
Syiddatul Budury, S.Kep.Ns., M.Kep
Dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKK)
DALAM satu dekade terakhir, kehadiran platform berbasis short video seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts telah mengubah pola konsumsi informasi masyarakat, terutama generasi muda.
Konten yang disajikan secara cepat, singkat dan repetitif memang memanjakan otak dalam memperoleh stimulus instan. Namun, di balik popularitasnya, fenomena ini memunculkan masalah serius yaitu penurunan rentang perhatian (attention span) dan dampak terhadap kesehatan mental.
Gejala seperti kesulitan berkonsentrasi dalam jangka panjang, meningkatnya perilaku adiktif terhadap gawai, serta kecenderungan perasaan cemas dan stres kini semakin sering ditemukan pada pengguna aktif platform tersebut.
Laporan Global Digital Overview 2024 mencatat bahwa rata-rata orang menghabiskan lebih dari 3 jam per hari untuk menonton video pendek, dengan dominasi kelompok usia 16–24 tahun.
Sebuah studi dari Microsoft menyebutkan bahwa rentang perhatian manusia kini hanya berkisar 8 detik, turun drastis dari 12 detik pada 2000. Di sisi lain, penelitian psikologi menunjukkan bahwa konsumsi konten singkat berulang dapat memperkuat pola dopamin-seeking behavior, yang mirip dengan mekanisme kecanduan.
Korelasi ini menjelaskan mengapa meningkatnya durasi penggunaan short video seringkali berbanding lurus dengan gangguan tidur, tingkat kecemasan yang lebih tinggi, hingga penurunan kualitas hubungan sosial.
Fenomena ini bermula dari desain algoritma platform yang menekankan pada infinite scroll dan rekomendasi personal. Sistem tersebut dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin dengan menyajikan konten yang sesuai preferensi.
Secara neurologis, otak pengguna mendapatkan “reward” cepat berupa pelepasan dopamin setiap kali menemukan video menarik. Akibatnya, pengguna terbiasa dengan siklus kepuasan instan dan semakin sulit bertahan pada aktivitas yang menuntut konsentrasi jangka panjang, seperti membaca buku, menulis, atau belajar. Seiring berjalannya waktu, ketidakseimbangan ini berkontribusi pada terbentuknya pola pikir yang impulsif serta berpotensi memperburuk kesehatan mental.
Menghadapi fenomena ini, diperlukan pendekatan multi-level. Individu dapat mulai melatih digital self-regulation, misalnya dengan menerapkan batas waktu penggunaan, atau mengganti sebagian konsumsi konten dengan aktivitas mindful seperti membaca atau berolahraga. Dari sisi keluarga dan institusi pendidikan, penting untuk memberikan literasi digital sejak dini agar generasi muda mampu mengelola penggunaan teknologi secara sehat.
Sementara itu, pada level kebijakan, platform penyedia layanan short video perlu lebih bertanggung jawab dengan menyediakan fitur pengingat waktu dan konten edukatif yang proporsional. Dengan kombinasi strategi personal, sosial, dan struktural, kita dapat menyeimbangkan manfaat hiburan dari short video tanpa mengorbankan kesehatan mental dan kapasitas atensi manusia. *








































