JAKARTA | duta.co – Ternyata, semangat warga NU memilih Capres (Calon Presiden) dari internal nahdliyin begitu kuat. Setelah menuai pro-kontra dari sejumlah kalangan, kini pelaksanaan proses penjaringan Capres NU 2024 mulai mengerucut pada persaingan diantara para kandidat.

Kompetisi itu mulai memanas terutama dilihat dari grafik perolehan dukungan warganet (wahdliyin) yang banyak menimbulkan kejutan-kejutan. Misalnya, di level pertama kandidat Andi Jamaro Dulung (23%), menempati ranking pertama. Ia meninggalkan dua Ketua Umum yakni Ketum PBNU Said Agil Siraj (6,2%) dan Ketum PKB Muhaimin Iskandar (15,7%).

“Tapi grafik dukungan ini masih sangat dinamis karena belum semua kandidat menghidupkan mesin politiknya untuk meraup dukungan secara maksimal,” demikian Warida Ahmad, anggota Tim Sembilan usai merilis hasil polling tahap pertama, (Kamis 10/6/21) bersama seluruh anggota Tim Sembilan.

Dalam level pertama ini, selain ada Andi Jamaro, ada Muhaimin Iskandar, juga ada kandidat Mahfud MD (16,9%). Di bawah tiga besar tersebut, pada level kedua juga terjadi kejutan-kejutan karena Endin AJ Sofihara (9,0%) dapat mengalahkan Khofifah Indar Parawansa (6,7%) dan Said Agil Siraj (6,2%).

Bahkan pada level ketiga pun terjadi kejutan yang tak kalah serunya, yakni munculnya nama Nasaruddin Umar (3,4%) yang dapat duduk se-level bersama Yaqut Cholil Qoumas (3,9%) dan Yeni Wahid (3,9%). “Itu belum termasuk kejutan adanya kesamaan hasil antara Yaqut dan Yeni yang cenderung satu barisan hasilnya, baik ketika grafiknya naik maupun menurun,” tandas mantan Ketum PC PMII DKI itu.

Diakui Warida bahwa fluktuasi dukungan warga NU yang diberikan secara virtual melalui polling ini banyak dipengaruhi oleh belum maksimalnya partisipasi mereka dalam menentukan pilihan. Tapi, mantan aktifis GP Ansor itu itu yakin bahwa kompetisi diantara kandidat ini akan semakin memanas.

“Kalau masing-masing kandidat sudah mulai tersadarkan bahwa kerja Tim Sembilan ini benar-benar profesional dan independen. Apalagi niat kita ini tulus semata-mata untuk kepentingan warga NU dan masa depan NKRI. Coba bayangkan, jumlah warga NU yang mencapai sekitar 50% dari total umat Islam di Indonesia itu masak nggak bisa mempersembahkan kader terbaiknya untuk mengantarkan ‘Indonesia Emas’ kepada ibu pertiwi?” tandasnya.

Kendati demikian, Warida mengakui bahwa masih ada yang kurang respek  terhadap munculnya gagasan Konvensi Capres NU ini. “Mungkin masih ada yang menganggap ini lelucon, ya nggak apa-apa. Kami harus berusaha selalu berpikir positif dalam menghadapi segala penilaian dengan arif, agar segalanya menjadi mudah untuk dijalani. Untuk itu kami kerja serius dan independen, biarlah waktu yang menjawab keraguan mereka itu,” tambah mantan aktifis PMII itu.

Apalagi dari berbagai informasi yang berembus hingga ke Tim Sembilan, beberapa pihak sudah mulai mempertimbangkan sejumlah nama peserta konvensi untuk dijadikan alternatif dalam kontenasi Pilpres 2024 mendatang. “Ini namanya anomali, komponen kekuatan politik di luar NU aja memperhitungkan terobosan kita ini, masak masih ada elit kita sendiri yang menganggap terobosan ini ‘nothing’,” tepisnya.

Terlepas dari berbagai respon tersebut, menurut Warida Ahmad, Tim Sembilan merasa optimis bahwa persembahan per-khidmatan tim untuk kaum Nahdliyyin itu sudah ‘on the track’. “Sambutan warga NU di bawah sangat bagus kok. Itu artinya mereka punya harapan ke depan. Bahkan pihak luar NU pun merasa kaget dengan terobosan ini” katanya.

Selain merilis hasil polling tahap awal ini, Warida Ahmad juga mengakui bahwa masih ada peluang masuknya nama-nama baru dalam bursa Capres NU 2024. “Nama-nama yang ada ini tidak final karena semuanya juga akan dilihat hasil polling, termasuk munculnya nama-nama baru yang akan meramaikan bursa Capres. Semua itu basis pengambilannya juga dari polling. Soalnya dalam kolom polling itu kita siapkan kolom kosong yang bisa diisi sendiri oleh responden sesuai nama yang mereka pilih,” pungkasnya. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry