
SURABAYA | duta.co – Komunikasi antara wakil rakyat dan masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam menyerap kebutuhan di lapangan. Hal itu dilakukan Anggota DPR RI sekaligus Kapoksi Komisi VII Fraksi Partai Gerindra, Ir. H. Bambang Haryo Soekartono (BHS), saat bersilaturahmi dengan kelompok nelayan Kenjeran, Surabaya, bersama sejumlah unsur keamanan lingkungan.
Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog antara BHS dengan masyarakat pesisir. Berbagai masukan, pengalaman, hingga persoalan yang dihadapi nelayan disampaikan secara langsung. Dalam kesempatan itu, BHS juga memaparkan sejumlah program dan kebijakan pemerintah yang menurutnya telah dijalankan untuk kepentingan masyarakat.
BHS mengatakan, pertemuan semacam ini penting untuk menjaga komunikasi agar aspirasi masyarakat dapat tersampaikan dan ditindaklanjuti dengan lebih cepat.
“Alhamdulillah, banyak masukan dan aspirasi yang kami terima. Demikian juga saya bisa menyampaikan apa saja yang sudah menjadi prestasi maupun program yang dikerjakan pemerintah. Kami berharap komunikasi seperti ini terus terjalin, sehingga kepentingan masyarakat bisa terakomodasi dengan cepat,” ujar BHS Jumat,(30/10/2026).
Ia menambahkan, masyarakat yang hadir juga mengharapkan adanya pertemuan lanjutan. Dengan komunikasi berkelanjutan, informasi mengenai kebutuhan masyarakat maupun perkembangan program pemerintah dapat disampaikan secara dua arah.
Selain persoalan masyarakat pesisir, dalam dialog tersebut BHS juga menerima pertanyaan mengenai keberlanjutan program pendidikan di tengah pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut BHS, pelaksanaan MBG tidak mengurangi perhatian pemerintah terhadap sektor pendidikan. Ia justru menyampaikan sejumlah program lain yang disebutnya terus berjalan, mulai dari revitalisasi sekolah, pengadaan smart board, hingga pengembangan Sekolah Rakyat.
BHS menyebut, revitalisasi sekolah telah menjangkau sekitar 71 ribu lebih satuan pendidikan. Angka tersebut dibandingkannya dengan sekitar 1.600 sekolah pada periode pemerintahan sebelumnya.
Selain itu, ia menyampaikan bahwa perangkat smart board telah disalurkan untuk mendukung proses belajar mengajar. BHS juga menyebut adanya tambahan alokasi hingga tiga kali lipat pada tahun ini untuk mendukung kebutuhan pendidikan tersebut.
Program Sekolah Rakyat turut menjadi perhatian dalam penjelasannya. Menurut BHS, program tersebut membuka kesempatan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu agar memperoleh akses belajar dan kesempatan mengembangkan kemampuan.
Ia mencontohkan, sejumlah peserta didik Sekolah Rakyat mampu menguasai bahasa asing, seperti Inggris, Prancis, Jepang, dan Mandarin. Bahkan, menurutnya, beberapa di antaranya telah menorehkan prestasi dalam ajang olimpiade, termasuk bidang matematika.
“Ini membuktikan bahwa anak-anak dari berbagai latar belakang memiliki kesempatan untuk berprestasi apabila mendapatkan pendidikan yang baik,” jelasnya.
BHS juga menyinggung pembangunan jembatan yang digunakan untuk membantu akses anak-anak menuju sekolah. Ia menyebut sebanyak 3.395 jembatan telah dibangun pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengatasi kesulitan akses penyeberangan di sejumlah wilayah.
Sementara itu, Ketua Nelayan Kenjeran, Ruhin, menyampaikan apresiasinya atas kesempatan bertemu langsung dengan BHS. Ia mengaku selama ini telah merasakan komunikasi dan dukungan BHS terhadap kebutuhan nelayan.
Ruhin mengatakan, bantuan yang diberikan dinilai sesuai dengan kebutuhan masyarakat nelayan, khususnya ketika menghadapi kesulitan terkait perlengkapan dan alat tangkap.
“Alhamdulillah, saya senang bisa bertemu langsung lagi dengan Pak BHS. Beliau banyak membantu dan memperhatikan nelayan Kenjeran. Bantuan yang diberikan juga tepat sasaran. Kalau ada persoalan, saya biasanya menyampaikan langsung kepada Pak BHS,” ungkap Ruhin.
Ia menuturkan, salah satu persoalan yang pernah dihadapinya adalah kesulitan mendapatkan perlengkapan atau alat tangkap. Menurutnya, dukungan yang diterima selama ini membantu aktivitas nelayan.
Dalam pertemuan tersebut, Ketua Sekuriti, Rahmat Dedi, juga menyampaikan kondisi keamanan lingkungan yang menjadi tanggung jawabnya.
Ia menjelaskan, pendekatan persuasif kepada masyarakat, baik warga dari dalam maupun luar lingkungan, terus dilakukan untuk menjaga situasi tetap aman dan kondusif.
Menurut Rahmat Dedi, komunikasi dan pendekatan kepada warga menjadi bagian penting dalam mencegah potensi gangguan keamanan.
“Alhamdulillah, dengan pendekatan persuasif, kondisi sekarang aman. Lingkungan tempat kami bekerja juga terasa nyaman dan tenteram. Berbagai hal yang terjadi maupun potensi kejadian yang tidak diinginkan bisa kami tangani,” ujarnya.
Pertemuan BHS bersama nelayan Kenjeran dan unsur keamanan lingkungan tersebut menjadi bagian dari komunikasi langsung antara wakil rakyat dengan masyarakat. Aspirasi yang disampaikan diharapkan tidak berhenti sebagai bahan diskusi, tetapi dapat menjadi masukan dalam memperjuangkan kebutuhan masyarakat melalui jalur kelembagaan.(gal)


































