PENDIDIKAN : Refleksi hari buku digelar di Lereng Gunung Klotok (Kintan Kinari Astuti/duta.co)

KEDIRI|duta.co – Buku bukan sekedar kertas dan coretan di setiap lembarannya. Buku adalah realitas tersendiri dalam memandang dunia dan alam raya. Apalagi, bagi anak-anak, membaca buku harus dibiasakan sedini mungkin. di samping anak – anak kini disibukkan dengan game online yang kian tidak mendidik. Sehingga dengan membaca akan terbuka cakrawala ilmu pengetahuan. Selain tentang kecerdasan diri, kecerdasan spiritual, kepekaan lingkungan, dan peduli sosial. Harapannya, tradisi membaca buku semestinya menjadi kebiasaan yang baik di era milenial.

Refleksi Hari Buku Anak se – Dunia dikemas apik Komunitas Cangkir Nusantara mengambil tempat di alam bebas tepatnya di Lingkungan Lebak Tumpang Kelurahan Pojok, Jumat kemarin. Puluhan anak begitu antusias mengikuti selama acara ini. Disampaikan Ari Hakim, selaku penanggung jawab acara, kegiatan ini untuk mengembalikan tradisi membaca buku khususnya kepada anak – anak di era milenial.

“Kegiatan ini dalam rangka Refleksi Hari Buku se – Dunia kebetulan persisnya jatuh 1 April. Tujuannya mengajak kembali anak – anak agar muncul tradisi membaca buku. Karena di era milenial ini kebutuhan membaca buku itu penting. Sekarang ini banyak gadget, makanya anak – anak jarang membaca buku. Dengan momentum ini diperingati sekaligus memberi motivasi agar mereka banyak membaca,” jelasnya.

Adapun kegiatan diisi belajar Bahasa Inggris, menggenalkan alam, meningkatkan kepedulian atas sampah dan dilanjutkan penanaman pohon di Lereng Gunung Klotok. “Kegiatan kita belajar Bahasa Inggris sebagaimana rutin setiap hari Jumat, kemudian anak-anak kita ajak jelajah ke alam. Karena area sini dekat dengan Gunung Klotok. Tujuannya agar anak – anak kenal alam lingkungan peduli sampah. Lalu kita ajak menanam pohon sebagai wujud kita cinta ibu pertiwi. Pengajarnya dari Kampung Inggris Pare dan kita sebagai relawan,” jelas Ari Hakim.

Ada satu pesan positif hendak disampaikan dalam acara ini, memunculkan semangat gotong royong dikalangan anak – anak. Meski mereka saat ini belajar dengan sistem online, namun tetap memiliki jiwa kemanusiaan. “Secara umum memunculkan semangat gotong royong. Dengan anak – anak dipaksa sekolah online. Kalau bicara pendidikan harus tetap bertemu tatap muka walaupun seminggu beberapa kali. Itu sangat membantu spirit mereka untuk belajar karena kalau online problemnya banyak. Kadang sinyal paket data dan beban orang tua semakin berat karena mayoritas anak petani dan buruh,” ungkapnya.

Dukungan disampaikan Edi Lukito selaku Ketua RT. 08 RW. 05 Kelurahan Pojok, menurutnya acara ini dalam rangka mencerdakan anak di lingkungannya. “Mencerdaskan anak di lingkungan sini biar mengenal alam dan mengerti Bahasa Inggris. Semua tokoh masyarakat telah saya beritahu dan mereka mendukung semua. Awalnya yang ikut 40 anak, anak – anak jadi full kegiatan karena bola sore mereka belajar di TPQ,” jelasnya. (nng)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry