Tunggal dan rombongan mencapai summit di Gunung Wilis via Air Terjun Sedudo. (dok/duta.co)

SURABAYA | duta.co – Bagi pecinta hiking dan mendaki gunung, komunikasi sangat penting untuk koordinasi sesama anggota ataupun dengan rombongan lain disaat yang tepat. Pengalaman Tunggal Teja Asmara (43) pengguna nomor Telkomsel dengan prefix 0823-5123-xxxx mengatakan betapa penting dan berharganya jaringan sinyal seluler di pegunungan.

Tunggal, porter dan pemandu pendakian pengelola Open Trip TRS (Teman Rasa Saudara) menegaskan sangat penting membawa ponsel meski sudah dilengkapi HT atau Handy Talkie yang jangkauanya lebih terbatas . Bagi Tunggal di jalur pendakian Gunung Wilis via Air Terjun Sedudo, komunikasi bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan penyelamat disaat darurat.

Menurut Tunggal komunikasi bagaikan garis tipis antara perjalanan yang aman dan situasi darurat di tengah hutan pegunungan yang dikenal banyak pendaki sebagai jalur sunyi, spiritual, dan kerap diselimuti cerita mistis.

Bagi Tunggal komunikasi penting karena ia kerap membawa rombongan pendaki berusia 50 hingga 70 tahun. Karena itu, menjaga formasi, memantau kondisi anggota, dan memastikan tidak ada yang tertinggal menjadi prioritas utama sejak dari base camp hingga kembali turun dengan selamat.

“Komunikasi sangat krusial dalam pendakian dan vital. Fungsinya menjaga kekompakan rombongan, mengoordinasikan formasi, mencegah kecelakaan, dan mempermudah pertolongan saat darurat,” ujarnya, Jumat, (5/6/2026).

Dalam praktiknya, HT atau walkie-talkie biasa mulai diandalkan ketika rombongan sudah berada di atas sekitar 2.000 mdpl. Sementara jaringan telepon seluler di ketinggian mendekati 2.000 mdpl sangat sulit terjangkau sinyal atau blankspot.

“Namun pengalaman di Pos 2 Punggungan Naga, sekitar 1.800 mdpl, membuatnya terkejut. Mendadak ada sinyal seluler di ponselnya saat HT kehabisan baterai dan perlu telepon karena rombongan yang terpisah dan kondisi kurang sehat. Tidak tahu lagi kalau misal sinyal ponselnya tidak bisa dipakai, karena memang ada rombongan yang perlu bantuan medis,” jelasnya.

Menurut Tunggal di lokasi yang selama ini dianggap minim sinyal, ponselnya justru menampilkan indikator jaringan dan notifikasi masuk. Tunggal mengaku sudah menggunakan nomor Telkomsel lama yang sudah dikenal banyak teman dan telah dipakainya bertahun-tahun.

“Saat HT mulai habis baterai, sinyal itu jadi cadangan komunikasi yang sangat berguna. Sangat tepat ketika dibutuhkan mengabarkan rombongan yang terpisah dan kondisi kurang fit,” ungkapnya, Sabtu 9 mei 2026 awal pendakian

Tunggal mengakui tidak tahu pasti dari mana pantulan sinyal tersebut berasal. Secara teknis, kemunculan sinyal sesaat di pegunungan bisa dipengaruhi topografi, arah punggungan, kondisi atmosfer, dan posisi terhadap BTS tertentu. Namun bagi rombongan yang sedang menghadapi keterbatasan daya HT, sinyal itu terasa seperti penyelamat tak terduga bagaimana menemukan air di tengah savana.

“Fungsi sinyal sebagai cadangan komunikasi, memantau posisi pendaki pertama (leader) dan pendaki terakhir (sweeper). Juga memastikan tidak ada anggota rombongan tertinggal di jalur curam dan berrbahaya. Selain itu menyampaikan kondisi kesehatan anggota yang melambat. Dan jaringan telkomsel bisa diandalkan menjadi opsi darurat ketika HT kehilangan daya atau jangkauan,” jelasnya.

Rute Perjalanan hingga Punggungan Naga

Pendakian dimulai pagi hari dari kawasan Air Terjun Sedudo. Setelah registrasi, pemeriksaan perlengkapan, dan koordinasi dengan petugas serta warga sekitar, rombongan bergerak menuju jalur hutan yang menanjak panjang.

