SURABAYA | duta.co – Diam-diam Jokowi menjadi buah bibir bersama. Hampir semua orang menyebutnya sebagai presiden tak sabaran. Sebagai Capres petahana Jokowi justru menghiasi diri dengan sindiran-sindiran tajam ke kubu penantangnya, Prabowo-Sandi. Tim Prabowo-Sandi pun menilainya seperti oposisi.

“Saya menangkap setelah mendapat julukan ‘Jancuk’ Jokowi semakin agresif menyerang. Uniknya tidak sedikit menjadi senjata makan tuan. Kalau begini, publik akan membenarkan julukan ‘Jancuk’ tersebut. Kesannya menjadi benar, jare (kata red) Arek Suroboyo: Asli ‘jancukan’,” jelas Hendro T Subiyantoro kepada duta.co, Rabu (6/2/2019).

Jokowi sendiri mengatakan, serangan yang dia lakukan sebagai bentuk ofensif terhadap isu yang dialamatkan ke dirinya. Dia mengatakan tak mau hanya berdiam saja.

“Ya kampanye kan perlu ofensif, masa kita 4 tahun suruh diam saja. Ya nggaklah. Jadi 4 tahun diam, masa suruh neruskan,” kata Jokowi di kediaman Akbar Tandjung, Jl Purnawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (5/2/2019).

Salah satu pernyatannya Jokowi yang dinilai menyerang kubu lawannya yakni, ada tim sukses yang mencoba mengadu domba dengan menggunakan propaganda ala Rusia. Istilah ‘propaganda Rusia’ ini kemudian ramai ditanggapi, termasuk pemerintah Rusia sendiri.

Terkait istilah propaganda Rusia itu, Jokowi menegaskan hal itu hanya terminologi dari artikel yang dia baca di Reins Corporation. Tidak ada hubungannya degan negara Rusia.

“Ya memang tulisannya seperti itu, bahwa yang namanya semburan kebohongan, semburan dusta, semburan hoaks itu bisa mempengaruhi dan membuat ragu dan membuat ketidakpastian. Dan itu biasanya di negara-negara lain tanpa didukung oleh data-data yang konkret ya memang seperti itu,” jelas Jokowi.

“Sekali lagi ini bukan urusan negara kita denga Rusia,” imbuhnya.

Cawapres 02, Sandiaga Uno mengaku ada kawannya dari Rusia yang memprotes negaranya ikut dibawa-bawa ke urusan politik di Indonesia. “Memang kemarin ada rekan-rekan dari Rusia, kawan-kawan saya bertanya, ‘apa maksudnya ini, apakah kami dituduh mencampuri urusan Indonesia?’,” kata Sandiaga menirukan protes dari kawannya dalam wawancara dengan wartawan di lapangan basket Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (5/2/2019).

Kepada sang teman, Sandiaga menyatakan untuk tidak terlalu menanggapi. Ia juga mengaku tak ingin menambah kegaduhan atas pernyataan Jokowi tersebut. “Saya bilang jangan terlalu ditanggapi karena ini tahun politik semua, semua yang disampaikan itu mungkin ada urusannya dengan politik dalam negeri. Tidak ada urusannya dengan persahabatan kita dengan Rusia,” ucapnya.

Sandiaga berharap agar pernyataan Jokowi tak berdampak pada hubungan antara Indonesia dengan Rusia. “Jangan terlalu dibesar-besarkan, kita harapkan polemik yang disampaikan pak Presiden ini tidak dijadikan ajang sahut-menyahut dan akhirnya merusak hubungan internasional kita,” tutur dia.

Eks Wagub DKI ini juga membantah dirinya dan capres Prabowo Subianto menyewa jasa konsultan asing untuk memenangkan pilpres. Sandiaga menyatakan konsultan terbaik mereka adalah rakyat.

“Saya ditanya, ‘Pak Sandi pakai konsultan asing nggak?’ Memang tidak pernah kami pakai konsultan asing, dan kami mendapatkan masukan justru masukan itu dari 1.180 titik yang sudah kami kunjungi di Indonesia. Justru itu konsultan kami yang terbaik. Data-data terbaik kami itu dari rakyat,” sebutnya.

Tak hanya itu, Sandiaga juga mengajak para pendukungnya untuk tak terprovokasi bila diserang secara politik. Bersama Prabowo, ia mengaku menjunjung tinggi demokrasi yang damai sehingga tak perlu ada pertengkaran.

“Kalau kita diserang terus, janganlah kita terpengaruh, jangan terprovokasi. Kita demokrasinya merangkul, bukan memukul, kita demokrasinya mengajak, bukan menyikut. Kita demokrasinya tidak saling serang, tapi kita berpelukan. Ini demokrasi ala Prabowo-Sandi, demokrasi adil dan makmur,” pesan Sandiaga saat berkampanye di Solo. (mky,dct)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.