
LUMAJANG | duta.co – Suasana ruang rapat BMT NU Lumajang tampak gayeng pada Kamis, 21 Mei 2026. Sekitar lima belas orang yang hadir di ruangan itu terlibat diskusi hangat mengenai isu yang menarik sekaligus fundamental: pola komunikasi publik dan diskursus erupsi Semeru di media lokal Lumajang. Sesekali peserta saling menimpali pandangan tentang bagaimana informasi kebencanaan diproduksi, disebarkan, hingga diterima masyarakat ketika aktivitas Gunung Semeru meningkat.
Diskusi tersebut dikemas dalam kegiatan focus group discussion (FGD) yang digelar Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Kegiatan ini mempertemukan berbagai unsur masyarakat untuk membahas strategi komunikasi kebencanaan yang efektif, akurat, dan tidak menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.
FGD dihadiri sejumlah perwakilan lembaga dan organisasi, di antaranya Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Lumajang, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, serta media lokal seperti JTV Lumajang, Kelumajang, dan Lumajang Satu. Masing-masing peserta berbagi pengalaman mengenai tantangan komunikasi saat terjadi erupsi Semeru maupun ketika informasi simpang siur beredar di media sosial.
Moderator kegiatan dari Prodi Ilmu Komunikasi Unesa, Dr. Buyung Pambudi, menjelaskan bahwa FGD tersebut merupakan bagian dari rangkaian penelitian mengenai komunikasi publik kebencanaan yang tengah dilakukan tim akademisi Unesa. Menurutnya, komunikasi yang tepat menjadi salah satu faktor penting dalam proses mitigasi bencana.
“Kami ingin memetakan pola komunikasi yang selama ini terjadi ketika erupsi berlangsung. Dari situ nantinya dapat dirumuskan rekomendasi strategi komunikasi publik yang lebih efektif dan berpihak pada keselamatan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, penyebaran informasi kebencanaan pada era digital tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga melibatkan media massa, organisasi masyarakat, hingga pengguna media sosial. Karena itu, dibutuhkan koordinasi dan kesamaan persepsi agar informasi yang diterima masyarakat tetap valid dan tidak memunculkan disinformasi.
Dalam diskusi tersebut, para peserta juga menyoroti maraknya hoaks dan informasi yang belum terverifikasi ketika aktivitas Gunung Semeru meningkat. Informasi yang simpang siur dinilai kerap memicu kepanikan warga, terutama masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana.
Ketua Lakpesdam NU Lumajang, Ahmad Hafidz Lubis, menyampaikan bahwa pihaknya mendukung penuh kegiatan akademik yang memiliki dampak langsung terhadap masyarakat. Menurutnya, forum seperti ini penting untuk memperkuat literasi digital dan kesadaran masyarakat dalam menghadapi bencana.
“Acara ini merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk merumuskan solusi mitigasi bencana dan meningkatkan literasi digital masyarakat. Apalagi, isu hoaks tentang erupsi Semeru sering kali membuat masyarakat panik,” katanya.
Selain membahas pola komunikasi kebencanaan, FGD tersebut juga menjadi ruang kolaborasi antarlembaga untuk memperkuat jejaring informasi di tingkat lokal. Para peserta berharap hasil penelitian yang dilakukan Unesa nantinya dapat menjadi bahan rekomendasi bagi pemerintah daerah maupun media dalam menyusun strategi komunikasi kebencanaan yang lebih humanis dan responsif. Prodi Ilmu Komunikasi Unesa menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam isu-isu sosial kemasyarakatan melalui penelitian dan pengabdian yang aplikatif, khususnya dalam mendukung penguatan sistem komunikasi publik di daerah rawan bencana. (ep)







































