SURABAYA | duta.co – Lama, sudah, panitia Musyawarah Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) II 2019 menetapkan logo untuk perhelatan terbesar kedua setelah Muktamar NU. Begitu dishare ke medsos Jumat (28/12/2018) hari ini, komentar nahdliyin pun bermunculan.

“Ini kok kesannya ‘NU rasa PDI-P’. NU sudah meninggalkan warna aslinya, hijau. Turun ke bawah dalam ‘dekapan’ merah, andum slamet Cak!,” demikian disampaikan H Abdurrozaq alias Gus Rozaq, salah seorang warga nahdliyin yang masih dzurriyah muassis NU kepada duta.co, Jumat (28/12/2018).

Lain halnya dengan Gus Wachid, ia menyoroti dominasi warna merah yang mengepung habis logo NU. “Background merah yg ditumpangi logo NU kok gak putih atau hijau strip putih. Kan warga aslinya hijau, itu sejuk dan agamis. Kok merah ya? Jangan-jangan ini bagian dari designing politik ya… tetapi semua tergantu dzon kita. Bismillah kita harus khusnudzdzon saja,” tegasnya.

Yang lucu, ada nahdliyin mengartikan bahwa NU sekarang sudah menguasai PDI-P. “Lha itu, NU sudah di warna merah, sudah lepas dari hijau. NU sudah siap-siap menjadi ashabul qoror (pemanggul kebijakan) bersama PDI-P, lek menang (kalau menang) rek!,” kata Buhadi santri asal Sidoarjo.

“Jangan-jangan ini Konbes dan Munas untuk Pilpres. Aneh dan lucu, selama ini NU khususnya dan Islam hampir tidak pernah memakai warn merah kecuali red cross (bulan sabit merah). Merah itu ahmar dan bisa dikategorikan partai merah,” jelas yang lain.

Seperti diberitakan nu.or.id, Ketua PBNU H Aizzudin Abdurrahman Rabu (9/12) di Gedung PBNU, menjelaskan bahwa logo ini terkait dengan keislaman yang ada di Jawa Barat yang mengalami akulturasi budaya. Berbagai tradisi yang ada menyerap ke dalam cara kebaragamaan masyarakat setempat.

Kubah yang menjadi logo tersebut merupakan simbol masjid yang menunjukkan praktik keberislaman secara terbuka, damai, santun, toleran, memiliki kepercayaan diri yang tinggi sebagai umat Islam dan selalu optimis. Adapun garis kecil yang berada di atas merupakan Islam di nusantara.

Warna hijau di logo merupakan warna kesukaan Nabi Muhammad SAW dan identik dengan NU. Menurut pria yang karib disapa Gus Aiz ini, wajah Islam sering kali terkait dengan warna hijau.

Letak warna hijau ada di luar memiliki makna nilai-nilai religiusitas umat Islam yang menjadi dominan dalam bersikap, bertindak, dan berpikir tidak lepas dari syariat. “Jadi kita itu perilakunya tidak lepas dari syariat,” ucap Gus Aiz yang juga pembuat logo itu.

Sementara warna merah menunjukkan spirit keberislaman. Selain itu dimaknai sebagai serapan dari tradisi akulturasi budaya.

Logo Nahdlatul Ulama sendiri berwarna putih. Menurutnya, putih menjadi identitas bahwa semangat Munas-Konbes NU 2019 memegang prinsip-prinsip ke-NU-an, yakni semua keputusan yang dihasilkan hanya untuk kepentingan NU. Sementara NU tidak bisa dilepaskan dari keberadaan bangsa Indonesia.

“Semua hasil keputusan dikembalikan untuk kepentingan NU. Dan NU tidak bisa dipisahkan dari bangsa ini. Jadi semuanya harus ditundukkan kepada niat,” jelas Gus Ais yang juga sebagai Wakil Ketua Panitia Munas-Konbes NU 2019 ini.

Pada logo itu juga terdapat garis di bawah yang berarti pondasi. Ia mengatakan, satu kesatuan dari logo itu dimaknai sebagai kesiapan dalam menghadapi situasi dan kondisi apa pun.

“Kita betul-betul memegang teguh penuh keyakinan apa yang selama ini kita perjuangkan untuk kepentingan yang lebih luas, yakni untuk umat, bangsa, dan terwujudnya Islam rahmatan lil alamin,” pungkasnya. (nuo,mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.