Waktu Perjalanan 07.00–08.00 tiba di base camp, registrasi, pengecekan perlengkapan, dan briefing keselamatan. Pukul 08.00–12.00 pendakian menuju Pos 1 dan Pos 2. Jalur awal didominasi perkebunan dan hutan rapat dengan tanjakan panjang yang nyaris tanpa bagian landai. Sekitar 12.00 tiba di Pos 2 / Punggungan Naga, area camp di punggungan sempit dengan jurang di sisi kiri dan kanan.

Rombongan mendirikan tenda dan Istirahat, makan siang, menjelas dini hari kita terbangun pukul 02.00 dini hari dan  melanjutkan orientasi jalur menuju Pos 3 (Pos Pramuka/Pospan), pos luas dengan vegetasi rapat yang kerap dijadikan titik rehat.

Cerita mistis mulai beredar setelah malam turun di Punggungan Naga. Menurut Tunggal, beberapa anggota rombongan mengaku mendengar langkah kaki melewati sisi luar tenda padahal tidak ada pendaki lain yang melintas. Ada pula yang mencium aroma mirip dupa atau kemenyan yang datang sesaat lalu hilang dibawa angin gunung.

“Sekitar tengah malam, salah satu peserta bilang mendengar langkah pelan di dekat tenda sweeper. Kami cek dengan headlamp, tidak ada siapa-siapa. Hutan kembali sunyi,” jelasnya.

Tunggal saat mencapai summit di Gunung Wilis via Air Terjun Sedudo. (dok/duta.co)

Ia menegaskan pengalaman semacam itu sering diceritakan pendaki di jalur-jalur tua Gunung Wilis, tetapi tidak dapat diverifikasi sebagai kejadian supranatural. Bagi pemandu, yang terpenting adalah menjaga peserta tetap tenang, tidak terpencar, dan tidak membuat keputusan impulsif karena panik.

Tunggal juga mengingatkan etika gunung yang umum dipegang pendaki lokal: menghindari teriakan berlebihan, tidak bersiul sembarangan di malam hari, dan menjaga ucapan selama berada di kawasan hutan pegunungan.

Summit Attack Menuju Puncak Trogati / Liman

Hari kedua dimulai dini hari rombongan bangun sekitar pukul 02.00 untuk persiapan summit attack, membawa tas kecil, air, dan makanan ringan. Pendakian menuju Puncak Trogati (Liman) dilakukan agar bisa mengejar matahari terbit.

Sekitar pukul 06.00–07.30, rombongan tiba di area puncak, berfoto, beristirahat singkat, lalu turun kembali ke camp untuk sarapan, membongkar tenda, dan melanjutkan perjalanan turun gunung.

Menurut Tunggal, jalur turun relatif lebih cepat, tetapi tetap memerlukan kewaspadaan karena medan curam dan licin saat basah. Pos-pos yang sering dikenal pendaki di jalur Sedudo – Roro Kuning / Bajulan. Di kawasan Air Terjun Sedudo, jalur resmi yang sering digunakan pendaki dari arah Sawahan umumnya melewati urutan pos berikut.

Basecamp Roro Kuning / Bajulan — registrasi dan pengecekan perlengkapan.- Pos Panjer / Pos Kamituwo Glundung — sekitar 30 menit dari titik awal.- Pos Watu Lanceng / Gentongan — area terbuka dengan pemandangan punggungan.

Pos Sekartaji — sumber air utama di jalur.- Punggungan Rantai / Ondo Rantai — bagian medan yang lebih menantang.- Pospan / Pos Pramuka — titik istirahat luas dan cukup ikonik.- Cemoro Besar — pos terakhir sebelum area puncak Liman/Limasan (±2.349 mdpl).

“Nama lokal dan penamaan pos bisa sedikit berbeda antarkelompok pendaki atau pembaruan pengelola jalur, sehingga pendaki disarankan mengikuti informasi resmi terbaru dari base camp saat registrasi.”

Tunggal memberi tips jangan mengandalkan sinyal seluler sebagai satu-satunya alat komunikasi di gunung. Bawa HT dengan baterai cadangan atau power bank yang memadai. Pastikan ada pembagian peran leader dan sweeper. Isi air di titik yang tersedia sebelum memasuki bagian jalur yang kering, terutama musim kemarau.

“Untuk pendaki pemula, pertimbangkan jalur yang lebih landai dan populer seperti jalur Kare (Madiun) atau jalur Penampihan dibanding langsung memilih jalur Sedudo yang dikenal curam dan panjang.

Tunggal menutup kisahnya dengan pandangan sederhana bahwa gunung menyimpan banyak hal yang belum tentu bisa dijelaskan saat itu juga. Bagi pemandu, fokus utamanya tetap keselamatan rombongan.

“Apakah itu sinyal seluler itu pantulan, posisi punggungan yang pas, atau kebetulan yang jarang terjadi, yang pasti dari semua operator seluler yang ada, jaringan Telkomsel yang paling jauh atas koneksi sambungannya. Yang saya tahu, saat HT mulai habis baterai dan rombongan harus tetap terhubung, ponsel saya mendadak bisa dipakai untuk komunikasi. Di gunung, kadang hal kecil seperti itu terasa sangat besar manfaatnya buat keselamatan rombongan,” tegasnya.

Telkomsel 31 Tahun Melayani Sepenuh Hati

Memasuki usia ke-31, Telkomsel menegaskan semangat “Melayani Sepenuh Hati” sebagai komitmen menghadirkan pengalaman yang lebih personal, relevan, dan bermakna bagi masyarakat Indonesia, sekaligus menyampaikan apresiasi atas kepercayaan pelanggan yang terus menguat hingga saat ini.

Di tengah kehidupan yang semakin digital dan terhubung satu dengan yang lain dengan cepat, Telkomsel percaya teknologi terbaik bukan hanya soal kecanggihan, tetapi bagaimana teknologi memahami, membantu, dan hadir lebih dekat dengan manusia.

Selama 31 tahun melayani Indonesia, Telkomsel tumbuh bersama masyarakat melalui berbagai fase penting, mulai dari kartuHalo (1995) dan simPATI (1997), hingga menghadirkan 3G, 4G/LTE, dan Hyper 5G. Perjalanan ini mencerminkan kemampuan Telkomsel beradaptasi sekaligus memperkuat peran dalam membangun ekosistem digital yang terintegrasi bersama berbagai mitra.

Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, mengatakan, “Di usia 31 tahun ini, kami bersyukur atas kepercayaan pelanggan yang memungkinkan Telkomsel terus berkembang sebagai pemimpin industri telekomunikasi digital di Indonesia. Pencapaian ini merupakan hasil kontribusi, dedikasi, dan kolaborasi berbagai pihak. Kami juga terus melakukan refleksi dan mendorong inovasi agar layanan yang dihadirkan semakin relevan dan memberi manfaat nyata. Di era transformasi digital dan Artificial Intelligence (AI), pendekatan yang berpusat pada pelanggan dengan empati menjadi kunci, sehingga setiap solusi mampu menghadirkan kemudahan, rasa aman, dan dukungan dalam keseharian pelanggan.”

Transformasi tersebut diperkuat melalui pengembangan broadband dan 5G, MyTelkomsel Super App, serta integrasi IndiHome B2C. Dalam satu dekade terakhir, Telkomsel juga memanfaatkan AI untuk meningkatkan kualitas layanan melalui Autonomous Network dan Virtual Assistant Veronika yang mempercepat respons dan menghadirkan pengalaman yang lebih personal.

Pengalaman ini didukung jaringan 5G yang menjangkau lebih dari 107 kota/kabupaten dengan lebih dari 6.380 BTS 5G, termasuk 5G contiguous di 36 kota/kabupaten. Komitmen keberlanjutan dijalankan melalui BTS Green, dengan lebih dari 360 BTS menggunakan energi terbarukan serta pengelolaan limbah elektronik melalui reuse dan recycle.

Telkomsel juga terus memperluas jangkauan layanan hingga wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) melalui berbagai inisiatif konektivitas sebagai bagian dari komitmen pemerataan akses digital.

“Memasuki usia ke-31, kami ingin Telkomsel semakin matang dan terus memperkuat peran dalam mendukung kemajuan Indonesia. Melalui inovasi dan semangat Melayani Sepenuh Hati, kami berkomitmen menghadirkan pengalaman terbaik bagi pelanggan agar dapat menjalani hari ini dengan lebih baik dan menyongsong masa depan yang lebih gemilang,” tutup Nugroho. Imam ghozali

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry