JOMBANG | duta.co – Suara takbir menggema di sela-sela acara pembukaan Diklatsus Provost, Balantas dan Bagana PC Ansor dan Banser Jombang membelah hawa panas yang menyelimuti lapangan Desa Murukan, Kec. Mojoagung. Di antara derap langkah seragam cokelat-hijau yang bergerak kompak, mata para kader memancarkan tekad menjadi Banser bukan hanya soal organisasi, tapi jalan hidup untuk menjaga para kiai, ulama, dan tanah air.

Sebanyak 166 kader muda dari seluruh penjuru Jawa Timur berkumpul dalam Diklatsus (Pendidikan dan Latihan Khusus) untuk tiga satuan penting: Provost, Balantas, dan Bagana. Ini kali pertama pelatihan tiga satuan digelar secara terpadu oleh PC GP Ansor dan Satkorcab Banser Jombang sebuah gebrakan yang bukan sekadar teknis, tapi juga ideologis.

“Ibu cuma bilang, nek wes milih ngelakoni urip dadi Banser, ojo setengah-setengah. Iki laku jihadmu,“ teriak salah satu peserta, menirukan pesan ibunya.

Tiga Nilai, Satu Nafas

Dalam pelatihan ini, para kader tak hanya diajari baris-berbaris, pertolongan pertama, atau pengaturan lalu lintas. Mereka dididik untuk menanamkan tiga nilai utama yang menjadi nafas Banser Setia, Siaga, dan Satria.

Setia berarti teguh menjaga marwah organisasi dan kiai tanpa pamrih. Banser Provost, misalnya, harus mampu menegakkan disiplin tanpa kompromi—termasuk pada sesama anggota sendiri.

“Jangan sampai yang seharusnya menertibkan justru minta diurus. Banser itu harus siap menjadi tameng, bukan beban,” tegas H. Rizza Ali Faizin, Kepala Satkorwil Banser Jatim, saat membuka kegiatan. Jumat (11/7)

Siaga, menjadi prinsip bagi Banser Balantas dan Bagana. Di tengah meningkatnya ancaman bencana dan kecelakaan, mereka dilatih untuk sigap, tidak panik, dan bekerja dengan penuh empati.

“Kita tidak berharap ada bencana. Tapi Banser tidak boleh lengah. Siap siaga itu harga mati,” ujar Kaji Rizza panggilan akrabnya.

Dan terakhir, Satria cerminan jiwa kesatria yang siap menjaga NKRI dan NU kapan pun dipanggil. Jiwa inilah yang membedakan Banser dari kelompok paramiliter biasa. Bagi mereka, menjaga ulama sama mulianya dengan menjaga negara.

Berpikir untuk Masa Depan, Bukan Sekadar Jabatan

Sementara itu Ketua PC Ansor Jombang, Gus Fiqi, menyampaikan pesan yang menusuk kesadaran banyak peserta.

“Sebagai kader Ansor-Banser, kita harus berpikir apa warisan kita untuk generasi setelah kita? Bukan soal apa yang kita peroleh dari organisasi, tapi apa yang kita tinggalkan,” katanya di hadapan para peserta yang tampak mulai lelah, tapi tetap berdiri tegak.

Di balik militansi yang ditunjukkan, para kader ini adalah santri, buruh pabrik, sopir, guru ngaji, bahkan petani. Mereka datang bukan karena disuruh, tapi karena merasa terpanggil. Tanpa gaji, tanpa jaminan. Namun, satu hal yang tak bisa dibeli oleh apapun cinta terhadap para kiai dan bangsa.

Menjaga dengan Cinta, Bukan Dendam

“Banser itu bukan tentara yang punya senjata. Tapi Banser punya cinta,” ujar salah satu peserta, sembari memandangi seragam barunya yang masih berdebu.

Cinta yang membuat mereka rela berjaga hingga larut malam di acara istighotsah. Cinta yang membuat mereka turun ke lokasi banjir, bukan untuk tampil di media, tapi untuk memikul beras ke rumah-rumah warga. Cinta pula yang membuat mereka tetap bertahan dalam organisasi meski sering dicibir.

Diklatsus ini dilakukan selama 3 hari mulai tanggal 11-13 bulan Juli 2025 dan ini bukan hanyalah gerbang awal. Tapi bagi ratusan pemuda yang hadir di Jombang, inilah langkah awal menuju medan juang yang sesungguhnya menjadi Banser yang Setia, Siaga, dan Satria, dengan hati santri dan semangat satria. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry