
BAGU | duta.co — Luar biasa kalau sudah berbicara soal Nahdlatul Ulama. Itulah Tuan Guru Haji Lalu Muhammad Turmudzi Badruddin. Pada tanggal 1 April 2026 nanti beliau genap berusia 90 tahun. Termasuk kiai sepuh NU paling senior. Kondisi kesehatannya sekarang sedang tidak baik-baik saja karena faktor usia. Namun semangatnya luar biasa apabila berbicara tentang Nahdlatul Ulama, jam’iyah yang dicintainya.
“Beliau mengatakan ingin melihat Muktamar NU ke 35 nanti diselenggarakan di Ponpesnya. Beliau siap menjadi tuan rumah dan melayani muktamirin ” demikian kata Suaeb Qury, SH.I, MAg, Mantan Ketua PW GP Ansor NTB 2010-2014 yang sekarang menjabat sebagai Wakil Sekretaris PW NU NTB, Ketua FGKMNU NTB dan Ketua LTN PW NU NTB.
Hal yang sama juga dikatakan oleh seorang kjai yang dekat dengan Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhar yang tidak mau disebut namanya. Bahwa Tuan Guru Turmudzi pernah menyampaikan keinginannya untuk melihat muktamar NU digelar diponpesnya. Hal tersebut diutarakan Tuan Guru Turmudzi kepada Rais Aam pada kesempatan mereka berdua bertemu pada beberapa waktu silam.
Tuan Guru Haji Lalu Turmudzi Badaruddin merupakan Mustasyar PBNU dan kiai sepuh NU yang sangat dihormati oleh umat Islam serta pejabat negeri ini. Beliau lahir pada 1 April 1936 di Bagu, Lombok Tengah, dan mendirikan Ponpes Qomarul Huda Bagu pada 1 April 1962, yang kini menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar dan tertua di NTB. Beliau juga dikenal dekat dengan (almarhum) mantan Presiden Gus Dur dan sering disambangi oleh berbagai tokoh nasional.
Menurut Suaeb Qori, PWNU NTB dan Ponpes Qomarul Huda sangat siap menjadi tuan rumah Muktamar NU ke 35. Infrastruktur untuk menggelar even nasional terbesar NU tersebut sudah cukup memadai.
Komplek pondok pesantren yang sangat luas, yang terdiri dari asrama pondok pesantren, gedung – gedung sekolah dari TK sampai perguruan tinggi sudah tersedia sebagai arena Muktamar dan penginapan peserta. Dan juga ada rumah sakit milik ponpes yang siap sedia melayani para muktamirin dan jamaah NU apabila ada yang mengalami gangguan kesehatan.
Sedangkan akses menuju lokasi ponpes dan transportasi juga cukup baik. Jarak antara Bandara Internasional Lombok (Zainuddin Abdul Madjid) dengan Ponpes Qomarul Huda di Desa Bagu, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah sekitar 25-30 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 45-60 menit menggunakan kendaraan pribadi atau taksi, tergantung kondisi lalu lintas. Ponpes Qomarul Huda cukup dekat dengan Bandara Lombok.
Sedangkan fasilitas akomodasi di sekitar ponpes dan Kota Praya, ibukota Lombok Tengah, lebih dari cukup bila untuk menampung para jamaah NU yang turut hadir memeriahkan muktamar NU. Terdapat 18 pilihan akomodasi di kota Praya dan sekitar 500 properti di wilayah Praya yang mencakup area sekitar Bandar Udara Internasional Lombok. Dari hotel bintang 5 sampai hotel melati.
Selain ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai, yang lebih penting adalah dukungan warga NU NTB yang sangat antusias menyambut gelaran Muktamar NU ke 35 di daerahnya. Dan pihak pemerintah Lombok Tengah dan Provinsi NTB terlihat tampak sangat mendukung even nasional tersebut. Bahkan tersiar kabar bahwa ada pejabat tinggi di Jakarta yang dekat dengan Tuan Guru Turmudzi juga sudah melakukan komunikasi dan koordinasi dengan beberapa tokoh di NTB untuk terselenggaranya Muktamar NU di NTB.
” Yang paling penting perlu diperhatikan adalah merupakan keinginan dari Tuan Guru Turmudzi untuk melihat Muktamar NU digelar di ponpesnya, marilah kita penuhi keinginan sesepuh kita semua. Sudah selayaknya NU menghormati dan menghargai jasa – jasa besar beliau dalam mensyiarkan agama Islam dan membesarkan jam’iyah NU di kawasan Nusa Tenggara sejak beliau masih muda,” demikian Suaeb Qori menutup pernyataannya. (*)






































