
SURABAYA | duta.co – Nasehat pernikahan oleh Prof Dr KH Moh Ali Aziz, rasanya masih membekas dalam benak warga Graha Permata Desa Sidorejo Indah (GPSI), Desa Sidorejo, Kencamatan Krian, Sidoarjo. Nasehatnya dinilai padat, singkat dan penting bagi keluarga masa kini yang, banyak terkontaminasi ‘limbah’ dunia.
“Singkat, padat dan masuk. Beliau berikan 10 buku untuk menjadi pegangan hidup berkeluarga. Dari pentingnya salawat, menjadi ‘pasangan berbintang’ sampai khasiat Burdah Al-Bushiry dalam kehidupan. Sudah begitu suruh buat resume lagi,” demikian disampaikan Drs Abdul Wahid, Ketua Takmir Masjid Al-Ikhklas GPSI kepada duta.co, Minggu 8 Juni 2025 sambil tersenyum.
Tidak lama. Hanya sekitar 20 menit. Tapi wejangan itu setara dengan 10 jam nonstop. Nasehat pernikahan tersebut disampaikan dalam acara walimatul ursy, pernikahan Sovie Dina Kumala dan Muhammad Azharudin. “Saya hanya minta didampingi Mas Azhar. Ini penting, karena rumah tangga sekarang banyak terkontaminasi ‘limbah’ dunia,” demikian Prof Dr KH Moh Ali Aziz mengawali nasehatnya.

Ada 10 buku yang sudah dipersiapkan Prof Ali, panggilan akrabnya. Semua merupakan karya tulisnya. Setiap buku dijelaskan ‘sari pati’-nya. “Sampean sudah hafal doa berkumpul bersama istri,” tanyanya kepada Azhar yang berdiri tegap di sebelahnya.
“Belum,” jawabnya polos. Kalimat lugas ini langsung diaprersi Prof Ali: “Bagus. Kalau sudah hafal, justru mengundang tanya,” tegas Prof Ali disambut gerr ratusan undangan walimah.
‘Sari pati’ buku-buku itu pun disampaikan. Sebagai pondosi kehidupan, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya ini, minta keluarga tidak berhenti membaca salawat untuk Kanjeng Nabi. Ia kemudian melantunkan salah satu Salawat Nabi ‘Adrikni’ berikut keutamaanya. Lalu, mengajak undangan untuk membayangkan tengah bergandeng-tangan dengan Kanjeng Nabi.
“Rahmat dan sejahtera semoga dicurahkan kepadamu wahai Rasulullah. Peganglah tanganku, sedikit sekali upayaku maka temukanlah aku,” jelasnya seraya mengajak ratusan undangan untuk bersalawat: Assholaatu wa salaamu ‘alaika yaa sayyidi yaa Rasulallah khudz biyadii qollat hiilatii adriknii.
“Barang siapa yang susah hajatnya, perbanyaklah salawat atasku (Kanjeng Nabi). Sebab memperbanyak salawat kepadaku dapat menyebabkan hilangnya kesusahan, dan tambah rizkinya, terpenuhi hajatnya,” tambah Prof Ali seraya meminta grup banjari untuk mengikuti dengan lugas, tanpa bunyi rebana salawat yang popular dengan istilah khudz biyadii ini.
Setelah itu, ia menjelaskan satu persatu isi buku yang dipegangnya. Lalu diterimakan kepada Azhar, panggilan akrab alumni PP Pondok Gontor sebagai mempelai pria. Prof Ali juga menyitir sejumlah syair Arab yang berkaitan dengan nama Sovie dan Azhar. “Saya yakin tahu artinya, karena dia santri Gontor. Begitu juga Sovie, dia mahasiswi saya di pasca UIN SA,” tegasnya.

Buku-buku itu, memang, sangat menarik, perlu dibaca, dipahami dan diamalkan sebagai perisai hidup. Dari kumpulan salawat kepada Kanjeng Nabi, ada buku bertajuk ‘Pasangan Berbintang’, ‘Dzikir Afirmatif’, ‘Bersiul di Tengah Badai’, ‘Doa Kesembuhan’, ‘Ayat-ayat Ruqyah’, ‘Doa-doa Keluarga Bahagia’, ‘60 Menit Terapi Shalat Bahagia’, ‘Terapi Was-was’, ‘Renungan Lima Menit Setiap Pagi (RELIGI)’ sampai Instropeksi Melalui Burdah Al-Bushiry.
“Mas Azhar tugasnya meresume buku-buku tersebut,” jelasnya disambut tawa lepas hadirin. Turut hadir dalam walimatul ury itu, KH Abdullah Muchit (Malang), KH Ali Mustawa, KH Husein Umar, dan sejumlah tokoh masyarakat sekitar. (mky)






































