MAKKAH | duta.co — Prof Dr KH Rochmat Wahab, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi DIY periode 2011-2016, menilai, bahwa perjalanan jamiyah NU – pasca Muktamar ke-35 NU mendatang — harus tertata lebih baik dan lebih solid. Konflik PBNU belakangan ini harus menjadi pelajaran bersama.

“Diakui atau tidak, konflik PBNU kemarin menimbulkan pro-kontra. Ini harus menjadi pelajaran bersama, bahwa, PBNU hasil Muktamar ke-35 nanti harus lebih solid. Sebagai jamaah kita yakin, PBNU bisa mengambil pelajaran dari masalah tersebut,” tegas Prof Dr KH Rochmat Wahab, kepada duta.co, Minggu (17/5/26) saat di Makkah al-Mukarromah.

Prof Dr KH Rochmat Wahab (FT/duta.co)

Menurut Prof Rochmat, posisi Rais Aam PBNU mendatang, sangatlah strategis. Ini sekaligus sebagai upaya pembenahan jamiyah NU yang, selama ini masih terkesan adanya kepentingan personal atau kelompok tertentu. Apalagi, NU sekarang juga disibukkan dengan urusan tambang.

Pembenahan PBNU, jelas mantan Bendahara Umum Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia ini, tidak bisa dilakukan secara radikal, perlu bertahap atau gradual. Kaidah fikihnya Al-muhaafadhah ‘alaa al-qadiem al-shaalih wa l-akhdz bi l-jadied al-ashlah. “Mempertahankan yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik. Ini kaidah yang menjadi inspirasi kaum nahdliyin selama ini,” tegasnya.

Ditanya soal figur Rais Aam mendatang, Prof Dr Rochmat tetap menyebut Rais Aam PBNU sekarang, KH Miftachul Akhyar, yang terbaik. Kiai Mif berani meninggalkan jabatan Ketua Umum MUI (Majelis Ulama Indonesia), adalah keputusan yang harus kita hormati. “Terus terang, menjadi Ketua Umum MUI (mungkin) lebih enak, lebih mapan ketimbang menjadi Rais Aam PBNU. Tetapi, beliau memilihkan Rais Aam PBNU. Ini luar biasa. Ini reasoning (alasan) pertama,” tegas Prof Rochmat.

Kedua, tegasnya, Kiai Mif berani bersikap tegas terhadap Ketua Umum PBNU yang dinilai oleh jajaran syuriyah, keliru. “Terlepas kemudian menjadi pro-kontra, apa yang dilakukan Kiai Mif adalah penting dalam menjaga marwah jamiyah PBNU. Sebagai Rais Aam beliau berani bertindak, apalagi bersama dua Wakil Rais Aam. Ini tidak mudah, apalagi ujungnya pasti pro-kontra,” urainya.

Ketiga, lanjutnya, Kiai Mif masih sangat bersemangat untuk membenahi NU. Sepanjang beliau berkenan, maka, Rais Aam PBNU sebaiknya tetap KH Miftachul Akhyar. “Mencari sosok seperti beliau tidaklah mudah. Terutama yang memiliki ghirah kuat dalam membenahi NU. Sepanjang beliau berkenan, maka, Rais Aam PBNU sebaiknya tetap KH Miftachul Akhyar. Ini menurut penilaian saya,” pungkasnya. (mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry