MALANG | duta.co – Tidak berlebihan, kalau KH Imam Jazuli Lc, MA, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, tamatan Universitas Al-Azhar, Mesir menyebutnya sebagai paket lengkap Muktamar ke-35 NU mendatang. Ialah Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz, akrab disapa Gus Kikin. Dia paling tepat menempati osisi Ketua Umum PBNU menggantikan KH Yahya Cholil Staquf.

“Sehari serasa (KH Abdul Hakim Mahfudz red) serasa menjadi Ketua Umum PBNU. Beliau kupas pentingnya soliditas organisasi, pentingnya mengamalkan nilai-nilai Qonun Asasi. Memang, waktunya kita korektif: sudahkah mengamalkan pokok-pokok pikiran yang dirumuskan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari,” kata seorang panitia kepada duta.co di lokasi GOR Gajayana, Malang saat menyimak sambutan Gus Kikin selaku tuan rumah, Minggu (8/2/26).

Ya! Selaku Ketua PWNU Jawa Timur, Gus Kikin melaporkan rentetan acara. Ia naik podium dengan sambutan gemuruh warga nahdliyin dari berbagai daerah. Gus Kikin melambaikan tangan. “Pagi ini menggambarkan keguyuban, kita mensyukuri perjalanan NU yang telah berusaia 1 abad. Pagi ini, stadion Gajayana (Malang) juga (berumur) 100 tahun pertama, sebuah stadion di Indonesia untuk menjaga persatuan,” tegasnya.

Gus Kikin berterima kasih kepada seluruh warga NU yang sudah berjerih payah datang ke Gajayana. Begitu juga warga Muhammadiyah yang telah menyediakan puluhan ribu bungkus konsumbsi, sekolah-sekolah ikut membuka tempat parkit, Pengurus Gereja pun sampai memggeser kebaktiannya. “Terima kasih seluruh masyarakat Malang. Mohon maaf bila terganggu, mohon maaf atas ketidaknyamanan selama Mujahadah Kubro,” tegasnya.

Cicit Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari ini juga meningatkan pentingnya mengamalkan qonun asasi. Mujahadah ini juga menyambut seruan muassis NU. “Hari ini NU sudah berumur 100 tahun. Ia menjadi organisasi raksasa dengan jumlah anggota 100 juta lebih, terbesar di Indonesia bahkan dunia. Ini anugerah dan amanah yang harus dijaga,” tegasnya.

Kehadiran Presiden Prabowo, tegasnya, bukan sekedar simbolik, melainkan substantif, menyatunya ulama dan umara. Fakta ini memperkuat hubungan tali ke-NU-an. Menyadari bahwa memasuki abad kedua, (bagi NU) menjaga NKRI bukan hal ringan. “Sejak lahir, 1926 ormas ini berdiri di atas prinsip keadilan, keamanan, perdamaian. Organisasi ini terasa manis di mulut orang-orang baik, tetapi terasa sesak di tenggorokan orang-orang yang jahat,” tegasnya,

Menurut Gus Kikin, masih terngiang-ngiang amanat Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Kita disuruh saling menasehati, dakwah yang menyenangkan. Pertanyaa reflektif kita: Sudahkah kita mengamalkan nilai-nilai qonun asasi tersebut?,” tegasnya.

Nah, Mujahadah Kubro 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Malang menjadi momentum penting untuk memperkuat persatuan dan soliditas warga Nahdliyin, khususnya di Jawa Timur, di tengah berbagai dinamika yang sempat mengemuka menjelang peringatan satu abad NU.

Menurutnya, perjalanan menuju Harlah ke-1 Abad NU memang tidak lepas dari dinamika internal. Namun demikian, ia memastikan bahwa NU di Jawa Timur tetap berdiri kokoh dan solid, mulai dari tingkat wilayah hingga akar rumpu “Ini momentum yang sangat penting, satu abad NU itu monumental. Memang ada dinamika, tapi khusus di Jawa Timur kita solid. Ada 45 cabang PCNU dan ke bawah semuanya solid,” ujar Gus Kikin kepada watawan.

Soliditas tersebut, lanjutnya, akan melahirkan gagasan untuk berkumpul dalam satu forum besar melalui Mujahadah Kubro. Kegiatan ini tidak hanya dimaknai sebagai perayaan satu abad NU, tetapi juga sebagai refleksi perjalanan panjang organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu.

Lebih jauh, Gus Kikin menilai dinamika yang muncul justru membuat peringatan satu abad NU semakin bermakna. Momentum tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat ukhuwah, yang dalam tradisi NU memiliki makna lebih dalam dibanding sekadar persatuan formal. “Ini jadi menarik. Persatuan dan membangun ukhuwah itu sudah dilakukan NU sejak dulu. Ukhuwah itu lebih dari persatuan,” tuturnya.

Paket Lengkap

KH Imam Jazuli Lc., MA menyebut Gus Kikin adalah aset besar NU. Dalam diskursus kepemimpinan PBNU, nama KH. Abdul Hakim Mahfudz( Gus Kikin), mencuat sebagai sosok yang dinilai layak memimpin organisasi tersebut menjelang Muktamar ke 35. Tentu saja, kelayakan tersebut didasarkan pada kombinasi unik antara faktor nasab (keturunan), rekam jejak kepemimpinan, kemandirian finansial, dan pengalaman organisatoris yang matang.

Pertama, soal nasab. Beliau adalah Cicit Pendiri NU (Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari). Faktor nasab memiliki nilai historis dan spiritual yang signifikan dalam tradisi pesantren dan NU. Gus Kikin adalah cicit dari Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng dan pendiri Nahdlatul Ulama.

Hubungan darah ini bukan sekadar klaim silsilah, melainkan representasi dari kesinambungan perjuangan dan pemikiran para muassis (pendiri) NU. Kepemimpinan yang bersandar pada nasab sering kali dianggap membawa barokah dan legitimasi moral yang kuat di mata warga Nahdliyin, terutama di akar rumput.

“Gus Kikin sering mengisahkan perjuangan Mbah Hasyim dalam mendirikan pesantren dan kepeduliannya terhadap rakyat kecil, menunjukkan pemahaman mendalam akan spirit awal pendirian organisasi. Warisan spiritual ini menjadi modal sosial yang tak ternilai untuk mempersatukan elemen-elemen di NU yang beragam,” katanya.

Kedua, sosok yang selesai dengan diri sendiri. Mandiri Finansial dan Pengusaha Sukses. Ini salah satu argumen terkuat yang mendukung kelayakan Gus Kikin adalah statusnya sebagai pribadi yang telah “selesai dengan diri sendiri” dalam aspek material. Dikenal sebagai ulama sekaligus pebisnis atau pengusaha, Gus Kikin tidak memiliki ketergantungan ekonomi yang dapat memengaruhi kebijakan organisasinya.

Ketiga, Pengasuh Pesantren Tebuireng, Ini Benteng Tradisi dan Intelektualitas. Gus Kikin saat ini merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, sebuah institusi pendidikan Islam yang monumental dan menjadi salah satu pusat rujukan utama dalam keilmuan NU. Peran sebagai pengasuh pesantren tidak hanya berarti mengelola institusi pendidikan, tetapi juga memegang peran sentral dalam menjaga tradisi keilmuan, mencetak kader ulama, dan merawat karakter santri.

“Kepemimpinan di Tebuireng menunjukkan kapasitas manajerial dan spiritual Gus Kikin dalam skala besar. Dari sinilah beliau mengajak para santri untuk menyiapkan diri menuju Indonesia Jaya 2045, menunjukkan visi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter dan berakhlakul karimah,” tegasnya.

Keempat, Ketua PWNU Jatim, Rekam Jejak Kepemimpinan Organisasi yang Teruji. Dalam struktur organisasi NU, Gus Kikin juga memiliki pengalaman nyata di tingkat wilayah. Beliau menjabat sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, posisi strategis mengingat Jatim adalah basis massa NU terbesar.

Awalnya ditunjuk sebagai Pejabat (Pj) Ketua PWNU Jatim oleh PBNU untuk mengisi masa transisi dan menyelesaikan konflik internal, Gus Kikin berhasil menjalankan roda organisasi dan kemudian terpilih secara definitif. “Pengalaman ini membuktikan kemampuannya dalam menjembatani berbagai faksi dan meredam dinamika internal di wilayah yang kompleks, juga bisa menata kembali struktur dan memastikan program kerja berjalan efektif,” pungkasnya. (leh)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry