Suasana bedah buku di Gedung AUTADA PP Nurul Qadim. Sementara peserta ibu-ibu muslimat dan fatayat berada di ruang sebelah. (FT/MKY)

PROBOLINGGO | duta.co – Ratusan mantan pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU), Muslimat dan Fatayat NU dari berbagai kecamatan, di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, sebagian dari Besuki, Situbondo, Rabu (10/4/2019) mengikuti acara bedah buku ‘NU Jadi Tumbal Politik Kekuasaan, Siapa Bertanggungjawab’ karya Drs H Choirul Anam (Cak Anam red.).

Acara yang berlangsung di Gedung AUTADA (Aliansi Ulama Tapal Kuda), Pondok Pesantren Nurul Qadim, Kalikajar, Paiton,  itu sekaligus menjadi ajang koreksi bagi pengurus NU, baik pusat maupun daerah.

“Kalau saya, judul buku ini bisa dipertajam. NU Jadi Tumbal Penguasa. Faktanya seperti itu. Baik penguasa dalam arti politik (kekuasaan red.) maupun pengurus NU itu sendiri,” demikian disampaikan KH Fauzi Imron, Lc, pengasuh PP Islamiyah Syafi’iyah yang tampil sebagai nara sumber di bedah buku tersebut.

Menurut Kiai Fauzi, NU sudah punya pengalaman ‘pahit’ bagaimana ikut berebut kekuasaan. Bahkan tokoh-tokoh NU saat itu sempat ‘ngambek’ karena pada prakteknya selalu dikadali. Lebih dari itu, tokoh-tokoh NU harus menelan ‘pil pahit’.

“Tahun 1971, banyak tokoh NU ditangkapi, dipenjara bahkan dipukuli. Karena itu, keputusan NU kembali ke khitthah 1926 tahun 1984, konsentrasi sebagai jamiyah diniyah harus diperkuat. Hari ini, posisi NU bahaya sekali, sudah keluar dari rilnya,” tegasnya.

Hal yang sama disampaikan Cak Anam. Menurutnya NU sekarang sudah terperangkap politik praktis. Lompatnya Rais Aam PBNU (KH Ma’ruf Amin) sebagai Cawapres Jokowi adalah musibah besar bagi NU.

“Rais Aam itu ibarat jantung organisasi. Demi kekuasaan, jantung NU sekarang dicomot begitu saja. Padahal, untuk menjadi Rais Aam, harus melalui baiat, isinya tidak boleh tergiur iming-iming politik. Bahkan kalau masih ada yang melekat pada dirinya saat itu, harus dilepaskan,” jelas Cak Anam.

Lebih parah lagi, tambahnya, seluruh pengurus jamiyah NU sekarang sudah didorong masuk ‘jurang’ politik praktis. Sampai ada Ketua NU yang mengatakan, kalau ada warga NU tidak pilih Jokowi, itu warga NU goblok.

“Jadi, NU sudah dijadikan alat politik merebut kekuasaan. Demi kekuasaan sampai tega mengatakan warga NU yang tidak pilih Jokowi disebut goblok,” tegasnya.

Muncul Istilah ‘Ketua NU Goblok’

Tak kalah menarik ketika dibuka sesi tanya jawab. Ustad Mahrus misalnya, setuju dengan pendapat, bahwa, rusaknya bangsa ini, termasuk pengurus NU, tidak lepas dari liberalisasi UUD 1945 pasca amendeman. Ini membuat orang semakin rakus jabatan.

“Masalahnya bagaimana cara kembali ke UUD 1945 yang asli? Partai apa yang bisa diserahi tugas ini?” katanya sambil berharap Pilpres 17 April nanti terpilih presiden yang paham soal konstitusi.

Sementara Ustad Romli dan Arief Junaidi berharap gerakan penegakan khitthah diperkuat. Jika perlu dibentuk di setiap daerah. “PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyyah) dan Komite Khitthah yang digagas dzurriyah muassis NU, perlu dimasifkan. Faktanya umat sudah tidak bisa berharap kepada struktural,” tegas Cak Arief, panggilan akrabnya.

Hal yang sama disampaikan seorang pengurus ranting di Paiton yang masih aktif. “Saya pengurus ranting. Saya sendiri heran, begitu dipilih sebagai Cawapres, Kiai Ma’ruf menggiring warga NU kembali ke salah satu partai. Apa yang seperti ini dibenarkan,” tegasnya.

Koreksi lebih tajam disampaikan Jumanto, moderator bedah buku. Menurut Jumanto, struktur NU sekarang, sudah kelewatan mempolitisasi organisasi. Gaya NU sudah model partai politik. Lebih miris, katanya, posisinya sekarang di bawah kendali partai pengusung Jokowi.

“Saya sedih mendengar Ketua NU menggunakan diksi ‘goblok’ bagi nahdliyin yang tidak memilih Jokowi. Ini bukan bahasa pimpinan NU. Kalau begini, jangan salahkan kalau warga NU justru mengatakan ‘Ketua NU Goblok’. Tugas pengurus NU itu bukan untuk memenangkan Jokowi, masak gak paham-paham,” jelas Jumanto usai acara kepada duta.co.

Seperti diberitakan detik.com, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim KH Marzuki Mustamar meminta semua warga NU mendukung Capres Joko Widodo. Menurutnya dalam kepemimpinan Jokowi, umat Islam digalakkan menggelar salawatan.

Biyen ora usum salawatan, saiki usum salawatan. Lha ngene kok enek wong NU ora dukung, berarti wong NU goblok (Dulu tidak musim selawatan, sekarang musim selawatan. Lah begini kok ada orang NU tidak mendukung, berarti orang NU goblok,” kata Ketua PWNU Jatim Marzuki saat berorasi, Minggu (7/4/2019).

Menurut mantan Ketua MWCNU Pakuniran ini, kalau ada ketua NU menggoblok-goblokan warganya, itu justru menunjukkan dirinya yang goblok. “Saya melihat ini semua karena jualan NU yang kelewatan, sehingga kata-katanya keluar dari adab seorang pemimpin,” ujarnya.

Padahal, urainya, tolok ukur memilih pemimpin (dalam Islam), itu jelas. Carilah sosok yang bisa memberikan maslahat kepada umat.  Bisa menjaga agama, bisa menjaga harta (kekayaan negara), bisa menjamin (pekerjaan) bagi rakyatnya.

“Dari semua itu, Jokowi gagal. Dia gagal menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya, dan mementingkan tenaga kerja asing (TKA). Sementara kekayaan kita melayang ke asing, Utang pemerintah semakin menumpuk.  Lalu, apa yang dibanggakan?” tanyanya.

Karena itu, lanjutnya, kalau ada Ketua NU bilang warga NU tidak memilih Jokowi, itu goblok, maka, yang terjadi sebaliknya. Ketua NU yang goblok. “Karena kata ini sesungguhnya tidak layak diucapkan seorang ketua NU. Ingat! Ahmad Dhani saja diadili gara-gara kata idiot,” jelasnya. (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.