
SURABAYA | duta.co — Dr M Sholeh Basyari, pengamat politik dan Direktur Eksekutif CSIIS (Center for Strategic on Islamic and International Studies), melihat dinamika Muktamar ke-35 NU (Nahdlatul Ulama) bergerak cepat, dan masih didominasi soal siapa Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.
“Saya melihat konsentrasinya masih ke sana. Isu paling hangat dibicarakan dan menyita perhatian nahdliyin adalah siapa versus siapa?,” tegasnya kepada duta.co, Kamis (11/6/26).
Bahwa ada upaya penguatan syuriyah, lanjutnya, itu jelas, tetapi penguatan ini belum terbaca sebagai upaya memperkuat NU. Masih dicurigai sebagai bentuk pengganjalan kelompok lain. “Memang terasa ada upaya memperkuat syuriyah, tetapi, masih dicurigai sebagai bentuk penggganjalan,” terangnya.
Menurut dosen di sejumlah kampus NU itu, banyak kiai yang berharap agar Rais Aam tetap, KH Miftachul Akhyar. Tetapi, tidak sedikit yang minta perubahan, alasannya sama, terkait konflik PBNU kemarin.
“Di samping itu, kalau Kiai Mif yang jadi Rais Aam lagi, maka, pintu Gus Yahya (KH Yahya Cholil Staquf red.) menjadi Ketua Umum PBNU, kian sempit. Jadi, ada kelompok AHWA ada yang mendesak pilihan langsung. Di sini potensi deadlock ada, walau pun tidak besar,” katanya.
Mengapa? “Karena pendukung Gus Yahya tidak sedikit. Dan mereka bisa meminta agar pemilihan Ketum PBNU menggunakan pilihan langsung sebagaimana muktamar lalu. Kalau pun diputuskan dengan penunjukkan, itu berlaku untuk muktamar ke depan. Di sini akan terjadi tarik-ulur,” tegasnya.
Padahal, prediksi Dr Sholeh, kalau one man one vote, pilihan langsung 1 orang 1 suara, maka, kemungkinan besar akan terjadi ‘jual beli’ suara atau permainan SK (Surat Keputusan) PC atau PWNU. “Hari ini saya mendengar ada SK yang belum diserahkan, dan itu bisa menjadi alat untuk menekan pemiliknya, dukung atau tidak, kalau mendukung SK bisa diserahkan,” tambahnya tersenyum.
Bukankah banyak nama yang muncul? Doktor Sholeh tidak menampiknya. Tetapi untuk kandidat Ketum PBNU, sudah bisa ditebak, mengerucut antara Gus Yahya dan Gus Ipul (Drs H Saifullah Yusuf). Sementara suara Cabang dan Wilayah pendukung Gus Yahya masih sangat kuat.
“Mungkin Anda bertanya soal posisi Cak Imin (Muhaimin Iskandar Ketum DPP PKB) yang jelas-jelas menilai Gus Yahya adalah produk gagal, ini jelas tidak tinggal diam,” katanya sambil bertanya.
Dalam ‘kacamata’ Dr Sholeh, Cak Imin sekarang ini lebih banyak wait and see (menunggu dan melihat). Bahwa PKB tidak mau PBNU dipimpin Gus Yahya, itu jelas. Tetapi, PKB sendiri tidak memiliki cukup ‘peluru’ untuk menghadangnya. “Maka, PKB menunggu lawan Gus Yahya butuh bantuan. Itu prediksi saya. Semoga Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Pesantren Ploso. Kediri berjalan dengan baik. Itu saja harapan kita,” pungkasnya. (mky)





































