Perwakilan alumni angkatan 1997 memberikan emas batangan kepada Ana Manuafra di sela reuni akbar angkatan 1997 di aula SMA Santa Maria Surabaya, Sabtu (11/5). DUTA/istimewa

SURABAYA | duta.co – Ana Manuafra memang sudah tidak muda lagi. Bahkan di usia 77 tahun dia bersyukur masih bisa menginjakkan kaki lagi di SMA Santa Maria Surabaya, Sabtu (11/5). Tidak sendiri, dia bertemu guru-guru seangkatan dan juga yang berada di bawah tingkatnya.

Ana berbaur, walau sudah tidak bisa lagi bersenang-senang dengan guru lain yang masih muda dan siswa-siswinya angkatan 1997 yang saat itu menggelar reuni. Ana hanya duduk menyaksikan semua yang hadir bergembira.

Walau hanya duduk, raut muka Ana nampak bahagia. “Sebenarnya saya sudah lupa murid-murid saya  yang mana. Tapi saya senang bisa bertemu anak didik saya saat mereka sudah dewasa,” ungkap wanita berambut putih ini sambil sesekali memandangi sejumlah alumnus yang berseragam kaos kuning.

Ana Manuafra (kiri) menunjukkan emas batangan yang diterimanya. DUTA/istimewa

Ana semakin bahagia saat dia dan 36 teman lainnya diberi apresiasi berupa emas batangan murni dari para siswanya. “Senang, mereka masih menghargai kami gurunya dulu,” tukasnya.

Ana memang tidak menyangka mendapatkan emas batangan. Diakuinya biasanya dia hanya mendapat kado berupa baju atau sembako. “Senang, terima kasih,” ungkapnya.

Hal senada diungkapkan Sumarso (79). Guru yang sempat mengajar Ekonomi Akuntansi di SMA Sanmar menambahkan para murid di tahun 1997 menurutnya sama seperti siswa pada umumnya. Bisa berkumpul dengan siswa kembali menurutnya kesempatan yang langka di usia pensiunnya ini.

“Saya kaget dapat emas, istri saya pastinya ikut senang di rumah. Mungkin akan saya simpan dulu,”ungkap guru yang pensiun di tahun 2006 ini.

Dalam kesempatan reuni akbar ini, para guru tak hanya diberi batangan emas, sejunlah guru yang berkesan sebagai guru killer, guru favorit dan guru tersabar juga diberi apresiasi oleh para alumni.

Franklyn Gondo Siswanto (37), ketua panitia mengungkapkan ide memberikan emas batangan ini muncul sebagai bentuk apresiasi yang spesial pada pengajar mereka.

Pasalnya selama ini para alumni belum sepat memberi cenderamata yang berkesan bagi para pengajar mereka.

“Kami buka donasi yang diikuti sekitar 100 alumni dari sekitar 300 lulusan tahun 2000,” ungkap pria yang dulunya merupakan siswa IPS ini.

Donasi berkisar Rp 350 ribu hingga Rp 450 ribu ini dikumpulkan untuk membelikan emas batangan pada 37 guru yang berhasil ditemukan para alumni.

“Kami cari alamat dan kontaknya, melalui whatsapp juga. Memang tidak semua guru  yang mengajar angkatan kami yang datang, ada dari mereka yang sudah meninggal,”urainya.

Kegiatan reuni akbar angkatan 1997 lulusan tahun 2000 ini merupakan reuni pertama yang digelar setelah setahun berkomunikasi intens melalui Whatsapp.

“Sejak lulus belum pernah ada pertemuan dengan teman seangkatan. Kami kaget juga kok kumpulnya malah di adi jasa saat ada teman kami yang meninggal bukan reuni, makanya kami adakan reuni ini,”lanjutnya.

Ke depan,dari data alumnus yang hadir dalam reuni ini akan didaftar pekerjaannya dan domisilinya. Kemudian akan dibuat networking agar tidak berhenti dalam pertemuan ini. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.