Tampak pengurus Masjid Al Akbar Surabaya saat apel Pengibaran Bendera dalam rangka HUT RI. (FT/Sovie)

SURABAYA | duta.co – Walikota Surabaya Eri Cahyadi, Sabtu (8/5) menerbitkan surat imbauan agar umat Islam di Surabaya melakukan Salat Id 1442 H di rumah saja. Alasannya, Surabaya masih zona oranye, di samping menjalankan instruksi dari Kementerian Agama RI.

Eri pun menerbitkan Surat Edaran (SE) tertanggal 8 Mei 2021 yang bersifat penting. Salah satu isi SE bernomor 443/4820/436.8.4/2021 itu, agar salat Id dilakukan di rumah masing-masing, alasannya Surabaya masih zona oranye. “Berdasarkan zonasi penyebaran Covid-19 Nasional, Kota Surabaya berada di zona oranye, sehingga salat idul fitri 1 Syawwal 1442 H/2021 agar dilakukan di rumah masing-masing,” tulisnya.

Atas terbitnya SE ini, Humas Masjid Al-Akbar Surabaya (MAS), Helmy M Noor mengaku tak masalah. Karena pendaftaran jamaah salat Id 1442 H dilakukan semata-mata untuk mengantisipasi protokol kesehatan, jika pelaksanaan Salat Id benar-benar dilakukan. “Kalau tidak jadi, tinggal mengumumkan kepada para jamaah. Tetapi, kalau jadi dilaksanakan, kita sudah siap dengan mematahi seluruh aturan,” tegasnya kepada duta.co, Ahad (9/5/21).

Lebih lanjut ia menegaskan, bahwa, SE Walikota Surabaya ini segera dirapatkan oleh pengurus MAS. Senin (10/5/21) insya-Allah ada kepastian. Dijelaskan pula, dalam penyelenggaraan Salat Id nanti, MAS hanya menampung enam ribu jamaah atau 15 persen dari kapasitas maksimal.

Ditanya soal shof jamaah yang kian merapat, menurut Helmy, itu sudah sesuai dengan protokol kesehatan. Tadinya, memang kelewat longgar, jarak dua meter lebih. Ada banyak masukan jamaah agar sedikit dimampatkan. “Sebelum ramadhan sudah dimampatkan sesuai aturan yang ada, ideal minimal 1,5 meter. sekarang ini sesuai dengan standar ‘ketentuan jagar jarak’ untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19,” tegasnya.

Pun ketika ditanya soal kotak amal yang sudah mulai berputar keliling jamaah, menurut Helmy itu juga sudah sesuai aturan. Setiap kotak amal disertai hand sanitizer. “Insya-Allah semua sesuai standar protokol kesehatan. Dan, kami, barangkali, satu-satunya Masjid di Indonesia yang membuat tutorial untuk dipahami seluruh jamaah yang ada,” lanjutnya.

Masih menurut Helmy, keinginan ribuan jamaah MAS untuk mengikuti Salat Id, ini sangat kuat sekali. Mereka juga patuh terhadap aturan yang ada. Bahkan tidak sedikit yang mengeluh dengan kelonggaran atau kerumunan para pedagang kaki lima (PKL) yang berada di sekitar MAS. Mereka juga bertanya, kok PKL yang abai terhadap prokes tidak ditertibkan, sementara jamaah MAS yang ketat dengan prokes, justru diawasi terus. “Itu bukan domain kami, terpenting jamaah MAS harus taat prokes. Titik,” pungkas Helmy. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry