RICUH : Mobil L-300 L 1219 II milik Facharudin (Muhamad Mahbub/duta.co)

KEDIRI|duta.co – Selang 15 hari pasca kericuhan antar oknum suporter, dari Persikmania Vs Brajamusti pada 2 September lalu, masih menyisakan trauma bagi pemilik toko berjualan di sekitar Stadion Brawijaya. Selain itu, mereka merasa digantung karena belum ada pihak yang bertanggung jawab atas kerugian material yang mereka alami.

Sejumlah pedagang terlihat tak bersemangat memberikan jawaban saat dikonfimasi atas kerugiaan pasca pertandingan Persik Kediri menjamu PSIM Yogyakarta. Sejumlah permainan anak-anak berupa odong-odong hancur oleh ulah oknum suporter. Pun juga warung kopi milik Denok Windi Wulansari berada di utara stadion.

“Kursi, meja sama tenda rusak semua. Konfirmasi dari pihak Panpel Persik juga belum ada. Rencananya kita mau bareng-bareng kesana. Saat ini masih kita data kerusakannya. Nanti kita data yang di belakang lapangan sebelah utara mulai dari barat samapai timur lalu diajukan ke Panpel,” ucap Denok saat dikonfirmasi Selasa (17/9).

Hal sama juga disampaikan M. Facharudin, salah satu pemilik warung, jika dirinya menunggu pendataan ini selesai, kemudian bersama-sama akan menemui Ketua Panpel Persik, Widodo Hunter. “Kita hanya ingin kejelasannya, jika komplain kerusakan ini kemana?,” ujarnya.

Selain warung, mobil miliknya L-300 L 1219 II dalam keadaan terparkir, pecah pada kaca samping dan belakang. Begitu juga pihak Manajemen Tirtayasa Park. Ayub Satria, manager tempat wisata saat dikonfirmasi ke ruang kerjanya, juga menunggu kabar bersama pemilik motor yang dirusak.

“Pertemuan terakhir itu wacananya masih disosialisasikan ke pihak Panpel kepada Pengurus Brajamusti. Entah dari panpel sini membantu sejauh ini belum dapat informasi terbaru,” jelasnya. Satria menjelaskan jika tiga minggu lalu, sempat mendengar ada pertemuan namun kabar kepastiannya, hingga sekarang belum ada pihak terkait yang memberi informasi kepada pihaknya. (nng)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry