamaan dan kebinekaan yang harus bersatu mengatasinya.

Tidak boleh ada kata ”menyerah atau terserah”. Kita bukan individualis dan chauvinistik, tetapi unifikasi dalam keragaman, yang tentu saja dengan beragam tantangan sekalipun, termasuk dari Covid-19, kita memberikan jawabannya.

Itu mengedukasikan secara etis dan esoteristik, bahwa kita adalah bangsa besar, yang kebesarannya yang menuntut konsekuensi kita wajib terus menggalakkan jiwa dan aksi kesatuan, khususnya pada kalangan sumberdaya kaum muda supaya mereka tidak tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang lemah atau bermental penakut dan parasit, serta monologis. Mereka harus dibuat jiwanya berkobar dalam kesatuan dengan menjiwakan doktrin ”kita wajib maju, berkembang, dan khusunya jadi pemenang” dalam kondisi apapun.

Semangat dan aksi kesatuan  itu merupakan opsi sangat istimewa yang memang harus ditunjukkan semua komponen bangsa. Tanpa kesatuan dalam realitas kebinekaan, jangan berharap kita bisa keluar dari hegemoni Covid-19.

*Penulis adalah Pengajar Program Pascasarjana Universitas Islam Malang dan pengurus AP-HTN/HAN dan penulis sejumlah buku Terorisme.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry