RAZIA: Tim Anti Bandit Satreskrim Polrestabes Surabaya melakukan razia preman di Jl Demak Surabaya.

SURABAYA | duta.co – Tim Anti Bandit Satresrim Polretabes Surabaya dan Polsek jajaran menggelar razia secara serentak terhadap premanisme di Kota Pahlwan, Kamis (7/12) siang hingga sore. Sebanyak 153 preman ditangkap di beberapa titik oleh tim Anti Bandit.

Razia yang digelar secara serempak itu, menyisir beberapa jalan dan tempat yang kerap dijadikan mangkal preman. Razia yang dipimpin Kasat Reskrim AKBP Leonard Sinambela dan Wakasat Reskrim I Gede Dewa Juliana ini menyisir beberapa lokasi.  Mulai Jl Demak, Jl Dupak, Jl Semarang, Jl Kranggan, Jl Indrapura, Jl Rajawali, Jl Kapasan, Jl Kapasari, dan Jl Gembong. Hasilnya, tim Anti Bandit yang merazia dengan mengendarai motor trail itu menjaring sebanyak 49 preman.

Sedangkan tim Anti Bandit Polsek se Surabaya, menggeber razia di lokasi-lokasi wilayah hukumnya masing-masing. Semua preman yang ditangkap, selanjutnya di bawa ke Mapolretabes Surabaya guna dilakukan proses penyidikan.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Leonard Sinambela mengatakan, preman yang terjaring razia ini seperti tukang parkir liar, pak ogah yang biasa mengkal di putaran jalan, calo, tukang palak kepada pengguna jalan atau warga yang melintas. Para tukang palak atau pak ogah bisanya meminta uang lebih, seperti Rp 5.000 sampai Rp 10 ribu.

“Tindakan mereka itu sangat meresahkan masyarakat, makanya kami amankan dan dilakukan proses pemeriksaan dan pendataan,” sebut Leonard.

Setelah diperiksa dan didata, kata Leonard, bagi pelaku preman yang terbukti melanggar hukum bakal diproses sesuai hukum yang berlaku. Jika tidak, maka mereka bakal dilakukan pembinaan oleh anggota.

Leonard menegaskan, razia premanisme ini terus dilakukan secara intensif hingga Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2018. Sehingga Kota Surabaya menjadi aman dan masyarakatnya tidak merasa resah.

“Kami akan terus patroli dan razia. Dengan kedatangan polisi, maka para preman atau penjahat mengurungkan niat atau tinakan,” tegas Leonard.

Wahyudin, salah satu yang diamankan dalam razia itu mengaku terpaksa menajdi pak ogah di putar balik daerah Pasar Kapasan, lantaran tidak memiliki pekerjaan tetap. Ia mengaku tidak memaksa kepada pengendara.

“Biasanya pengendara memberi Rp 1.000 atau lebih, tapi hari ini (Kamis, 7/12) ditangkap polisi. Saya tidak tahu apa-apa,” tutur Wahyudin. tom/gal

Tinggalkan Balasan