JOMBANG | duta.co – Aroma perubahan mulai tercium dari tubuh Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Panglungan. Setelah sempat terjerembap dalam pusaran kasus korupsi yang mencoreng nama baiknya, kini perusahaan milik Pemkab Jombang itu mulai bangkit. Di bawah kendali nahkoda baru, Agus Mujiono, langkah-langkah pemulihan langsung digeber.

Prinsip dasarnya sederhana, tapi penuh makna: “Setiap jengkal tanah harus menghasilkan,” bebernya.

Komoditas pilihan pun tak main-main. Tembakau dan semangka ditanam sebagai langkah awal. Bukan hanya karena nilai ekonomisnya yang menjanjikan, tetapi juga karena dua tanaman itu dikenal memiliki siklus tanam yang cepat dan sesuai dengan karakter lahan Panglungan.

“Langkah pertama adalah efisiensi biaya dan peningkatan produktivitas tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan. Karena itu, penanaman kembali kami arahkan ke pola agroforestri terpadu dengan pendekatan blocking system,” tegas Agus Mujiono, Kamis (10/7).

Dari Lahan Tidur ke Lahan Produktif

Di tangan Agus, lahan yang selama ini terbengkalai mulai digarap ulang. Tembakau dipilih karena memiliki pasar tetap, sementara semangka sebagai tanaman sela untuk memaksimalkan hasil sekaligus menyerap tenaga kerja lokal.

“Kami tidak mau lahan tidur. Setiap jengkal harus menghasilkan. Dengan blocking system, risiko gagal panen bisa ditekan, dan diversifikasi tetap jalan,” ujarnya.

Strategi tersebut bukan hanya berdampak pada produktivitas, tetapi juga terhadap perbaikan kondisi keuangan. Setelah bertahun-tahun berkutat dalam defisit, perlahan Perumda Panglungan mulai menunjukkan tanda-tanda pulih.

Lunasi Gaji Pegawai, Efisiensi Jadi Kunci

Salah satu sinyal pemulihan paling konkret adalah pelunasan gaji lima bulan untuk sepuluh pegawai yang sebelumnya tertunda.

“Sesuai arahan Abah Bupati, gaji pegawai harus jadi prioritas. Walaupun hasil panen kopi dan cengkeh kemarin tidak maksimal, namun cukup menutup kewajiban karena pengeluaran perusahaan berhasil ditekan,” kata Agus.

Tak hanya efisiensi biaya operasional, Agus juga memangkas jalur distribusi. Penjualan kini dilakukan langsung ke pemroses tanpa tengkulak, demi harga jual yang lebih adil dan transparan.

Menyalakan Harapan di Tengah Luka Lama

Perumda Panglungan memang masih dibayangi masa lalu. Namun, Agus Mujiono mencoba menyalakan kembali harapan. Ia ingin mengubah wajah BUMD ini menjadi lembaga yang transparan, produktif, dan berkontribusi nyata bagi masyarakat Jombang.

“Saya ingin publik melihat Panglungan bukan sebagai BUMD gagal, tapi sebagai lembaga yang bisa bangkit, bersih, dan memberi kontribusi nyata bagi pendapatan daerah,” pungkasnya. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry