Rapat Koordinasi (Rakor) Percepatan Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah Wilayah Jawa Tahun 2026 yang berlangsung di Surabaya sebagai bagian dari rangkaian Road to Java Regional Economic Forum (JREF) 2026. DUTA/ist

SURABAYA | duta.co — Bank Indonesia (BI) bersama Pemerintah Pusat dan Daerah memperkuat sinergi untuk mempercepat realisasi investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Komitmen ini ditegaskan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Percepatan Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah Wilayah Jawa Tahun 2026 yang berlangsung di Surabaya, Selasa (11/8/2026). Rapat ini sebagai bagian dari rangkaian Road to Java Regional Economic Forum (JREF) 2026.

Rakor yang dipimpin oleh Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, ini dihadiri oleh berbagai pihak strategis, mulai dari Departemen Regional BI, kementerian/lembaga terkait, pemda se-Jawa, otoritas sektor keuangan, perbankan, hingga lembaga pembiayaan pembangunan.

Perekonomian Jawa sendiri dinilai tetap tahan uji di tengah ketidakpastian global. Pada triwulan II 2026, ekonomi Jawa tumbuh sebesar 5,65% (yoy), meningkat dari capaian tahun 2025 yang sebesar 5,30%.

“Untuk keseluruhan tahun 2026, pertumbuhan diprakirakan tetap kuat pada kisaran 4,9%–5,7%. Dengan kontribusi mencapai 29,68% terhadap PDRB Jawa, investasi memegang peran kunci sebagai salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi tersebut,” kata Ibrahim.

Meskipun kebutuhan investasi terus meningkat, kapasitas pembiayaan pembangunan daerah menghadapi tantangan akibat keterbatasan ruang fiskal APBD dan Transfer ke Daerah (TKD). Karena itu, diversifikasi pembiayaan melalui skema creative financing menjadi krusial.

Beberapa skema yang didorong meliputi pinjaman daerah, kerja sama pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), obligasi dan sukuk daerah. Juga optimalisasi Barang Milik Daerah (BMD),bauran pembiayaan (blended finance).

Dalam kesempatan tersebut, para pejabat kementerian memberikan pandangan strategis terkait implementasi pembiayaan kreatif.

Dirjen Bina Keuangan Daerah, Agus Fatoni, menekankan bahwa perluasan sumber pembiayaan harus diiringi penguatan kapasitas fiskal, kesiapan regulasi, kelembagaan, serta tata kelola pemda.

Asdep Kemenko Perekonomian, Yuli Sri Wilanti, menyebutkan pembiayaan inovatif dapat mempercepat penyediaan infrastruktur, meningkatkan konektivitas, dan membuka keterlibatan badan usaha dalam memicu sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Direktur Pembiayaan dan Perekonomian Daerah, Adriyanto, mengingatkan pentingnya mengoptimalkan instrumen pembiayaan dengan tetap menjaga keberlanjutan keuangan daerah.

Sementara Durektur Bappenas, Novie Andriani, mengungkapkan kendala utama di lapangan terletak pada kesiapan kelembagaan dan SDM pemda. Untuk itu, Bappenas terus mendorong program peningkatan kapasitas, khususnya di bidang KPBU. Peran BI dan Tiga Penguatan Utama

Direktur Departemen Regional Bank Indonesia, Tri Yanuarti, menegaskan komitmen BI untuk terus berperan sebagai strategic advisor dan katalisator sinergi kebijakan.

Peran ini dijalankan melalui penyediaan asesmen ekonomi, pemetaan proyek potensial, penguatan Regional Investor Relations Unit (RIRU), hingga promosi proyek di dalam dan luar negeri.

Dari hasil diskusi dan penyampaian kebutuhan oleh pemda se-Jawa, Rakor ini menyepakati tiga arah penguatan utama yakni Peningkatan Pemahaman. Ini memperkuat kesamaan persepsi mengenai potensi, tata kelola, dan prinsip kehati-hatian dalam pembiayaan kreatif.

Kedua Kesiapan Proyek. Hal ini dengan mengidentifikasi dan menyiapkan proyek investasi daerah agar lebih layak, siap ditawarkan, dan bankable.

Ketiga Penguatan Ekosistem. Dengan memperbaiki ekosistem implementasi dari sisi regulasi, kelembagaan, kapasitas SDM, hingga koordinasi lintas lembaga.

Sinergi berkelanjutan ini diharapkan mampu mengubah pipeline proyek menjadi realisasi konkret, sehingga investasi dapat terus menjadi pendorong utama daya saing daerah dan pertumbuhan ekonomi nasional. ril/lis

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry