SEMARANG | duta.co – Satu tahun perjalanan Gerakan Kebangsaan (Gerbang) Watugong Jawa Tengah menapaki perjuangan menjaga persaudaraan lintas iman menujukkan eksistensi yang luar biasa.

Peringatan Satu Tahun Gerbang Watugong dihelat dengan Sarasehan Kebangsaan dan Gelar Budaya di Aula Viahara Watugong Semarang ini. Hadir dalam perayaan tersebut seluruh jejaring Gerbang Watugong sebanyak 50 organisasi

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Tengah KH Taslim Syahlan sekaligus inisiator Gerbang Watugong menerangkan, Gerakan Kebangsaan Watugong lahir dari pertemuan beberapa organiasi lintas agama pada tanggal 14 September 2020.

“Awalnya kita bermusyawarah guna merespons masih maraknya kasus-kasus intoleransi di Jawa Tengah. Kemudian disepakati sebuah komitmen bersama yang kemudian dinamakan Piagam watugong,” kata Taslim usai kegiatan, Minggu (10/10/2021) sore.

Taslim menyebut beberapa organisasi antara lain; Generasi Muda (Gema) FKUB Jawa Tengah, Gusdurian Jawa Tengah, Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Jawa Tengah, Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Jawa Tengah bersama Humanity First, Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Kota Semarang, Pondok Pesantren Roudlotussolihin Sayung Demak, organisasi penghayat kepercayaan, dan berbagai organisasi keagamaan menyepakati isi rumusan Piagam Watugong.

“Ada tiga pokok pikiran besar yang kami sepakati. Pertama, penguatan nilai-nilai Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945. Kedua, penguatan moderasi beragama dan Kepercayaan Terhadap Tuhan YME. Ketiga, Penguatan toleransi, solidaritas kemanusiaan dan silaturahmi kebangsaan. Piagam Watugong ini ditandatagani dan dideklarasikan pada 10 Oktober 2020,” kata Taslim.

Taslim pun menegaskan bahwa Gerbang Watugong merupakan rumah bersama bagi semua organisasi yang berkomitmen menjaga keutuhan NKRI tanpa membedakan suku, agama, ras, antargolongan dan etnik. “Semua memiliki ‘saham’ yang sama untuk bersama-sama merawat kerukunan umat beragama dan berkepercayaan terhadap Tuhan YME,” tegasnya.

Dosen Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang ini melanjutkan, Sarasehan Kebangsaan dan Gelar Budaya menjadi pilihan kegiatan hari ulang tahun (HUT) pertama dengan tujuan untuk meneguhkan kembali komitmen yang telah diteguhkan tahun lalu. Kedua, merumuskan arah Gerakan kebangsaan ke depan yang lebih konstruktif dan bermanfaat untuk bangsa.

“Ketiga, untuk memberi peluang kepada organisasi-organisasi yang berkeinginan bergabung ke dalam Gerbang Watugong,” ungkapnya.

Gerbang Watugong ini bukan hanya milik FKUB, lanjutnya, tetapi milik semua yang terhimpun di dalamnya. Jadi semua punya ‘saham’ yang sama. “Alhamdulillah, sekarang sudah ada sebanyak 50 organisasi yang berbagung. Ketika piagam Watugong ini ditanda tangani pada 10 Oktober tahun lalu baru 43 organisasi,” urainya.

“Karena itu saya berharap ke depan akan lebih banyak yang bergabung. Setiap momentum Ulang Tahun Gerbang Watugong, semakin banyak elemen bangsa ini yang turut berkontribusi dalam mempercepat terwujudnya Moderasi Beragama dan Berkepercayaan Terhadap Tuhan YME,” harapnya.

Sementara, Ketua Kanwil Kemenag Jateng H Musta’in Ahmad mengatakan, komitmen kebangsaan yang dibangun oleh FKUB Provinsi Jawa Tengah dan seluruh jejaring Gerbang Watugong ini sungguh sangat strategis.

“Para tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh budaya yang hari ini berkumpul untuk meneguhkan kembali rasa kesatuan sesama anak bangsa tidak saja usaha mulia. Lebih dari itu semangat untuk terus merawat kerukunan umat beragama ini merupakan gerakan setrategis dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sama-sama kita cintai,” tandasnya.

Senada, Kepala Badan Kesbangpol Jawa Tengah, Haerudin juga mengapresiasi Gerbang Watugong. Bahkan, dia turut menegaskan bahwa kokohnya kerukunan umat beragama dan berkepercayaan terhadap Tuhan YME merupakan kapital yang mahal bagi Jawa Tengah.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini, yang melibatkan lima puluh organisasi, Lembaga, komunitas dan lain sebaginya. Setiap upaya untuk menjaga tetap kokohnya persatuan dan kesatuan bangsa ini harus terus kita dukung bersama,” ujarnya menekankan.

Musik Universal

Koordintor Pelita Kota Semarang, Setyawan Budi usai menikmati alunan musik rebana dalam gelaran tersebut mengatakan musik yang diidentik dengannumat islam tersebut sejatinya universal, dapat dinikmati semua orang.

“Kami memang sengaja menyuguhkan rebana ini biar teman-teman non muslim juga bisa menikmati alunan musik yang sejatinya universal ini. Musik dan lagu Islami juga bisa dinikmati semua orang,” tutur pria yang akrab dipanggil Wawan.

Ungkapan senada terucap dari Ketua PGI Jawa Tengah, Pdt Heru. Menurutnya perayaan satu tahun Gerbang Watugong sangat menarik. Sedikitnya, para peserta dapat menikmati karya budaya seperti rebana dan barongsai. “Saya senang juga mendengar dan menikmati lagu-lagu religi seperti rebana ini,” akunya.

Yang tidak kalah menarik, penampilan Barongsai dari Genta Suci Klenteng Ambarawa asuhan Ws Liem Ping An. Menurut tokoh senior agama Konghuchu dan juga pengurus FKUB Provisi Jawa Tengah ini, penampilan Barongsai selalu ada narasi atau cerita yang sesuai dengan tema kegiatan.

“Barongsai kali ini menampilkan cerita tentang kerukunan umat beragama. Karena memang harus dengan tema sarasehan yakni konteks kebangsaan,” ujar Liem Ping An. (rif)

Para pegiata Gerbang Wtugong berfoto bersama usai kegiatan (dok)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry