Keterangan foto nu.or.id

SURABAYA | duta.co – Video ngaji Gus Baha di PBNU, Rabu 25 September 2019 yang diunggah akun ‘Kalam-Kajian Islam’, sampai pagi ini Kamis (17/10/2019), masih berputar-putar di grup WA. Judulnya biasa: Islam Dijaga Langsung Oleh Allah bukan Organisasi atau Ulama.

Video ini tayang sejak 26 September 2019. Kini sudah ditonton 735.103 orang, serta puluhan ribu pemirsa yang sudah mengacungkan tanda jempol.

Belum ada satu menit Gus Baha alias KH Ahmad Bahauddin putra Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Alquran di Kragan, Narukan, Rembang, ini memegang mic, ia sudah memberikan kritik tajamnya.

“Saya ke sini ini, sebetulnya tidak pernah merasa ibadah. Ini bukan dakwah, ini show dakwah. Jadi, yang namanya dakwah itu, ya.. orang-orang di kampung yang tidak bisa ngaji diajari ngaji. Seperti saya di Jogya, Rembang. Kalau ini, show (pertunjukan red.) dakwah,” jelas Gus Baha disambut tawa lepas para hadirin.

Gus Baha lalu menjelaskan, bahwa, yang benar-benar dakwah itu, (mungkin) mereka yang sekarang sedang sibuk membangun masjid di padalaman. Seperti pedalaman Kalimantan, Sulawesi atau saudara-saudara kita (TKI red.) yang ada di Korea. “Saya kemarin ada di Korea, mereka itu dakwah betul,” jelasnya.

“Kalau ini agak tontonan. Tetapi, ya… masih baguslah! Karena bisa melihat wajahnya para habaib, ulama. Melihat wajah ulama itu, ibadah. Tetapi, saya berharap, diundang (seperti ini red.) sekali saja. Jangan diulang. Karena mencintai ulama itu, baik. Tetapi mengatur ulama itu, dosa. Ini harus dicatat!” tambah Gus Baha disambut gelak tawa, sambil melihat posisi duduk Ketua Lembaga Dakwah PBNU, KH Maman Imanul Haq.

Lelaki yang selalu tampil sederhana ini, kemudian membeber kisah (serius) tentang kedudukan ilmu. “Imam Malik, kalau diundang, itu marah. Meski pun yang mengundang (waktu itu) seorang raja. Zaman itu: Harun Alrasyid. (Saat itu) beliau minta agar Imam Malik membaca al-Muwaththo’ di istana untuk anak-anaknya.”

Padahal, (ini) seorang presiden yang (ingin) mengajari anak-anaknya. Imam Malik marah, masyhur ini. Al-ilmu yukta la yakti. Ilmu itu disowani, bukan ilmu yang sowan. “Di mana-mana timba itu ke sumur. Apa sumur yang ke timba? “ tanya Gus Baha.

“Timba ke sumur. Ini (ngaji), agak kecelakaan,” tegas Gus Baha disambut tawa lepas jamaah.

Gus Baha kemudian menyebut soal SK (Surat Keputusan) PBNU yang baru saja mengangkatnya sebagai Rais Syuriah. “Saya, kata orang banyak, itu di-SK-kan PBNU. Tapi, itu tidak pernah saya pikir. Karena saya melakukan kebaikan itu, sebelum dapat SK. Saya ngajar sebelum dapat SK, saya dakwah di mana-mana sebelum dapat SK. SK saya langsung minallahi taala, dari Allah taala.” tegasnya.

“Jadi, kalau PBNU niatnya ikrar, orang yang sudah manfaat, lalu diangkat. Itu saya terima. Tetapi, kalau merasa ngangkat saya, saya akan lawan di pengadilan. Karena saya sudah menjadi kiai sebelum diangkat PBNU. Ya! Ini, saksikan para muhibbin saya,” jelas Gus Baha sambil tertawa.

“Jadi, kalau SK itu ikrar, ngakui kalau Gus Baha manfaat, itu saya terima. Karena hanya ikrar saja. Tetapi kalau merasa ngangkat dari bawah ke atas, itu tak lawan (saya lawan red.) sampai pengadilan, sampai di akhirat. Tersangkanya ya…, yang sedang menjabat (PBNU) sekarang ini,” jelasnya sambil tertawa.

“Tetapi saya yakin, ndak. Karena Kiai Miftachul Akhyar (Pj Rais Aam PBNU red) itu orang alim, alumni Sidogiri. Diantara gurunya itu, mbah mertua saya. Karena istri saya dari Sidogiri. Beliau juga besanan dengan keluarga Lasem. Saya ini dzurriyah Lasem. Pak Said Aqil juga orang alim. Baru kemarin nyocokkan nasab sama saya. Buyut-buyutnya beliau, itu adik buyut saya.”

“Pernah cocokan sama saya: Gus, kamu sama saya tua mana? Saya jawab: tua saya. Buyut-buyut kamu itu, adik buyut saya. Tetapi, saya tetap hormat sama beliau, karena ya pernah sepuh,” jelasnya dalam prolog ngaji yang disambut tawa hadirin. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry