“Catatan Ngaji Qalbu bersama Sang Guru Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa; Kitab Maraaqi Al ‘Ubudiyah karya Syeikh Nawawi al-Bantani; Selasa, 19 Mei 2026.”
Oleh: Abdur Rahman El Syarif

SUBUH baru saja membuka matanya ketika suara adzan perlahan mengalun dari menara masjid yang berdiri di ujung kampung. Langit masih pucat kebiru-biruan. Udara dini hari terasa dingin dan lembut. Angin kecil bergerak pelan menyentuh daun-daun yang basah oleh embun, sementara dunia masih setengah tertidur dalam kesunyian. Lalu suara itu datang.

الله أكبر… الله أكبر…

“Allah Maha Besar… Allah Maha Besar”

Kalimat itu melintasi atap-atap rumah, menembus jendela-jendela yang belum terbuka, masuk ke kamar-kamar manusia yang masih gelap. Ia tidak hanya memanggil telinga, tetapi mengetuk sesuatu yang lebih dalam daripada itu: hati.

Dan anehnya, tidak semua orang mendengar adzan dengan cara yang sama. Ada yang mendengarnya hanya sebagai suara biasa yang lewat di udara. Ada yang merasa terganggu kerena tidurnya terputus. Tetapi ada pula hati-hati tertentu yang ketika mendengar adzan, dadanya tiba-tiba terasa basah oleh sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Seolah ada kerinduan lama yang mendadak terbangun dari tidurnya.

Majelis Ngaji Qalbu bersama Sang Guru Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa pagi itu membahas hakikat adzan dalam perjalanan shalat seorang hamba. Kitab yang dikaji ialah Maraqi al-‘Ubudiyah karya Nawawi al-Bantani. Dan Sang Guru berkata perlahan:

“Ketika engkau mendengar adzan, dengarkanlah seakan engkau sedang mendengar panggilan pada hari kiamat.”

Kalimat itu membuat suasana subuh mendadak terasa sangat dalam. Sebab selama ini manusia sering mendengar adzan tanpa benar-benar hadir mendengarkannya. Padahal adzan bukan sekadar penanda waktu shalat. Ia adalah panggilan langit kepada bumi. Panggilan Tuhan kepada hamba-hamba-Nya yang letih oleh kehidupan dunia. Bukankah hidup sering melelahkan?

Manusia bangun pagi dengan pikiran yang penuh. Ada yang memikirkan hutang. Ada yang memikirkan anak-anaknya. Ada yang memikirkan sakit yang tidak kunjung sembuh. Ada pula yang diam-diam sedang menanggung luka batin yang tidak diketahui siapa pun. Wajah mereka tampak biasa di hadapan manusia, tetapi di dalam dadanya ada tangis yang tidak pernah selesai. Dan justru kepada manusia-manusia yang letih itulah adzan datang seperti pelukan dari langit. Seakan Allah berkata:

“Kemarilah. Tinggalkan sebentar dunia yang membebanimu itu. Duduklah di hadapan-Ku.”

Karena itu Rasulullah ﷺ tidak pernah memandang shalat sebagai beban. Ketika hati beliau dilanda kesedihan atau kegelisahan, beliau berkata kepada Bilal: “Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat.” (HR. Abu Dawud)

Betapa indah kalimat itu. Bukan: “istirahatkan kami dari shalat.” Tetapi: “istirahatkan kami dengan shalat.” Karena bagi hati yang mengenal Allah, shalat bukan kewajiban yang memberatkan, melainkan tempat beristirahat dari penatnya dunia. Dan semua itu dimulai dari adzan. Adzan adalah suara rindu. Rindu seorang hamba untuk kembali menghadap Tuhannya. Sebab ternyata, bahkan manusia termulia sekalipun pernah merasakan letihnya kehidupan dunia. Bukankah junjungan kita Nabi Muhammad SAW juga manusia? Beliau memikirkan umatnya. Beliau menanggung hinaan manusia. Beliau menahan lapar. Beliau menghadapi pengkhianatan, peperangan, kesedihan, bahkan kehilangan orang-orang yang dicintainya.

Dada beliau pun pernah sesak oleh beratnya amanah. Mata beliau pun pernah basah oleh tangisan. Namun ketika semua itu menghimpit jiwa beliau, beliau tidak lari kepada dunia. Beliau lari kepada shalat. Seakan hanya di dalam shalat itulah hati beliau menemukan rumah untuk beristirahat. Maka jika Nabi saja menjadikan shalat sebagai tempat menenangkan jiwa, bagaimana mungkin manusia biasa sanggup hidup tanpa benar-benar mengenal shalat? Karena dunia memang melelahkan. Ia menguras pikiran. Menggores hati. Dan kadang membuat manusia merasa berjalan sendirian di tengah keramaian. Tetapi setiap kali adzan berkumandang, sesungguhnya Allah sedang membuka pintu peristirahatan bagi jiwa-jiwa yang letih.

Dan pagi itu, ketika Sang Guru mengucapkan kalimat tersebut dengan suara yang perlahan dan bergetar, suasana Ngaji Qalbu mendadak berubah sangat haru. Tidak ada suara lain selain desir napas dan isak tangis yang mulai pecah di berbagai sudut majelis. Beberapa murid laki-laki tampak menundukkan kepala dalam-dalam, memejamkan mata sambil menggenggam tasbih erat-erat.

Tetapi yang paling tampak larut dalam haru adalah para murid perempuan. Ada yang menutup wajahnya dengan jilbab sambil menangis terisak. Ada yang bahunya bergetar pelan menahan sesak di dada. Dan ada pula yang tiba-tiba menangis begitu keras seakan seluruh luka hidupnya mendadak pecah bersamaan. Sahabat di sampingnya segera memeluk dan menenangkan. Membisikkan istighfar perlahan. Mengusap pundaknya yang gemetar. Suasana subuh itu menjadi sangat basah oleh air mata. Bukan air mata kesedihan dunia. Melainkan air mata hati yang merasa disentuh oleh kasih sayang Allah. Karena mungkin untuk pertama kalinya mereka menyadari bahwa selama ini mereka terlalu lelah menghadapi dunia sendirian. Padahal Allah telah menyediakan shalat sebagai tempat pulang. Sebagai tempat bersandar. Sebagai tempat menangis tanpa dihakimi. Dan bukankah manusia paling kuat pun tetap membutuhkan tempat untuk rebah?

Lalu di tengah suasana yang haru itu, suara Sang Guru kembali terdengar perlahan:

“Kalau hatimu masih gelisah setelah shalat… mungkin yang hadir baru tubuhmu. Hatinya belum benar-benar datang kepada Allah.” Kalimat itu jatuh ke dalam dada seperti hujan yang turun di atas tanah retak. Dan tidak sedikit yang semakin deras menangis dibuatnya. Karena mereka merasa sedang mendengar rahasia hidup mereka sendiri dibukakan di hadapan langit subuh.

Kemudian Sang Guru melanjutkan tausiyahnya:  “Di dalam adzan ada kerinduan untuk segera berjumpa dengan Allah.”

Bukankah setiap cinta selalu memiliki kerinduan untuk segera datang ketika dipanggil? Lihatlah seorang ibu yang sedang tertidur lelap di tengah malam. Tubuhnya letih oleh pekerjaan sepanjang hari. Matanya baru saja terpejam setelah menahan penat yang panjang. Tetapi ketika dari sudut kamar terdengar tangis kecil bayinya, ia segera terbangun. Tanpa menunggu. Tanpa merasa terganggu. Dengan rambut yang masih tergerai lepas dan mata yang belum sepenuhnya terbuka, ia bergegas memeluk anaknya.

Mengapa? Karena cinta membuat seseorang rela meninggalkan istirahatnya demi yang dicintainya.

Dan lihat pula seorang kekasih yang sedang menunggu kabar dari orang yang dicintainya. Malam telah larut. Lampu kamar tinggal redup kekuningan. Orang-orang di rumah telah tertidur. Tetapi ia masih terjaga seorang diri, duduk dekat jendela sambil sesekali memandang langit malam. Tangannya berkali-kali membuka pesan yang sama. Hatinya berdebar hanya kerana menunggu satu kabar kecil. Dan ketika akhirnya suara pesan itu datang, wajahnya mendadak berubah terang. Dadanya bergetar.Matanya hidup kembali.Padahal mungkin hanya beberapa kata sederhana. Tetapi cinta membuat sesuatu yang kecil terasa begitu besar.

Maka bagaimana mungkin seorang hamba mengaku mencintai Allah, tetapi ketika adzan berkumandang, hatinya tidak terusik sedikit pun? Bagaimana mungkin lisan berkata rindu kepada Tuhan, tetapi tubuh masih berat meninggalkan tempat tidur ketika Allah memanggilnya menuju shalat? Padahal yang memanggil itu bukan manusia. Bukan pula makhluk yang lemah. Yang memanggil adalah Tuhan yang selama ini menjaga napasnya, menutupi dosanya, dan tetap memberinya hidup meskipun ia sering lupa kepada-Nya.

Ah…, Mungkin benar, masalah terbesar manusia bukan kerana Allah jauh darinya. Tetapi kerana hatinyalah yang terlalu sibuk mencintai dunia, hingga tidak lagi mampu merasakan getaran panggilan langit.

Sang Guru kemudian membacakan Firman Allah Ta‘ala dalam QS. Thaha: 14:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”

Maka hakikat shalat sesungguhnya bukan hanya gerakan tubuh. Ia adalah perjumpaan. Perjumpaan antara hati yang lemah dengan Tuhan Yang Maha Kuat. Perjumpaan antara hamba yang penuh dosa dengan Tuhan Yang Maha Pengampun. Dan setiap adzan adalah undangan menuju perjumpaan itu.

Pada zaman dahulu, diceritakan ada seorang ulama tua yang hidup sederhana di pinggir kota. Rumahnya kecil dan dindingnya mulai rapuh dimakan usia. Tetapi setiap kali adzan berkumandang, wajahnya selalu berubah. Matanya basah. Tubuhnya gemetar kecil. Lalu ia berkata:

“Ah… Raja langit kembali memanggil hambanya yang hina ini.”

Kemudian ia berjalan perlahan menuju masjid dengan wajah yang penuh harap, seolah seseorang yang sangat miskin baru saja diundang masuk ke dalam istana raja. Begitulah hati orang-orang saleh memandang adzan. Bukan sebagai kewajiban yang mengikat, tetapi sebagai kehormatan yang menghidupkan. Sebab tidak semua manusia dipanggil untuk dekat kepada Allah.

Ada manusia yang hidup puluhan tahun, tetapi hatinya tidak pernah benar-benar mengenal Tuhannya. Mereka sibuk mengejar dunia sejak muda hingga tua. Rumah bertambah besar. Harta bertambah banyak. Pujian manusia semakin tinggi. Tetapi jiwanya kosong. Dan ketika malam tiba, ada kegelisahan yang diam-diam menggerogoti dadanya. Kerana hati manusia sebenarnya tidak pernah kenyang oleh dunia.

Allah Ta‘ala berfirman dalam QS. Ar-Ra‘d: 28

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Ayat itu seperti embun bagi jiwa yang kering. Sebab ketenteraman bukanlah hasil dari banyaknya harta atau tingginya kedudukan. Betapa banyak orang kaya yang sulit tidur. Betapa banyak manusia terkenal yang diam-diam kesepian. Dan betapa banyak orang sederhana yang hidupnya tenang kerana hatinya dekat kepada Allah. Lalu Sang Guru menjelaskan bahawa ketika mendengar adzan, seorang hamba harus mendengarnya dengan lahir dan batin. Telinganya mendengar suara muadzin. Tetapi hatinya mendengar panggilan Allah. Dan siapa yang bersegera memenuhi panggilan itu, kata beliau, akan disegerakan pula pada hari kiamat menuju rahmat Allah.

Bukankah hidup manusia pada akhirnya hanyalah menunggu satu panggilan terakhir? Panggilan ketika ruh dipisahkan dari tubuh. Panggilan ketika manusia berdiri di Padang Mahsyar. Panggilan ketika seluruh dunia yang dibanggakan dahulu tidak lagi berarti apa-apa. Maka orang yang terbiasa datang memenuhi panggilan Allah di dunia, hatinya akan lebih mudah menjawab panggilan-Nya di akhirat.

Dan terasa akhirnya subuh itupun perlahan meninggi. Cahaya matahari mulai jatuh di halaman-halaman rumah. Tetapi selepas majelis itu selesai, ada sesuatu yang tertinggal di dalam dada setiap orang. Sejenis rasa malu kepada Allah. Dan juga rindu yang halus. Rindu untuk suatu hari dapat mendengar adzan bukan hanya dengan telinga, melainkan dengan hati yang benar-benar hidup.

Wallahu A’lamu Bi Ash-Shawab

(Bersambung ke: Wudhu dan Rahasia Penyucian Jiwa)

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry