
Oleh Abdul Wahab Hasyim*
SIN atau Sindikat Intelijen Nahdliyin terus ngupingĀ jalannya Muktamar NU. Mendekati Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang, Jawa Timur, bursa calon Ketua Umum PBNU semakin ramai. Sejumlah tokoh mulai disebut, didorong, bahkan menyatakan kesiapan untuk maju. Nama-nama seperti KH Zulfa Mustofa, Gus Yusuf Chudlori, Gus Salam, Gus Kikin, Gus Rozin, Gus Yahya, serta Prof Nasaruddin Umar menjadi bagian dari percakapan besar menjelang pelaksanaan forum tertinggi organisasi ulama tersebut.
Ramainya nama calon menunjukkan bahwa NU tidak pernah kekurangan kader. Masing-masing memiliki pengalaman, jaringan, basis pesantren, rekam jejak organisasi, serta gagasan mengenai masa depan jamāiyah. Namun, Muktamar NU bukanlah pemilihan berdasarkan survei masyarakat umum, popularitas di media sosial, banyaknya baliho, atau kerasnya suara para pendukung.
Pemegang keputusan adalah para muktamirin yang berasal dari PWNU, PCNU, dan PCINU. Karena itu, antara popularitas publik dan kekuatan suara struktural sering kali berbeda. Seorang calon dapat ramai dibicarakan, tetapi belum tentu memiliki dukungan cabang. Sebaliknya, ada calon yang tidak terlalu gaduh di media, tetapi bekerja senyap mengonsolidasikan para pemegang mandat dan klik para operator muktamar.
Gus Yahya dan Keuntungan sebagai Petahana
Sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Yahya memiliki keuntungan berupa mesin organisasi, pengalaman kepemimpinan, serta komunikasi yang telah terbangun dengan pengurus wilayah dan cabang. Ia mengetahui peta internal PBNU, memahami dinamika setiap daerah, dan pernah memenangkan pertarungan pada Muktamar Ke-34 NU di Lampung.
Dalam setiap kontestasi organisasi, petahana biasanya mempunyai lantai dukungan yang lebih jelas. Ia memiliki kelompok loyalis yang telah bekerja bersama selama satu periode. Program, jaringan, dan posisi struktural menjadi modal penting untuk mempertahankan dukungan.
Namun, Gus Yahya sebagai petahana juga membawa beban evaluasi. Seluruh keputusan kontroversial, konflik internal, komunikasi politik, mis tata kelola organisasi dan keuangan, serta hubungan antara Syuriyah dan Tanfidziyah dan jejajringnya dengan zionisme global akan menjadi bahan penilaian para muktamirin. Pertanyaan utamanya bukan hanya mengenai apa yang telah dikerjakan, tetapi juga apakah janji kepemimpinan sebelumnya telah dilaksanakan secara maksimal.

Gus Yahya akan sangat diuntungkan apabila calon-calon yang menginginkan alih kepemimpinan PBNU tetap maju sendiri-sendiri. Semakin banyak penantang, semakin terpecah suara alternatif. Dalam keadaan demikian, petahana cukup menjaga basis loyalnya sambil menarik sebagian suara dari kelompok yang belum menentukan sikap serta mengajak koalisi 1-2 kandidat yang ada untuk satu perahu dengannya.
Prof. Nasar dan Momentum Perubahan*
Prof. Nasar berpotensi menjadi figur rekonsiliasi. Ia tidak terlalu tampil dalam konflik terbuka internal PBNU, sehingga relatif mudah ditempatkan sebagai alternatif berbagai poros. Basis dukungan utama terhadap dirinya datang dari luar Jawa dan jaringan Kemenag.
Namun, peluang besar tidak otomatis menjadi kemenangan. Momentum harus diubah menjadi suara resmi. Dukungan moral harus diterjemahkan menjadi keputusan PWNU dan PCNU. Para pendukungnya juga harus mampu menjawab berbagai problem organisasi, termasuk persoalan rangkap jabatan dan hubungan antara tanggung jawab pemerintahan dengan kepemimpinan PBNU.
Apabila poros perubahan berhasil bersatu dan mengerucut pada satu nama, Prof. Nasaruddin Umar memiliki peluang sangat besar. Tetapi apabila suara perubahan terbagi kepada banyak kandidat, momentum itu dapat melemah sebelum memasuki arena pemungutan suara.
Gus Yusuf dan Gus Rozin Berebut Basis Jateng
Gus Yusuf Chudlori dan Gus Rozin merupakan dua tokoh penting dari Jawa Tengah. Keduanya memiliki akar pesantren, jaringan kader, serta hubungan kuat dengan struktur NU di wilayah tersebut.
Gus Yusuf dikenal memiliki kemampuan komunikasi yang cair, kedekatan dengan kalangan muda, alumni PMII, pesantren, serta jaringan politik kebangkitan bangsa. Ia dapat menjadi calon yang menjembatani kelompok kultural dan struktural.
Sementara itu, Gus Rozin memiliki modal sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah. Posisi tersebut memberinya akses langsung terhadap komunikasi dengan PCNU se-Jawa Tengah. Bila dukungan wilayah dan cabang berhasil dikonsolidasikan, ia dapat menjadi salah satu kandidat dengan modal awal yang lumayan kuat.
Masalahnya, bila keduanya maju secara bersamaan sampai tahap akhir, suara Jawa Tengah dapat terpecah. Karena itu, keduanya juga berpeluang memainkan peran sebagai penentu koalisi. Siapa yang mampu mendapatkan dukungan lebih luas di luar Jawa Tengah akan memiliki kesempatan menembus lapisan utama pertarungan.
Kiai Zulfa dan Momen yang Lewat
Kiai Zulfa mempunyai pengalaman cukup di PBNU dan memahami hubungan antara Syuriyah dan Tanfidziyah. Pengalaman tersebut membuatnya diangkat jadi Pj Ketum saat PBNU mengalami kemelut antara Rais Aam dan Ketum, namun kesempatan emas itu kurang bisa diperankan dengan baik oleh Kiai Zulfa. Pada titik ini, posisinya sekarang sedang mencari momentum kedua dalam kontes Muktamar ke-35 NU.
Gus Kikin dan Gus Salam BerebutĀ Jatim
Gus Kikin memiliki posisi strategis sebagai Ketua PWNU Jawa Timur dan pengasuh Pesantren Tebuireng. Muktamar yang berlangsung di Jombang tentu memberikan panggung kultural yang kuat baginya. Namun, Jawa Timur bukanlah satu blok suara yang mudah diarahkan. Di dalamnya terdapat banyak pesantren besar, keluarga muassis, serta kiai yang memiliki pengaruh masing-masing.
Demikian pula Gus Salam. Sebagai tokoh pesantren Jombang, ia memiliki legitimasi kultural dan membawa narasi rekonsiliasi. Dalam situasi pertarungan yang tajam, figur yang sejak awal tidak terlalu terlibat dalam konflik dapat muncul sebagai jalan tengah. Gus Kikin lebih diuntungkan dengan karakternya yang soft mencari titik aman dalam tiap episode konflik NU, sedangkan Gus Salam dihantui oleh preseden pemecatan dirinya.
Menilik Operasi Pengasuh Kandidat
Dalam episode Muktamar NU selalu muncul tokoh-tokoh yang sering disebut sebagai āoperator muktamarā. Mereka bukan sekadar pendukung yang berpidato atau tampil di media. Mereka adalah para pengasuh yang bekerja memetakan kekuatan, membaca arah suara, membangun komunikasi, mencarikan dan mencairkan logistik, serta menyatukan kepentingan berbagai kelompok.
Operator muktamar harus mengetahui siapa yang memegang mandat resmi dari setiap PWNU dan PCNU. Mereka harus memahami keabsahan peserta, posisi para kiai, kecenderungan ketua wilayah dan cabang, serta perubahan dukungan yang dapat terjadi menjelang pemungutan suara.
Tokoh seperti Gus Ipul, Nusron Wahid, Cak Imin, yang berjejaring dengan figur-figur berpengaruh dalam jaringan pesantren, Ansor dan PMII dapat memiliki peran penting. Namun, pengaruh mereka tidak selalu muncul secara terbuka. Ada yang bekerja melalui komunikasi pesantren, jaringan politik, hubungan personal, hingga konsolidasi pada hari-hari terakhir. Trio opetator dari muktamar ke muktamar ini, (biasanya) yang juga akan berperan menyusun formasi antara Rais Aam dan Ketua Umum.
Di luar para pengasuh rutin muktamar di atas, muncul pengasuh baru dari non-NU seperti Joko Widodo dan Sjafrie Sjamsuddin. Kita bisa menggambarkan sendiri apa motif langsung maupun tidak langsung dari keduanya.
Karena itu, pertarungan sesungguhnya bukan hanya mengenai siapa calon Ketua Umum yang paling populer, tetapi kemampuan pengasuh kandidat di atas mengorkestrasi kekuatan dari pionnya demi kepentingan mereka masing-masing, utamanya untuk kontestasi politik nasional di 2029.
Menunggu Momen Titik Tmu Antarkandidat
Dalam sejarah muktamar NU, ketika dua kubu besar saling mengunci, kemunculan poros bersama selalu jadi titik temu, kandidat bersama sering menjadi solusi. Politik muktamar kadang seperti pertandingan sepak bola: yang menguasai bola belum tentu mencetak gol, sementara pemain pengganti justru dapat menentukan kemenangan pada menit terakhir. Memang belum muncul nama lain yang menjadi titik temu semua kandidat dan operator.
Penting menjadi pegangan bersama bahwa semakin banyak calon alternatif yang maju sendiri-sendiri, semakin diuntungkan Gus Yahya sebagai petahana. Sebaliknya, apabila poros antar kandidat mampu bersatu, peluang Prof. Nasaruddin Umar menjadi semakin besar, asal kerja politik merubah pasal 51 berjalan mulus di arena muktamar nanti. Bila ini kandas, kemunculan figur pemersatu antar kandidat akan menentukan jalan kemenangan di Muktamar nanti.
Sampai hari ini, kita belum menyaksikan secara resmi munculnya kandidat dari ujung barat pulau Jawa sekaligus mewakili Indonesia barat yang mendeklarasikan diri.
Di tengah munculnya sejumlah nama alternatif, banyak kalangan menilai KH Imam Jazuli sebagai figur yang paling memenuhi kebutuhan kepemimpinan PBNU di abad kedua. Proklamasi diri secara resmi Kiai Imam Jazuli sebagai figur jembatan antar kandidat di puncak bursa kepemimpinan nasional PBNU sangat ditunggu oleh warga dan pengurus NU.
Walhasil, mari kita tunggu hari demi hari menjelang berlangsungnya liga muktamar ke-35 NU. Dan seperti biasa, Muktamar NU digerakkan oleh konsiprasi para operator, yang diamini mayoritas peserta resmi biarpun selalu muncul aksi protes dari warga NU yang kritis, toh gegeran di NU akan bermuara menjadi ger-geran. (*)
*Diolah oleh Abd Wahab Hasyim, Tim Sindikat Intelijen Nahdliyyin (SIN).



































