Keeterangan foto cakrawala.co

SURABAYA | duta.co — Sejumlah pengacara Surabaya mengaku siap mendampingi pengasuh Pondok pesantren Al Khoziny (Sidoarjo) usai runtuhnya bangunan musholla yang membuat puluhan santri korban jiwa. “Ini musibah. Tak ada yang menginginkan. Kami siap mendampingi pengasuh Al Khoziny,” demikian disampaikan Kusbachrul, SH kepada duta.co, Senin (06/10/25).

Menurut Bachrul, panggilan akrabnya, musibah ini harus didudukkan pada porsinya. Jangan ada pihak-pihak sibuk mencari ‘kambing hitam’. “Kami khawatir pengasuh pesanten dipojokkan. Karenanya lembaga hukum Kantor Eries Jonifoanto, SH, siap mendampingi pengasuh,” jelasnya ketika ke kantor redaksi media online ini.

Masih menurut Bahrul, tidak ada yang ingin musibah ini terjadi, hatta (termasuk) pengasuh Ponpes Al-Khoziny. Menurutnya, ini harus menjadi catatan tebal bersama. Baik lembaga swastanya, maupun pemerintahnya. “Saya khawatir kondisi seperti ini — kurang cermatnya kontruksi bangunan — juga terjadi di pesantren-pesantren lain, ini karena minimnya anggaran,” terang lelaki yang juga dikenal sebagai aktivis GMNI ini.

Bahrul berharap pemerintah gerak cepat. Setidaknya mendeteksi seluruh bangunan pendidikan milik swasta seperti pesantren. “Ada hikmah besar di balik musibah ini. Selain kita tidak kuasa menolak takdir Allah SWT, setidaknya musibah ini mengharuskan pemerinah untuk turun tangan lebih serius,” terangnya.

Korban tragedi ini terus bertambah. Hingga sepekan setelah insiden, Tim SAR masih terus mencari korban dalam reruntuhan gedung Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Kejadian runtuhnya bangunan musholla di asrama putra Pondok Pesantren Al Khoziny Senin (29/9) sore itu membuat ratusan santri – yang baru saja salat Ashar berjemaah– tergencet beton-beton besar. Beberapa santri berhasil selamat dalam insiden maut di Ponpes Al Khoziny tersebut, namun puluhan lainnya ditemukan telah meninggal dunia.

Bahkan kini, BNPB menyebut sejumlah anggota tim SAR yang terlibat dalam evakuasi korban runtuhnya bangunan Ponpes Al Khoziny, sempat mengalami gatal-gatal akibat gangguan kulit selama bertugas. Penyebabnya, sebagian petugas tak memakai alat pelindung diri (APD) yang baik.

“Setelah evaluasi kemarin, ada beberapa anggota yang banyak terserang penyakit kulit, gatal-gatal, karena tidak memakai APD yang baik,” kata Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Budi Irawan, dilansir Antara, Senin (6/10/2025).

Budi menyebut keluhan itu sudah bisa diatasi berkat bantuan berupa APD tambahan, vitamin, dan kebutuhan kesehatan lainnya bagi tim penyelamat dari Pemkab Sidoarjo dan Pemprov Jawa Timur. Menurutnya, bantuan itu membantu menjaga stamina dan kesehatan para relawan sehingga dapat bekerja maksimal dalam operasi. BNPB menekankan pentingnya menjaga kesehatan personel, mengingat operasi evakuasi masih berlanjut dan membutuhkan tenaga besar untuk menyelesaikan pencarian korban.

Hingga Senin (6/10) pagi pukul 07.00 WIB, Dinas Kesehatan Provinsi Jatim melaporkan Jumlah Korban 154 Orang dan 5 body part belum teridentifikasi. Ke-159 orang itu meliputi Pasien Rawat Inap (6), Pasien sudah pulang (97), Korban pulang tanpa membutuhkan perawatan (1), dan Meninggal (50). (sat, loe)