
JOMBANG | duta.co – Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf pasca bertemu dengan kiai sepuh NU menegaskan, bahwa, dirinya telah memenuhi seluruh permintaan klarifikasi dari pihak Rais Aam terkait polemik masalah internal yang beberapa hari terakhir memanas. Demikian disampaikan usai pertemuan di Ndalem Kasepuhan Pesantren Tebuireng, Jombang, Sabtu (6/12).
Gus Yahya menjelaskan, sejak pagi dirinya menerima perwakilan Rais Aam, yakni Prof Muhammad Nur dan Nur Hidayat, yang membawa daftar kebutuhan sebagai dasar langkah-langkah Rais Aam belakangan ini.
Gus Yahya siap buka blak. “Saya diminta menjawab semuanya, dan semua sudah saya jawab dengan tuntas,” katanya.
Tidak hanya itu, Gus Yahya juga membawa setumpuk dokumen lengkap, disertai penjelasan rinci dari Bendahara PBNU, Sumantri, serta pemaparan dari Amin Said Husni, kurator desain tata kelola NU selama empat tahun terakhir. “Semua aturan sudah dijelaskan secara jelas dan lengkap,” tegasnya.
“Kami Datang Dengan Niat Berkhidmat” tegas Gus Yahya lagi.
Di hadapan para kiai sepuh NU, Gus Yahya menegaskan bahwa seluruh aktivitas yang dijalankan kepengurusan diarahkan untuk menjaga tertib organisasi dan menjalankan amanah ulama.
“Kami sejak awal bergerak dengan niat berkhidmat, mengharap barakah perjuangan para kiai. Karena itu, kami memperhatikan arahan-arahan para sesepuh,” ujarnya.
Ia meminta para kiai mempertimbangkan matang-matang masa depan tatanan organisasi NU. Menurutnya, NU didirikan untuk mengorganisir umat dengan aturan yang jelas, bukan berjalan tanpa struktur.
“Jangan sampai tatanan ini rusak di tengah jalan,” tegasnya.
Gus Yahya mengutip keteladanan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang justru membatasi kewenangannya sendiri ketika mendirikan jamiyah, demi menjaga tertib organisasi. “Kalau tatanan ini dirusak, kita mundur seratus tahun ke belakang,” ujarnya sembari menegaskan bahwa “Rapat Harian Syuriyah Itu Bermasalah”
Gus Yahya juga menyinggung persepsi publik bahwa rapat harian Syuriyah yang memicu polemik internal tersebut dinilai cacat prosedur. “Mau tidak mau ini berpengaruh. Ada persepsi kuat bahwa rapat harian Syuriyah itu bermasalah,” katanya.
Menurutnya, keputusan meminta dirinya mundur lahir dari forum yang patut dipertanyakan dasar hukumnya. “Kalau keputusan itu didasarkan pada rapat tanggal 20, ya sejak awal dasarnya bermasalah. Akibatnya semua ikut bermasalah,” ujarnya.
Ia menegaskan dirinya siap mematuhi apa pun keputusan para kiai sepuh NU, selama dilakukan melalui mekanisme yang benar dan menjaga marwah organisasi. Jika, para kiai sepuh meminta adanya forum ketemu dengan Rais Aam dirinya siap dan kapanpun karena ini merupakan perintah dari sesepuh.
“Apa pun jalan keluar nanti, saya siap, dan saya siap untuk ketemu, bahkan sejak kemarin saya sudah memohon untuk ketemu namun tidak diberikan waktu,” pungkasnya. (zed).





































