Azzahra Nur Tsurayya bersama kepala sekolah SD Khadijah Pendegiling, Suhadi di sela wisuda Alquran di Yayasan Khadijah Wonokromo, Sabtu (23/3). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Malu-malu Azzahra Nur Tsurayya saat mendapat ucapan selamat dari para guru usai mendapatkan nilai seratus saat tes bacaan Alquran.

Tes bacaan Alquran dalam acara wisuda Alquran yang digelar di lapangan Yayasan Taman Pendidikan dan Anak Yatim Nahdlatul Ulama Khadijah (Yayasan Khadijah), Sabtu (23/3).

Dia juga malu-malu ketika ditanya nama dan sekolahnya. Pelan dia manjawab namanya. “Rayya kelas 1 SD Khadijah Pandegiling,” ujarnya pelan.

Anak terakhir dari tiga bersaudara pasangan Erwin Wahyuningsih dan Ahmad Arsal Gufron ini patut diacungi jempol. Prestadi dalam membaca Alquran tidak perlu diragukan lagi.

Bahkan saat tampil di hadapan penguji dalam wisuda Alquran seluruh siswa Yayasan Khadijah mulai TK, SD, SMP dan SMA, Rayya percaya diri.

Kepercayaan dirinya itu yang membawanya meraih nilai 100 dari para penilai. “Senang sekali,” ucapnya singkat ketika ditanya perasaannya mendapat nilai 100.

Mendapatkan nilai sempurna untuk siswa dalam bacaan Alquran di ajang seperti itu memang baru pertama kali ini didapat siswa SD kelas satu.

Apalagi, yang diwisuda untuk tahun ini mencapai 448 siswa dari berbagai jenjang pendidikan yang ada di Yayasan Khadijah.

“Ini prestasi ya bagi kita juga bagi Rayya. Karena dia sudah mencatatkan diri sebagai yang terbaik dari bacaan Alqurannya 30 juz. Di depan penilai dia tampil percaya diri,” ujar Sekretaris Yayasan Khadijah, Mohammad Iqbal.

Kepala Sekolah SD Khadijah Pandegiling, Suhadi mengakui Rayya memang termasuk anak yang rajin. Keinginannya sangat teguh untuk bisa menjadi penghafal Alquran.

“Saat ini dia sedang dalam taraf menghafal. Kalau sudah bacaannya bagus, menuju hafalan lebih gampang,” tandas Suhadi.

Dikatakan Suhadi, selama ini Rayya tidak hanya belajar baca Alquran di sekolah. Tapi juga di rumahnya.

“Kata orang tuanya sih begitu. Walau di sekolah sudah banyak belajar tapi masih kurang katanya. Jadi orang tuanya memasukkannya di TPQ dekat rumahnya,” tandas Suhadi.

Apa yang dicapai Rayya ini memang tidak boleh dianggap remeh. Karena dari 448 siswa yang diwisuda itu, sudah melalui serangkaian tes. Dikatakan Mohammad Iqbal, tesnya berlapis—lapis.

Tidak hanya di gurunya tapi sampai ke pengasuh pondok pesantren Ilmu Alquran Singosari Malang, KH. M. Basori Alwi Murtadlo.

Siswa yang akan menghadapi tes bacaan Alquran ini dibina 99 guru yang tersebar di 10 sekolah yang berada di bawah Yayasan Khadijah.

Setiap hari, 4 ribu siswa Khadijah itu mengaji di jam pertama sekolah. Dalam tiga bulan, ada tes-tes tertentu untuk kenaikan tingkat yang dilakukan para guru atau pembimbing,

Setelah satu tahun, siswa akan dites dari PIQ Singosari untuk menentukan apakah bisa lulus mendapatkan ijazah atau tidak.

“Kita ingin anak-anak itu benar dalam membaca Alquran, walau lidah mereka berasal dari berbagai daerah. Makanya kita harus gandeng pihak lain dalam hal ini PIQ Singosari yang menurut kami masih yang terbaik,” jelas Iqbal.

Untuk menentukan kelulusan siswa ini, pihak PIQ Singosari yang menentukan. Sehingga siapapun bisa untuk menjadi yang terbaik, berhak untuk lulus dan tidak lulus.

“Bisa yang kecil yang berprestasi, bisa yang besar yang tidak lulus, semua bisa mungkin terjadi,” tuturnya.

Rayya sebagai peserta terkecil yang berprestasi, panitia dari wisuda Alquran ini sudah menyiapkan hadiah kejutan untuk dia. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry