HARMONI : Anak – anak SDI Rahmat menikmati permainan jaman dulu dalam pertemuan tahunan (Irfan Marzuki/duta.co)

KEDIRI|duta.co – Tingkat kegemaran generasi muda usia sekolah terhadap ponsel pintar semakin mengkhawatirkan. Indikasi rewel disertai marah-marah saat anak dibatasi untuk bermain dengan alat komunikasi jenis android, bisa dikategorikan kecanduan yang harus segera diatasi. Peran orang tua sangat penting untuk mencegah kecanduan gadget menawarkan sejumlah game dan sekolah memiliki peran penting untuk selalu terlibat memberi edukasi kepada siswanya.

Mengenalkan permainan jadoel jaman dulu, menjadikan tema acara pertemuan diadakan SD Plus Rahmat Kota Kediri kali ini. Pertemuan anak bersama orang tuanya, digelar Sabtu (22/02) bertempat di Taman Hiburan Tirtayasa. Ditemui usai acara, ketua panitia, Rizal Indrayana Yunanto, menyampaikan bahwa peserta sangat antusias dengan tema kali ini. Tercatat sekitar 600 peserta mengikuti acara ini dan dibuka Oktafando Ali Bahar, selaku Kabid Kurikulum pada Dinas Pendidikan Pemerintah Kota Kediri.

“Tujuan utama event ini adalah mengenalkan kekayaan khasanah permaianan tradisional asli nusantara dan menekan kecanduan penggunaan gadget oleh siswa. Juga mengajak orang tua siswa untuk nostalgia dan mengingat kembali permainan tradisional tempo dulu sakaligus membantu orang tua agar bisa mengenalkan permainan masa kecil kepada putra putrinya,” terangnya.

Rizal yang juga tenaga pengajar kelas 2 SD, menyebutkan bahwa ada masukan orang tua tentang indikasi beberapa siswa yang muali bandel dan sulit dibatasi dalam menggunakan pinsel pintar. Acara seperti ini menjadi sinergi yang sangat ideal antara sekolah dan orang tua untuk saling bekerjasama mendidik dan mengajar anak-anak mereka.

Terlihat siswa peserta menikmati acara ini, seperti membuat senapan dari pelepah pisang. Menjadi salah satu pilihan oleh-oleh karya sendiri untuk dibawa pulang. Sedang siswa perempuan memilih kalung dari batang daun hasil buatan sendiri sebagai kenang-kenangan. “Beberapa wahana permainan seperti tembak plethokan dari  buluh bambu, kapal uap dari seng, permainan dakon dan bola bekel selalu ramai dikunjungi peserta yang ingin tahu cara bermain dan memainkannya,” jelas Rizal Indrayana Yunanto.

Mewakili SD Plus Rahmat, Rizal berharap semoga kegiatan seperti ini bisa dicontoh sekolah lain. “Tidak masalah jika sekolah dan instansi lain ada yang mencontoh persis acara ini. Justru semakin bagus untuk lestarinya permainan anak yang mendidik dan memiliki nilai lebih bermanfaat daripada anak bermain ponsel pintar,” terangnya. (fan/nng)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry