“Ingat! Para santri itu meninggalkan rumah bertujuan untuk belajar, mengaji lalu mengabdi, bukan untuk kepentingan Pilpres”

Oleh: KH Nur Maymoun KH Thoha*

ADA dua kisah dari makam Almaghfurlah Mbah Bisri (KH Bisri Syansuri) salah satu muassis Nahdlatul Ulama yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Manbaul Maarif, Denanyar, Jombang.

Pertama, ketika sedang berlangsung Muktamar ke-33 NU di Alun-Alun Jombang. Wakila, dikisahkan bahwa ketiga makam muassis NU di Jombang (Mbah Bisri, Mbah Hasyim dan Mbah Wahab) itu kosong. Beliau-beliau ‘meninggalkan’ Jombang karena tidak berkenan melihat jalannya Muktamar NU yang karut marut.

Kedua, makam Mbah Bisri kembali menjadi perbincangan, setelah video Cawapres Sandiaga S Uno melangkahi makamnya yang, diviralkan melalui media sosial. Sandi buru-buru minta maaf, sampai tiga kali ia lakukan itu. Lebih dari cukup untuk sebuah kekhilafan melangkahi makam.

Mbah Bisri (bisa jadi) tersenyum. Karena kemungkinan Mbah Bisri tidak sedang berbaring di situ. Kemungkinan Mbah Bisri sedang duduk menyambut tamunya. Atau seperti saat muktamar ke-33 NU, Mbah Bisri bersama Mbah Wahab dan Mbah Hasyim yang memilih pergi ke Makkah Almukarramah ketimbang menunggui muktamar NU tersebut. Menyaksikan Sandi berkali-kali minta maaf, barangkali Mbah Bisri tersenyum simpul.

Masih soal makam. Suatu ketika, Gus Dur mengajak ziarah ke Makam Sunan Ampel, di Surabaya. Sebelum masuk area makam, Gus Dur mengajak ngopi dulu, melepas kantuk. Setelah ngopi, Gus Dur langsung berdiri, dan mengajak pulang. Karuan semua kaget.

“Kok pulang Gus? Bukankah mau nyekar Mbah Sunan Ampel?,” demikian pertanyaan yang muncul.

Dengan entengnya Gus Dur menjawab: “Mbah Sunan Ampel baru saja pergi,” jawabnya. Walhasil, semua yang ikut rombongan Gus Dur manthuk-manthuk. Baru sadar, bahwa, mayoritas dari kita tidak mampu membaca apa yang ada di dalam makam.

Hukum Melangkahi Makam

Ada hikmah luar biasa dari kekhialafan Sandiaga S Uno. Dengan itu kita bisa membetulkan keyakinan yang, selama ini cenderung keliru. Jumhur ulama memberikan hukum ‘makruf’ melangkahi makam, sama dengan merokok. Bahasa santri, makruh itu kalau dilakukan tidak berdosa, kalau ditinggalkan berpahala. Ini bagian dari adab ziarah kubur.

Adab lain, kita tidak boleh menyembah makam, atau mengagung-agungkan makam. Kalau kita menyembah makam, hukumnya haram, syirik. Ini selalu disampaikan ketua rombongan ziarah wali songo misalnya, kepada para jamaahnya.

Karena itu, santri tidak perlu marah, demo, unjukrasa melihat video Sandiaga S Uno. Apalagi Sandi sudah berkali-kali minta maaf. Kita justru sedih kalau sampai santri dibuat alat untuk kepentingan politik praktis. Ingat! Para santri itu meninggalkan rumah bertujuan untuk belajar, mengaji lalu mengabdi, bukan untuk kepentingan Pilpres. Semoga anak-anakku, para santri diberikan kemudahan dalam belajar. Amin. Dan untuk Mbah Bisri, Mbah Hasyim, Mbah Wahab dan seluruh muassis NU, Lahumulfaatihah! (*)

*KH Nur Maymoun KH Thoha adalah pimpinan yayasan Miftahul Ulum, disampaikan kepada Mokhammad Kaiyis, wartawan duta.co dalam perjalanan menuju halaqah II Komite Khitthah di Jombang.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.